Falling In Love With You

Falling In Love With You
Di introgasi


__ADS_3

Saat masuk kedalam rumahnya, Silvia mendapat tatapan dari kakaknya, dia hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar dan berjalan menghampiri keluarganya.


Sepertinya dia akan mendapat beberapa pertanyaan dari keluarganya tapi dia juga tidak menyangka jika Abraham akan datang kesana dan mencarinya.


Dia sangat yakin jika Dave tidak mungkin memberi tahukan keberadaannya kepada Abraham, dia sangat yakin akan hal itu.


Sepertinya dia harus menanyakan hal ini pada Abraham, kenapa bisa tahu rumahnya?


"Jelaskan padaku, siapa dia dan dimana kau mengenalnya?" tanya Jhon pada adiknya.


"Aku mengenalnya sewaktu di Australia kak."


"Jangan berbohong, kau pergi kesana tidak lama tapi dia sudah berani datang mencarimu dan mengaku sebagai pacarmu jadi jelaskan padaku siapa dia!"


Silvia kembali menarik nafasnya dengan berat, sudah bisa dia tebak, pasti dia akan di introgasi lagi seperti dulu saat pertama kali dia pacaran.


Pacar pertamanya lari ketakutan saat mengetahui siapa keluarganya dan ketakutan saat diancam oleh kakaknya.


"Nasib!" katanya dalam hati.


"Kenapa kau diam saja?" Jhon mulai tampak kesal karena adiknya diam saja.


"Kak, aku memang mengenalnya di Australia, walaupun aku tidak lama disana tapi kami sangat akrab."


"Oh aku sangat ingin mendengarnya, seakrab apa kalian?"


"Oh astaga kakak!" Silvia hendak bangkit berdiri tapi Jhon menahannya, dia belum selesai mengintrogasi adiknya.


Dia tidak mau adiknya berhubungan dengan orang yang tidak jelas bahkan penakut seperti pria dulu yang mendekati adiknya, pria yang ingin berhubungan dengan adiknya haruslah pria pemberani.


Apalagi untuk seorang pria yang baru adiknya kenal tapi sudah berani datang dan mengaku sebagai pacar adiknya? Dia sungguh ingin tahu, apa tujuan pria itu.


"Silvia, duduk sini sayang, ceritakan pada kami siapa pria itu?" pinta ibunya dengan lembut.


Silvia mengangguk dan kembali duduk sambil memaki dalam hati:


"Abraham sialan, awas saja dia!"


"Ayo ceritakan pada kami dia siapamu? Kenapa sampai datang dari Australia kemari untuk mencarimu?" tanya ibunya lagi.


"Mom, aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa."


"Lalu kenapa dia berani datang dari jauh hanya untuk mencarimu?" tanya Jhon.


"Oh my God kakak, aku juga tidak tahu.Jika kalian sangat ingin tahu apa tujuannya datang dari Australia kemari untuk mencariku maka besok tanyakan padanya karena besok dia akan kembali lagi!"


"Jadi besok dia akan datang lagi?" tanya ibunya.


"Ya dia bilang begitu karena ada yang ingin dia bicarakan padaku jadi kalian bisa tanyakan padanya apa tujuannya datang kemari."


"Siapa namanya sayang?"

__ADS_1


"Abraham, Abraham Achilles."


Saat mendengarnya Michael Smith tampak mengernyitkan dahinya, Achhiles? Rasanya tidak asing tapi tidak lama kemudian dia langsung ingat dengan Monica, teman lamanya yang ada disana sewaktu dia masih tinggal disana.


Memang mereka tidak begitu Akrab tapi dia masih ingat dengan wanita itu,dia tidak menyangka ternyata putrinya bisa mengenal putra Monica teman lamanya.


"Abraham Achilles, apa ibunya bernama Monica?" tanyanya.


"Benar, apa daddy masih ingat dengannya? Aunty Monica juga menanyakan kabar daddy padaku."


"Yah, tentu saja aku ingat, bagaimana kau bisa mengenal putranya?"


"Hanya kebetulan dad dan tanpa kami sadari kami jadi akrab."


"Hmm..!!" Jhon berdehem untuk menyela pembicaraan ayah dan adiknya.


"Biarpun daddy mengenal ibunya tapi kami tidak akan menyetujui hubungan kalian dengan mudah!"


"Hubungan apa sih kak? Sudah aku katakan aku dan dia tidak punya hubungan apa-apa!"


"Kita lihat saja besok!"


Jhon segera bangkit berdiri dan berjalan kearah kamar dimana Samantha sedang membawa kedua putranya untuk tidur.


"Mom, dad, malam ini aku mau menginap!" ujarnya sebelum dia melangkah pergi.


"Ck, kakak menyebalkan!" gerutu Silvia kesal.


"Sudahlah sayang, itu tandanya kakakmu sangat menyayangimu. Dia tidak mau kau salah memilih pria begitu juga dengan kami, jadi jangan marah pada kakakmu." ujar ibunya.


"Silvia sayang."


"Yes mom."


"Apa pria ini sudah tahu latar belakang keluarga kita?"


"Belum."


"Sebaiknya kau beritahu dia sebelum besok dia datang, jangan sampai saat dia tahu dia langsung katakutan seperti pacarmu dulu."


Silvia tampak berpikir, benar! Saat Abraham tahu bahwa keluarganya adalah mafia apa besok Abraham masih berani datang untuk menemuinya? Atau Abraham tidak punya nyali lagi untuk datang.


Mungkin sebaiknya dia memberitahukan hal ini pada Abraham, dia masih memiliki nomor ponselnya karena dia belum menghapusnya.


Dia juga ingin tahu reaksi Abraham saat sudah tahu latar belakang keluarganya. Apa pria itu masih berani mencarinya lagi?


Silvia bangkit berdiri, dia akan menghubungi Abraham saat ini juga dan mengatakan semuanya.


"Mom, dad, aku mau kekamar dulu."


Dia segera melangkah pergi masuk kedalam kamarnya, didalam sana yang pertama kali dia cari adalah ponselnya.

__ADS_1


Silvia mencari nama Abraham dari layar ponselnya, tidak butuh waktu lama untuk menentukan nama pria itu dan dia segera menghubunginya.


Saat mendengar ponselnya berbunyi Abraham langsung menjawabnya, dia sedang berjalan menuju kamar hotel dimana dia akan menginap malam ini.


"Siapa?" dia bertanya dengan dingin karena dia tidak tahu siapa yang menghubunginya.


"Ini aku." jawab Silvia dari sebrang sana.


Abraham langsung tampak senang, Silvia. Dia benar-benar tidak menyangka Silvia akan menghubunginya.


"Apa ini nomor ponsel barumu?"


"Ng ya, dimana kau sekarang?" tanya Silvia basa basi.


"Aku dihotel, tidak mungkin bukan aku tidur dijalanan atau menginap dirumahmu dan tidur denganmu." godanya.


"Jangan asal bicara kalau tidak mau mati ditangan kakakku!"


Abraham terkekeh dan masuk kedalam kamarnya, dia segera meletakkan kunci kamar pada tempatnya hingga semua lampu yang berada didalam kamar menyala semuanya.


"Hei kenapa kau bisa tahu tempat tinggalku?" tanya Silvia penasaran.


"Ya, sebuah kartu yang aku ambil dari tasmu membantuku dan memberiku petunjuk untuk menemukanmu."


"Kartu?" Silvia mengernyitkan dahinya, jangan-jangan!


"Jangan-jangan kau yang mengambil kartu identitasku!"


"Ya benar, maafkan aku karena telah mengambil benda itu dari tasmu."


"Oh Astaga, kau benar-benar menyebalkan! Aku mencari benda itu kemana-mana tapi ternyata ada padamu!"


"Jangan salahkan aku, kau tidak mau memberitahu aku siapa kau sebenarnya jadi aku terpaksa melakukan hal ini!"


Silvia diam saja, bagaimana jika Abraham mengetahui siapa keluarganya, apa besok dia masih berani datang? Dia ingin tahu!


"Apa kau sangat ingin tahu siapa aku dan siapa keluargaku?"


"Tentu saja, jadi kau ingin memberi tahu aku sekarang, eh? Setelah aku bersusah payah mencari tahu siapa dirimu."


"Kau tidak akan mudah mencari tahu mengenai siapa aku dan keluargaku Abraham."


"Oh ya, kenapa bisa begitu?"


"Asal kau tahu, identitas kami tidak akan ditemukan dengan mudah karena keluargaku adalah mafia!"


Abraham sangat kaget mendengarnya bahkan ponselnya hampir jatuh dari pegangan tangannya.


Mafia? Apa dia tidak salah dengar?


"Jadi Abraham, sebaiknya kau pikirkan lagi apakah besok kau jadi datang menemuiku atau tidak karena besok kau harus berhadapan dengan kakak dan ayahku."

__ADS_1


Setelah berkata demikian Silvia Segera mematikan ponselnya sedangkan Abraham diam saja, jadi ternyata Silvia putri seorang mafia? Pantas saja Silvia begitu berani!


Tapi jangan remehkan dirinya, sudah datang sejauh ini mana mungkin dia akan menyerah, mau anak mafia atau anak presiden dia tidak akan takut untuk menghadapinya.


__ADS_2