
Setelah tiba disebuah supermarket yang ada dikota Sydney, lagi-lagi Abraham menggandeng tangan Silvia dan berjalan disampingnya.
Silvia hanya mengikuti langkah Abraham dan diam saja,mereka masuk kedalam supermarket terbesar dikota itu, didalam sana menjual beraneka barang, tidak saja menjual bahan-bahan makanan dan keperluan yang dibutuhkan tapi disana juga memiliki sebuah toko mainan.
Saat melintasi toko mainan yang ada disana Silvia menghentikan langkahnya, hal itu membuat Abraham heran, keheranannya lebih bertambah saat melihat Silvia sedang menatap toko mainan itu. Ada apa?
"Kenapa kau berhenti?" tanyanya dengan heran.
"Oh tidak maaf, aku berpikir ingin ketoko mainan itu tapi nanti saja." jawab Silvia.
Dia segera kembali melangkah dan Abraham mengikuti langkahnya kembali, dalam hati Abraham dipenuhi tanda tanya, untuk apa Silvia ketoko mainan? Apa Silvia mempunyai seorang adik yang masih kecil?
Sebaiknya dia menanyakan hal ini karena dia tidak mau rasa penasaran kembali menghantui dirinya.
"Hei Silvia."
"Apa?"
"Untuk apa kau mampir ketoko mainan?"
"Tentu saja untuk membeli mainan! Memangnya kau kira aku ketoko mainan untuk membeli roti!" jawab Silvia dengan ketus.
"Oh Astaga, aku tahu kau ingin membeli mainan disana tapi untuk siapa mainan itu, apa aku masih punya adik yang masih kecil?" tanya Abraham penasaran.
"Tidak, aku anak paling bungsu dan tidak punya adik lagi."
"Lalu untuk apa kau membeli mainan?"
Silvia menghentikan langkahnya dan tersenyum dengan licik, dia akan sedikit membohongi Abraham dan ingin melihat reaksinya, bagaimana wajah Abraham saat mendengar tipuannya?
"Abraham, apa kau sangat ingin tahu?"
"Ya, jadi katakan padaku, aku sangat ingin tahu."
"Asal kau tahu saja dan aku harap kau tidak kaget saat mendengarnya!"
"Apa? Cepat katakan!" pinta Abraham dengan tidak sabarnya.
Silvia semakin melebarkan senyumnya, dia sungguh ingin melihat ekpresi abraham.
__ADS_1
"Abraham, sebenarnya aku ini janda dua anak."
"Apa?"
Abraham terbelalak kaget saat mendengar perkataan Silvia, benarkah? Tanpa sadar dia langsung melepaskan tangan Silvia dan tampak linglung.
Benarkah Silvia sudah janda dan memiliki dua orang anak? Apa karena hal ini Silvia tidak pernah mau mengatakan siapa dirinya setiap kali dia bertanya?
Abraham melihat wajah Silvia dengan penuh selidik, jangan-jangan Silvia menipunya tapi Silvia hanya tersenyum dan dia tidak mendapati kebohongan dari wajah Silvia. Jadi benar?
Silvia kembali melangkahkan kakinya, tersenyum puas melihat ekspresi Abraham dan meninggalkan Abraham dibelakang sana yang masih berdiri diam seperti orang bodoh.
Dia manghampiri sebuah troli dan mengambilnya, dia juga masuk kedalam supermarket itu sendirian. Mungkin setelah ini dia harus meminta Dave menjemputnya karena dia pikir Abraham pasti langsung pergi dan tidak mau menemuinya lagi setelah mendengar kebohongannya.
Dia tidak perduli jika itu terjadi, lagi pula mereka tidak memiliki hubungan yang spesial jadi dia tidak merasa bersalah karena telah menipu Abraham.
Abraham mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa dia merasa sangat shock dan kecewa?
Kenapa dia merasa tidak rela dan entah kenapa dia tidak percaya pada ucapan Silvia dan dia sangat yakin jika Silvia membohonginya saat ini.
Abraham mengumpat kesal dan segera melangkahkan kakinya, dia mulai berlari untuk menyusul Silvia, dia ingin menanyakan hal ini lebih rinci lagi.
Langkahnya terhenti saat tiba dirak khusus makanan ringan, Silvia tampak sedang sibuk melihat makanan ringan yang ada disana.
Abraham diam saja masih belum beranjak dari sana, matanya menatap lekat kearah Silvia dan mengikuti setiap gerakan Silvia.
Dia jadi berpikir, lelaki mana yang berani menyakiti hati seorang wanita seperti Silvia?
Silvia wanita yang cantik dan menarik, dia juga terlihat mandiri dan kuat,bahkan Silvia tidak takut dengan apapun dan berani menantangnya.
Jika dia yang menjadi suami Silvia maka dia tidak akan melakukan hal seperti itu, dia tidak akan meninggalkan Silvia dengan kedua anaknya. Laki-laki yang telah meninggalkan Silvia benar-benar lelaki ba**ngan.
Didalam hatinya mulai muncul rasa iba terhadap Silvia, pasti sangat berat harus membesarkan dua orang anak sendirian, jika dia bertemu dengan mantan suami Silvia nanti, maka akan dia pukul sampai mati!
Tanpa pikir panjang lagi, Abraham segera mendekati Silvia yang tampak sedang mengambil makanan ringan, dia langsung memegangi tangan Silvia sampai membuat Silvia kaget.
"Abraham?" kata Silvia dalam hati.
Dia tidak percaya melihat Abraham masih berada disana, dia mengira Abraham akan segera pergi meninggalkannya setelah mendengar kebohongannya. Tapi ternyata, pria itu masih berada disana.
__ADS_1
Apa Abraham tahu jika dia hanya berkata bohong saja? Tapi dia tidak perduli dan tidak mau memikirkannya.
"Kenapa kau meninggalkanku?" tanya Abraham padanya.
"Hm...maaf, aku kira kau tidak mau jalan denganku lagi setelah mendengar statusku." jawab Silvia pura-pura.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak memperdulikan hal seperti itu! Aku hanya kaget saat mendengarnya!"
"Benar kau tidak keberatan dekat dengan seorang janda yang sudah mempunyai dua anak sepertiku?" tanya Silvia memancing.
"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali!"
"Bukankah kau Abraham Achilles yang terhormat? Berkuasa dan terkenal dikota ini? Apa yang orang katakan jika sampai mereka tahu kau dekat dengan seorang janda yang sudah memiliki dua anak?"
"Seperti yang pernah kau katakan, diatas langit masih ada langit dan aku tidak pernah memikirkan perkataan orang lain tentangku karena tidak ada manusia yang sempurna."
Abraham memegangi ujung kepala Silvia dan mengusapnya, dia juga berkata:
"Lelaki itu bodoh, lelaki yang meninggalkanmu adalah lelaki bodoh!"
Diam-diam Silvia tersenyum tapi dengan cepat dia menyembunyikan wajahnya supaya tidak dilihat oleh Abraham.
Padahal dia hanya menipu Abraham dan hanya ingin melihat reaksinya tapi hasilnya diluar dugaannya, sepertinya Abraham mulai sedikit berubah.
"Terima kasih kau memang benar!" ujar Silvia. Dia menatap Abraham dan tersenyum dengan lembut, hal itu membuat jantung Abraham mulai berdebar-debar, ada apa dengannya?
"Hmm..sudahlah, ayo kita segera membeli bahan-bahan makanan dan setelah ini kau bisa membeli mainan untuk kedua anakmu, aku yang akan membelikan untuk mereka nanti."
"Benarkah?"
"Ya, kau bisa mengambil mainan apa saja untuk mereka berdua."
"Terima kasih banyak." ucap Silvia sambil tersenyum manis.
Abraham mengambil troli yang sedang dipegang oleh Silvia dan segera mendorongnya, dia berjalan didepan Silvia sedangkan Silvia mengikuti langkah Abraham dengan senyum diwajahnya.
"Edward, Jacob tunggulah aunty pulang, aunty akan membawakan banyak mainan untuk kalian." kata Silvia dalam hati.
Silvia segera mendekati Abraham dan melingkarkan tangannya dipinggang Abraham, hal itu membuat Abraham sangat kaget tapi dia diam saja, dia benar-benar senang mereka berdua seperti itu.
__ADS_1
Mereka berjalan seperti sepasang kekasih dan terlihat mesra didalam supermarket, mereka berdua membeli banyak bahan makanan dan setelah itu sesuai janjinya, Abraham membelikan mainan yang dipilih oleh Silvia.