Falling In Love With You

Falling In Love With You
Maafkan aku


__ADS_3

Abraham terbangun dari tidurnya dan mendapati dia hanya sendirian saja diatas ranjang.


Dia segera bangun dan turun dari atas ranjang, dia tahu kemana istrinya berada jadi dia berjalan kerarah kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dia berjalan keluar dan menuju dapur. Senyum mengembang diwajahnya saat melihat Silvia yang tampak sedang sibuk membuat sarapan.


Sudah beberapa minggu Silvia ikut dengannya dan ini adalah pemandangan yang dia suka setiap pagi.


Abraham berjalan kearah istrinya dan memelukinya dari belakang.


"Good morning my dear."


"Morning."


"Kau membuat apa? Wanginya enak."


"Ini hanya sup Abraham."


"Oh ya? Makanan yang kau buat selalu enak, apa kau pernah balajar memasak?"


"Tentu saja, ini hobyku jadi dulu aku mengikuti kelas memasak."


"Oh kau selalu penuh kejutan sayang."


"Benarkah?"


"Yes, sayang maafkan aku karena pernah membuang makanan yang kau buat dan melemparkan makanan itu padamu, maafkan aku."


Silvia tersenyum dan memegangi lengan suaminya yang melingkar dipinggangnya.


"Lupakan Abraham, yang berlalu biarkan berlalu, jangan diingat lagi, oke?"


"Oh sayang, aku benar-benar tidak salah menikah denganmu."


"Sudahlah, pergi sana dan jangan ganggu aku, dapur tidak cocok untuk OCD sepertimu!"


"Sayang, sekarang aku tidak mempermasalahkan hal itu lagi."


"Penyakitmu sudah sembuh?"


"Entahlah, aku tidak memikirkan hal itu lagi jika bersamamu."


"Benarkah?" Silvia tersenyum dengan usil dan tentunya sebuah ide muncul dikepalanya.


"Tentu saja, buat apa aku berbohong."


"Oh Abraham aku sangat senang mendengarnya."


Silvia melepaskan diri dari pelukan suaminya dan mematikan api kompor, setelah itu dia berjalan kearah kulkas.


Abraham melihat istrinya dengan heran, mau apa? Dia langsung memiliki sebuah firasat buruk saat melihat istrinya mengeluarkan satu pack telur dari dalam sana.


"Hei honey, apa yang ingin kau lakukan?"


"Tangkap ini sayang."

__ADS_1


"What?"


Tanpa menunggu lagi Silvia melemparkan telur kearah suaminya sambil berteriak.


"Tangkap."


"Hei tunggu, tunggu." Abraham tampak begitu panik tapi dia menangkap telur yang dilemparkan oleh istrinya kearahnya.


"Plop." saat telur itu telah tertangkap tanpa sengaja dia memecahkan telur itu ditangannya.


"Oh my God!" gerutu Abraham saat melihat telur yang berlendir ditangannya sedangkan Silvia tertawa.


"Hei, sudah cukup bukan!"


"Tidak, kau harus menangkap telur ini lagi."


Lagi-lagi Silvia melemparkan telur kearah suaminya tapi kali ini tidak hanya satu tapi tiga, dia memang sengaja melakukan hal itu.


"Oh ya Tuhan." Abraham menangkap kedua telur dengan kedua tangannya sedangkan yang satu itu mendarat tepat didahinya.


Abraham memejamkan matanya saat isi telur yang berlendir menetes diwajahnya, sedangkan kedua telur ditanganya juga pecah dan isinya menetes dari sela-sela jarinya.


"Silvia kau!!" dia segera berjalan kearah Silvia sedangkan Silvia menyimpan telur itu kembali kedalam kulkas dan mengambil langkah seribu sambil berteriak.


"Maafkan aku, kau yang tidak bisa menangkap telur-telur itu."


"Hei jangan lari."


Abraham mengejar istrinya yang berlari masuk kedalam kamar mereka, Silvia berlari sambil tertawa karena dia hanya menggoda suaminya saja.


Tidak butuh waktu lama dia sudah tertangkap dan Abraham memanggul tubuhnya masuk kedalam kamar mandi.


"Aku ingin menghukummu dikamar mandi!"


"Hei jangan!"


"Jangan apa?"


"Jangan sungkan-sungkan."


"Ya ampun kau!" Abraham kehabisan kata-kata.


Silvia kembali tertawa dan yang pastinya dia akan mendapat hukuman dari suaminya didalam kamar mandi, mereka berada disana sampai melupakan masakan yang belum jadi dan mereka disana hampir satu jam.


Setelah selesai mereka berdua berendam didalam bathup, Abraham memeluki Silvia sedangkan Silvia bersandar padanya.


"Abraham."


"Hmm?"


"Setelah ini aku ingin pergi kepanti asuhan, bolehkan?"


"Untuk apa?"


"Dave mengabariku jika hari ini anak-anak panti akan pindah jadi aku ingin pergi menjenguk mereka."

__ADS_1


"Pindah? Hei apa maksudmu sayang?"


"Aku membelikan mereka tempat baru Abraham, selama aku kembali ke Amerika aku meminta Dave menggantikan aku mengurus semuanya untukku."


"Ya ampun, kau membeli tempat baru untuk mereka?" tanya Abraham tidak percaya.


"Benar, kau ingin membongkar tempat itu bukan jadi aku pikir lebih baik aku memindahkan mereka ketempat baru yang lebih nyaman."


"Oh sayang, inikah alasanmu tidak menginginkan lahan panti itu lagi dariku?"


"Benar, bukankah sudah aku katakan padamu? Aku tidak butuh tempat itu lagi."


Abraham memeluki istrinya dengan erat dan menciumi lehernya, betapa banyak kesalahan yang dia perbuat pada Silvia tapi Silvia mau memaafkannya dan mau menerimanya.


"Asal kau tahu sayang, aku memang akan membongkar panti asuhan itu tapi aku juga akan membangun sebuah panti asuhan yang lebih baik untuk mereka."


"Benarkah?" tanya Silvia tidak percaya.


"Tentu, aku tidak akan berbohong."


"Itu bagus, tapi aku sudah mendapatkan tempat bagus untuk mereka jadi biarkan mereka disana."


"Maafkan aku sayang, maafkan aku."


"Hei, untuk apa?"


"Aku telah banyak membuat kesalahan padamu jadi maafkan aku."


"Ck,lupakan Abraham! Karena lahan panti itulah kita bertemu, karena ingin menolong anak panti itulah kita bisa bertemu dan ini dinamakan takdir."


"Kau benar, aku sungguh senang dapat memilikimu, terima kasih karena kau telah memilihku dan menjadikan aku suamimu."


Silvia tersenyum dan mengangkat kepalanya, dia juga meletakkan tangannya ditengkuk suaminya dan menciumi bibirnya.


"I love you Abraham."


"Oh my god, kau bilang apa?" Abraham tidak percaya mendengarnya, ini pertama kalinya Silvia mengucapkan kata itu.


"I love you." ucap Silvia lagi.


"I love you too Silvia."


Abraham menciumi bibir istrinya dengan mesra, rasanya dia tidak ingin pergi kemanapun karena dia ingin selalu bersama dengan istrinya sepanjang hari tapi Silvia segera mengajaknya keluar dari kamar mandi untuk melanjutkan masakannya yang tertunda.


Setelah selesai berpakaian Silvia kembali kedalam dapur dan melanjutkan masakannya, dapurnya yang berantakan sudah dibersihkan oleh pelayan dan tidak perlu waktu lama semua sudah terhidang diatas meja.


Dia segera memanggil suaminya yang berada diruangan kerjanya untuk segera makan, dan yang pasti Abraham begitu bahagia karena sekarang dia sudah memiliki seorang istri yang dia cintai dan selalu ada untuknya dan membuatkan makanan untuknya.


Sekarang setiap kali dikantor dia selalu merasa ingin cepat-cepat pulang untuk bertemu dengan istrinya.


Setelah mereka selesai makan, sesuai dengan keinginan Silvia, mereka pergi kepanti asuhan untuk bertemu dengan anak-anak yang ada disana.


Tentu saat melihat kedatangan Silvia anak-anak begitu senang, mereka mendekati Silvia dan memeluki Silvia.


Tidak hanya anak-anak saja yang tampak senang, para suster disana juga sangat senang melihat kedatangan Silvia.

__ADS_1


Abraham tersenyum melihat istrinya yang disukai oleh orang-orang disana dan berkata dalam hati, dia sungguh menikahi seorang wanita yang luar biasa!


Pada saat itu Silvia menghampirinya dan menarik tangannya dengan senyum diwajahnya, Abraham mengikuti istrinya dan berharap dalam hati, semoga mereka segera memiliki anak supaya pernikahan mereka semakin sempurna.


__ADS_2