
Satu minggu telah berlalu,sesuai permintaan Silvia, Abraham menyiapkan pernikahan mereka dengan cepat.
Sejak malam dia melamar Silvia dia langsung meminta ibunya untuk datang, saat mendengar keberhasilan putranya Monica bergitu senang.
Keinginannya menjadikan Silvia menantunya akhirnya tercapai,tentu hari itu juga Monica segera berangkat ke Amerika untuk bertemu dengan keluarga Silvia.
Tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan keluarga calon menantunya, dalam sekejap saja dia dan ibu Silvia langsung akrab karena mereka sangat cocok.
Ditambah dia mengenal Michael, hal itu membuat mereka langsung akrab tanpa harus merasa canggung.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat itu, Abraham sedang berada dikamar hotelnya untuk bersiap-siap.
Dia dan Silvia memutuskan untuk mengadakan resepsi pernikahan mereka disebuah hotel.
Mereka akan mengadakan pernikahan mereka di Loews Santa Monica Beach Hotel.
Disini, disepanjang Wilshire Boulevard yang bermandikan sinar matahari, dalam jarak berjalan kaki ke pantai, masing-masing dari 271 kamar, suite, dan ruangan berhasil mengoptimalkan angin laut dan cahaya alami kota yang melimpah, sementara desain interiornya menemukan inspirasi dalam warna dan tekstur organik garis pantai lokal.
Santa Monica beach hotel mengundang para tamu dengan satu-satunya dek kolam renang di puncak gedung di Westside, pengaturan satu-satunya yang mencakup restoran outdoor Balearic, bar, dan cabana.
271 kamar dan suite di Santa Monica beach hotel mencerminkan sejarah dan lanskap lokal dengan desain asli oleh Kelly Wearstl.
Mereka memilih tempat itu bukan tanpa alasan, mereka memilih tempat itu karena disana menawarkan resepsi pernikahan disisi kolam renang yang terdapat dipuncak gedung.
Kolam renang disulap sedemikian rupa hingga menimbulkan kesan romantis untuk pasangan pengantin, tidak hanya itu sisi kolam renang diberi kursi-kursi untuk para tamu undangan supaya para tamu merasa aman.
Tamu yang mereka undang juga hanya sedikit, hanya kerabat dan beberapa teman dekat mereka saja. Itu karena Abraham berasal dari Australia jadi dia tidak bisa mengundang semua kenalannya dan Silvia juga memutuskan untuk tidak mengundang banyak orang.
Abraham melirik jam dipergelangan tangannya, sebentar lagi acara pernikahan mereka dimulai, mereka akan bersumpah janji setia saat matahari hendak terbenam.
Waktu seperti itu adalah waktu yang sangat romantis dan mereka menyiapkan semuanya dalam waktu yang amat singkat.
Dia hanya mengikuti apa yang diinginkan oleh Silvia karena dia tidak tahu tempat-tempat bagus dikota itu.
Rasanya sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan pengantinnya didepan Altar, dia sangat yakin Silvia pasti sangat cantik menggunakan gaun pengantin yang telah mereka pilih berdua.
Sedangkan disebuah kamar lain yang terdapat dihotel itu, Silvia sedang bersiap-siap.
Seseorang sedang membantunya memakai gaun pengantinnya dan dia sudah tampak begitu cantik dengan riasan diwajahnya.
Ini moment bahagia didalam hidupnya dan dia tidak menyangka jika dia akan menikah secepat ini
__ADS_1
Jika dia tidak pergi ke Australia apakah dia akan bertemu dengan Abraham? Seadainya dia tidak membantu anak panti apakah mereka akan bertemu dan menikah?
Sebenarnya dia sangat ingin menikah didepan para anak panti tapi dia ingin menikah dikota kelahirannya dan lagi pula dia tidak mau menunda hari bahagia mereka karena dia bukan orang yang suka menunda.
Setelah selesai memakai gaunnya, Silvia kembali duduk karena rambutnya hendak dirapikan.
Rambut hitam panjangnya dikepang kesamping dan diberi hiasan bunga-bunga kecil untuk mempercantik hiasannya.
Tidak lupa sebuah tiara dipakaikan diatas kepalanya untuk melengkapi penampilannya yang sudah seperti seorang putri.
Silvia tampak begitu puas melihat penampilannya didepan cermin, acara pernikahan mereka tinggal sebenar lagi dan rasanya dia sudah tidak sabar untuk keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju altar.
Pada saat itu ayah dan ibunya masuk kedalam kamarnya, Xiau Yu tersenyum melihat putrinya yang duduk didepan cermin yang terlihat cantik luar biasa.
"Silvia sayang, apa kau sudah siap?"
"Mom, dad."
Xiau Yu dan Michael mendekati putrinya dan pada saat itu Silvia bangkit berdiri, Silvia langsung memeluk kedua orang tuanya dan berkata:
"Terima kasih karena kalian, Silvia ada."
"Apa yang kau katakan sayang?" Xiau Yu mengusap lengan putrinya dengan lembut.
"Oh ya ampun." tanpa disadari air mata Xiau Yu mengalir dari kedua matanya.
"Apa yang kau katakan? Jangan membuat kami menangis!" Michael memeluk istri dan putrinya secara bersama-sama.
"Mom, dad, setelah ini aku akan tinggal jauh dari kalian, aku pasti akan sangat merindukan kalian."
"Bodoh!" tanpa terasa air mata Michael juga mengalir, berat rasanya melepaskan putri satu-satunya yang selalu bersama dengan mereka dan sekarang mereka harus berpisah.
"Sorry mom, dad. i love you." Silvia menangis dipelukan orang tuanya.
"Sudahlah sayang, kau sudah menemukan orang yang tepat dan aku harap kau bahagia dengannya. Dia akan menggantikan kami menjagamu dan menemanimu sampai kau tua nantinya."
Xiau Yu mengusap air mata putrinya dengan lembut, bagaimanupun mereka harus melepaskan putri mereka.
"Thanks mom, dad."
Michael dan Xiau Yu melepaskan pelukan mereka dan pada saat itu Jhon masuk kedalam sana.
__ADS_1
"Hmm..!" Jhon berdehem pelan melihat keluarganya.
"Hei apa yang kalian lakukan,acara sudah mau dimulai." Jhon berjalan mendekati keluarganya dan pada saat itu Silvia berlari kearahnya dan memeluknya.
"Kakak, aku sayang padamu."
Jhon tersenyum dan mengusap punggung adiknya, dia juga berkata:
"Aku juga sayang padamu, aku sayang pada kalian semua."
"Terima kasih mom, dad, kakak, kalian selalu mencintai aku. Aku berjanji akan selalu mengajak Abraham pulang kemari."
"Itu bagus jadi ayo, jangan buat dia menunggu karena acara pernikahanmu akan segera dimulai."
Silvia mengangguk dan segera melepaskan pelukannya, dia segera berjalan kearah ranjang dan mengambil buket bunga dari sana.
"Aku siap." ujarnya.
"Ayo, aku dan daddy akan mengantarmu sampai kealtar."
"Wow, benarkah?"
"Benar, jadi ayo."
Mereka segera keluar dari kamar, mereka menuju atap gedung dimana acara pernikahan akan dimulai disana.
Silvia tampak begitu bahagia karena kakak dan ayahnya akan mengantarnya kealtar nanti.
Setelah mereka tiba, music pernikahanpun berbunyi, Silvia berjalan menuju altar bersama kakak dan ayahnya, dia sedang melangkah menuju masa depannya dimana Abraham sudah menunggunya dengan gagah.
Abraham terpana melihat pengantinnya yang luar biasa, dia tersenyum dengan menawan dan mengulurkan tangannya untuk menyambut pengantinnya saat sudah tiba dialtar.
Jhon dan ayahnya langsung pergi saat Silvia naik keatas altar, pada saat matahari menenggelamkan diri Abraham dan Silvia mengucapkan janji sumpah setia mereka.
Abraham memakaikan cincin dijari manis Silvia begitu juga dengan Silvia, dia memakaikan cincin dijari suaminya.
Setelah itu Abraham menciumi bibir istrinya dan berkata:
"I love you my wife."
"I love you too my husband."
__ADS_1
Mereka berciuman dan tepuk tangan dari para tamu untuk merekapun terdengar, disaksikan oleh para tamu undangan dan keluarga juga matahari yang hendak tenggelam, mereka sah menjadi suami istri.