Falling In Love With You

Falling In Love With You
Bagaimana dengan pancinya?


__ADS_3

Setelah selesai berbelanja mereka segera kembali kerumah Abraham, saat itu hari sudah sore.


Mereka menghabiskan waktu disupermarket sampai mereka berdua lupa waktu, mereka memutuskan kembali setelah mereka menyadari jika ibu Abraham menunggu mereka.


Saat mereka tiba, Silvia segera keluar dari mobil Abraham, dia segera berjalan kearah bagasi mobil untuk mengambil belanjaan mereka.


Abraham menahan tangan Silvia saat dia hendak mengangkat kantong belanjaan yang ada didalam bagasi.


"Kau masuk saja kedalam, biar aku yang membawanya."


"Tidak apa-apa, ini tidak berat." Silvia mengangkat sekantong barang belanjaan mereka.


"Sudahlah, letakkan saja. Biarkan aku yang membawanya." ujar Abraham.


"Baiklah, jika itu keinginanmu. Kau bisa membawa semua ini dan aku tidak mau merebut bagianmu."


Silvia meletakkan kantong belanjaan itu kembali dan tersenyum dengan manis, setelah itu dia melangkah memasuki rumah Abraham.


Abraham melihat kepergian Silvia dengan senyum diwajahnya, dia segera mengambil barang-barang belanjaan mereka dan membawanya masuk kedalam rumahnya.


Didalam sana, Monica sudah menunggu mereka dengan tidak sabarnya dan pada saat melihat Silvia masuk kedalam, Monica langsung tampak senang.


Dia kira Silvia tidak jadi datang untuk membuat makanan bersamanya, tapi ternyata Silvia datang juga dan dia benar-benar senang.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanyanya.


"Maaf mom, kami terlalu bersemangat membeli bahan makanan." jawab Silvia.


"Benarkah?"


Monica melihat kearah putranya yang masuk kedalam rumah sambil membawa barang-barang belanjaan mereka.


Dia melihat putranya dengan curiga, apalagi wajah Abraham tampak begitu senang saat itu.


"Benar, maaf jika membuat mommy menunggu lama." ujar Silvia tidak enak hati.


"Tidak apa-apa sayang, apa kalian menikmati waktu kalian berdua?"


"Hmm..tentu saja, aku selalu menikmati waktuku."


"Itu bagus, jadi makanan apa yang akan kita buat hari ini?"


Monica menggandeng tangan Silvia dan mengajaknya kebelakang, setelah meletakkan tasnya, Silvia mengikuti langkah ibu Abraham untuk masuk kedalam dapur dimana barang-barang yang dibawa oleh Abraham sudah berada diatas meja.


Silvia segera mencuci tangannya setelah itu dia mulai membuka plastik yang ada diatas meja dan mengeluarkan isinya satu persatu.

__ADS_1


Monica duduk dimeja makan, memperhatikan Silvia, dia jadi penasaran bagaimana kabar ayah Silvia.


"Silvia, bagaimana kabar ayahmu?"


Silvia menghentikan pekerjaannya dan menatap ibu Abraham, apa ibu Abraham mengenal ayahnya?


"Kabar daddy baik, apa mommy mengenal daddy?"


"Oh sayang, tentu saja aku mengenalnya tapi kami tidak terlalu akrab."


"Benarkah?"


"Ya, aku tidak tahu dia masih ingat denganku atau tidak, tapi dulu kami pernah bertemu beberapa kali."


"Oh ya? Wah aku akan menanyakan hal ini pada daddy, jangan-jangan kalian berdua pernah pacaran dulu." goda Silvia.


"Ha..ha..ha..ha.!" ibu Abraham langsung tertawa.


"Tidak sayang, kami tidak pernah pacaran. Memang sih ayahmu dulu digandrungi oleh banyak wanita. Dia sangat tampan dan juga kaya raya, hampir semua wanita yang ada dikota ini ingin menjadi pacarnya tapi sayang dia sudah punya tunangan."


"Memang setiap bertemu dengannya, aku juga terbius dengan wajah tampan dan mata birunya yang tajam. Tapi sayang ayahmu pindah ke China untuk membangun bisnis disana dan tidak lama kemudian kabar tentang pernikahannya dengan seorang wanita China langsung tersebar luas dan pada saat yang bersamaan kabar tentang meninggalnya Ellen Smith juga tersebar luas, kau tahu pada saat itu banyak wanita yang langsung patah hati."


Silvia langsung tertawa, ternyata ayahnya begitu populer, dia jadi ingin tahu kenapa ayahnya bisa menikah dengan ibunya? Mungkin saat dia kembali ke Amerika dia harus menanyakan hal ini pada ibunya.


"Yah, kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan bertemu jodoh kita, bisa saja kita bertemu dengannya secara kebetulan tapi ternyata itulah jodoh kita." ujar Silvia.


"Maksud mommy?"


"Seperti perkataanmu sayang, kita bisa bertemu jodoh kita dimanapun dan bagaimana jika kalian berjodoh?"


Silvia tampak tersipu malu dan memutar langkahnya, dia berjalan kearah pencuci piring dengan beberapa bahan makanan ditangannya.


Abraham adalah jodohnya? Dia tidak pernah memikirkan hal ini apalagi mereka baru saja mulai dekat.


"Entahlah mom, jika kami memang berjodoh maka kami akan berjodoh tapi jika tidak, aku juga tidak bisa melakukan apapun."


"Kau sangat benar sayang, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk menjadi jodoh kita tapi aku sangat berharap kalian bisa berjodoh."


Silvia tersenyum dan mencuci bahan makanan yang hendak dia olah, selama ini dia tidak pernah memikirkan masalah jodoh karena dia menikmati hidupnya.


Bisa pergi kemana saja dan bisa melakukan apa saja tanpa ada yang melarang dirinya, dia terlalu menikmati kebebasannya tanpa ada yang mengekangnya jadi dia belum berpikir untuk mencari pasangan hidup.


Jika Abraham adalah jodohnya maka Abraham harus mengijinkannya kembali ke Amerika kapanpun dia mau, tapi dia merasa, mereka berdua tidak mungkin memiliki hubungan yang spesial.


Pada saat itu Abraham masuk kedalam dapur, dia baru selesai mandi. Dia menghampiri ibunya dan berkata:

__ADS_1


"Mom, ibu Jenny mencarimu."


"Mana? Apa dia datang?"


"Tidak, dia sedang menunggumu ditelephone jadi sana mommy segera jawab panggilan telephonenya."


"Ck mau apa lagi sih?" Monica bangkit berdiri dan mengerutu kesal.


"Palingan mau protes karena putrinya aku jadikan cleaning service dikantor." ujar Abraham malas.


Monica tampak sedikit kaget tapi kemudian dia berkata:


"Kau menjadikan Jenny sebagai cleaning service?"


"Benar, itu posisi yang bagus untuk seseorang yang mau belajar."


"Wow, mommy suka gayamu boy." ujar Monica bangga.


Setelah kepergian ibunya Abraham segera mendekati Silvia yang tampak sedang berjongkok didepan lemari untuk mencari sesuatu didalam sana, entah apa yang sedang dicari oleh Silvia tapi dia tampak begitu serius.


"Hei apa yang kau cari?"


Silvia segera bangkit berdiri dan melihati Abraham yang berdiri disampingnya.


"Biasa, aku sedang mencari pancimu!"


Tiba-tiba saja Abraham menggendong tubuh Silvia dan mengangkatnya, Silvia sangat kaget dan mengcengkram kedua bahu Abraham dengan erat.


"Hei mau apa kau?"


"Kau mau mencari panci bukan? Maka carilah diatas sana!"


"Oh." Silvia melihat kearah lemari.


"Tapi kau tidak perlu menggendongku bukan?"


"Kau itu pendek, jika aku tidak menggendongmu maka kau tidak akan bisa mengambil pancinya."


"Ck, kau menyebalkan!" gerutu Silvia kesal.


Abraham terkekeh pelan dan pada saat itu Silvia melihatnya dengan senyum diwajahnya, Abraham terdiam, dia juga mulai melihati Wajah Silvia.


Tanpa sadar, mereka saling pandang dan mulai terbius. Abraham menurunkan tubuh Silvia dari gendongannya dan memeluk pinggang Silvia dengan erat.


Dia bahkan mendekatkan tubuh Silvia hingga menempel pada tubuhnya, tangannya mulai menyelusuri wajah cantik Silvia dan mengusapnya dengan lembut.

__ADS_1


Jantung Silvia berdetak tidak karuan dan berkata dalam hati:


"Oh my God, apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Lalu bagaimana dengan pancinya?"


__ADS_2