
Waktu sudah malam saat pesawat pribadi Abraham baru mendarat di bandara Internasional Los Angeles.
Dia jadi berpikir apa dia harus langsung menemui Silvia atau dia harus mencari hotel terlebih dahulu barulah besok pagi dia mencari Silvia?
Oh persetan, lebih baik dia pergi mencari Silvia terlebih dahulu apalagi ini baru jam 7 malam, dia tidak mau menunda seperti yang pernah dia lakukan kemarin hingga dia ditinggalkan oleh Silvia begitu saja.
Abraham keluar dari pesawatnya dan keluar dari bandara dengan cepat, dia juga berlari untuk mencari taxi.
Berbekal dengan kartu identitas Silvia yang ada ditangannya membuatnya tidak kesulitan untuk mencari Silvia dan dia berharap dia bisa menemui Silvia dialamat itu.
Untung saja waktu itu dia mengambil benda itu dan menendangnya masuk kebawah sofanya, walaupun dia tidak ingat lagi dengan kartu identitas itu tapi sekarang benda itulah yang membantunya untuk bertemu dengan Silvia.
Setelah tiba dialamat yang dia tuju, Abraham turun dari taxi dan meminta supir taxi untuk menunggunya, dia berdiri disebuah rumah yang wow, disana tampak beberapa orang sedang berjaga.
Dia sungguh ingin tahu, siapa Silvia sebenarnya sampai rumah itu tampak dijaga dengan ketat.
Saay seorang penjaga melihatnya, penjaga itu menghampiri Abraham untuk menanyakan apa tujuannya.
"Tuan, apa yang kau lakukan disini?"
"Oh maaf, aku ingin mencari Silvia, apa dia ada?"
"Nona muda?"
"Iya, tolong katakan padanya Seorang teman ingin menemuinya."
"Baiklah tunggu sebentar, aku akan memanggilnya."
Abraham mengangguk sedangkan penjaga itu melangkah pergi untuk memanggil Silvia didalam sana.
"Nona muda ada yang mencarimu diluar sana." Ujar penjaga itu saat sudah tiba didalam sana.
"Siapa?" Silvia sangat heran, siapa yang mencarinya malam-malam?
"Dia bilang teman nona, apa aku harus membiarkannya untuk masuk?" tanya penjaga itu lagi.
"Teman." Silvia tampak berpikir, teman yang mana? Dia punya banyak teman tapi tidak ada yang akan mencarinya saat malam seperti ini.
"Pria atau wanita?"
"Pria."
Saat penjaga itu menjawab, semua mata yang ada didalam ruangan itu langsung menatap kearah Silvia, ya malam itu mereka sedang berkumpul karena Jhon dan Samantha datang kesana membawa anak-anak mereka.
"Hei Silvia, siapa dia? Apa pacarmu?" Jhon bertanya pada adiknya.
"Mana aku tahu kak, aku tidak punya pacar!"
"Jika bukan pacarmu lalu buat apa pria itu mencarimu malam-malam?"
"Ck kak, please! Aku mana tahu!" Silvia bangkit berdiri, dia berniat menemui orang yang mencarinya diluar sana.
__ADS_1
Orang bodoh mana yang berani mencarinya malam-malam?
"Mau kemana?" Jhon menahan adiknya.
"Menemui pria itu, kenapa?"
"Duduk diam disini, aku yang akan pergi melihatnya!"
"Maksud kakak?"
"Sudah kau tidak perlu keluar! Aku ingin lihat pria mana yang berani mencari adikku malam-malam seperti ini!"
Jhon segera bangkit berdiri dan melangkah keluar di ikuti oleh penjaganya, Silvia hanya mengangkat kedua bahunya,ya sudah, nasib malang untuk pria itu.
Lagi pula dia tidak punya teman yang akan mencarinya semalam ini dan dia yakin itu hanya pria asing yang mengaku sebagai sahabatnya, mudah-mudahan tidak dipukul sampai mati oleh kakaknya.
Diluar sana Jhon melihat seorang pria yang sedang berdiri disamping sebuah mobil taxi, Jhon segera menghampiri pria itu dengan beberapa anak buahnya.
"Siapa kau?"
Abraham langsung melihat seorang pria yang sedang berdiri didepannya dan juga menatapnya dengan tajam.
Siapa pria ini? Dia mencari Silvia tapi kenapa malah pria ini yang datang menemuinya. Jangan-jangan pria itu adalah mantan suami Silvia?
Oh astaga, seharusnya dia ingat bahwa Silvia janda dua anak tapi kenapa mantan suami Silvia berada disana?
Abraham mulai berpikir, apa jangan-jangan itu rumah mantan suami Silvia? Jangan-jangan dia salah alamat.
"Hei kenapa diam saja!" teriak Jhon marah.
"Aku ingin mencari Silvia bukan mencarimu!" jawabnya dengan dingin.
"Ada hubungan apa kau dengannya?"
"Aku pacarnya, kenapa?"
"Ha..ha..ha..ha..ha..! Jhon langsung tertawa terbahak-bahak sedangkan Abraham tampak kesal.
Kenapa pria itu tertawa? Apa ada yang lucu?
Kedua tangannya sudah terkepal disamping tubuhnya, rasanya dia sangat ingin memukul pria itu.
"Hei kenapa kau tertawa?"
"Seharusnya kau tahu Silvia tidak punya pacar dan beraninya kau mengaku sebagai pacarnya!"
Jhon tampak kesal, siapa pria yang telah berani datang kesana dan berani mengaku sebagai pacar adiknya?
"Aku tidak asal berbicara jadi cepat suruh dia keluar karena yang ingin aku temui adalah Silvia, bukan dirimu!"
"Jika kau ingin bertemu dengannya maka langkahi aku dulu!"
__ADS_1
"Wow, kau kira aku tidak berani!"
Abraham menggulung lengan bajunya hingga keatas, jika ingin adu kekuatan dia tidak akan takut, dia akan berusaha menemui Silvia dan melawan siapapun yang berani menghalanginya.
Mereka berdua saling menatap satu sama lain Sedangkan Silvia dan Samantha berjalan keluar dari rumah, mereka merasa heran kenapa Jhon begitu lama, apa telah terjadi sesuatu diluar sana?
Mareka menghampiri Jhon dan melihat Jhon bersiap ingin memukul seseorang, mata Silvia melotot saat melihat orang yang hendak dipukul oleh kakaknya.
"Abraham.?" gumamnya tidak percaya.
Sebelum perkelahian diantara kedua pria itu terjadi Silvia segera berlari dan berteriak:
"Kakak hentikan!"
Silvia Segera memegangi tangan kakaknya sedangkan Abraham tampak senang serta sedikit kaget, kakak? Jadi pria yang hendak dia pukul adalah kakak Silvia dan dia menyangka jika pria itu adalah mantan suami Silvia?
Oh ini sangat memalukan, untung saja mereka tidak jadi berkelahi jika tidak, mungkin Silvia akan semakin membencinya.
"Hei Silvia, aku bilang kau harus tunggu didalam!" Jhon tampak kesal melihat adiknya disana.
"Kak, jangan berkelahi oke, dia kenalanku."
"Apa benar?" tanya Jhon tidak percaya.
"Benar dia kenalanku jadi jangan memukulnya."
"Jhon." Samantha mendekati suaminya untuk menenangkannya.
Silvia segera melepaskan tangan kakaknya dan berjalan mendekati Abraham, dia sungguh tidak menyangka Jika Abraham bisa berada disana untuk mencarinya. Dari mana Abraham tahu tempat tinggalnya? Apa Dave yang memberitahukan hal ini pada Abraham?
"Abraham, kenapa kau bisa ada disini?" tanyanya.
"Tentu saja ingin mencarimu, kau tidak mau menemuiku dan pergi secara tiba-tiba tanpa mau mendengarkan penjelasanku, kenapa kau melakukan hal ini?"
"Tidak ada yang perlu dijelaskan bukan?"
"Tentu ada."
"Silvia!" Jhon memanggil adiknya, dia sungguh tidak senang melihat adiknya sedang berbicara dengan seorang laki-laki didepannya.
"Abraham, ini sudah malam jadi kembalilah besok." pinta Silvia.
"Apa besok kau akan menemuiku?"
"Tentu, aku akan menemuimu dan mendengarkan semua penjelasanmu jadi pergilah, ini sudah malam dan kakakku sedang marah."
"Oke baiklah, aku akan pergi dan sampaikan perminta maafku pada kakakmu."
"Tentu tapi pergilah terlebih dahulu."
Abraham menganguk dan masuk kedalam taxi, sebenarnya dia sangat ingin mencium dan memeluk Silvia tapi dia harus menahannya karena sepasang tatapan tajam penuh dengan kebencian tertuju padanya.
__ADS_1
Setelah Abraham pergi dari sana, Silvia melihat kakaknya yang sudah berlalu pergi dengan kakak iparnya,vdia menarik nafasnya dengan berat dan berkata dalam hati:
"Malam ini akan menjadi malam yang panjang."