Falling In Love With You

Falling In Love With You
Situa bangka yang tidak mengerti apa itu cinta.


__ADS_3

Hari itu waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi, Abraham sudah bangun dari tidurnya dan bersiap-siap.


Biarpun masih pagi tapi dia ingin segera pergi kerumah Silvia untuk bertemu dengannya, dia tidak perduli ini masih pagi karena dia sudah tidak sabar untuk menjelaskan semuanya pada Silvia dan meluruskan kesalah pahaman diantara mereka.


Setelah siap Abraham segera keluar dari kamarnya, dia berjalan kearah dapur untuk mengambil air minum dan disana tampak ibunya sedang duduk dimeja makan dan mengolesi roti gandum dengan selai sedangkan dua gelas minuman sudah tersedia diatas meja.


"Morning mom."


Monica langsung melihat kearah putranya yang tampak sudah rapi, mau kemana pagi-pagi sekali?


"Kau mau kemana sayang? Ini hari libur tidak mungkin kau mau pergi kekantor bukan?"


"Aku mau ketempat Silvia mom, aku ingin bertemu dengannya dan membicarakan hal penting padanya."


"Oh ya? Apa kau ingin melamarnya?"


Monica tampak begitu bersemangat, dia harap putranya bisa langsung gerak cepat dan tidak menunda untuk mengikat Silvia.


"Tidak bukan begitu mom, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Bicara apa? Apa kau sedang membuatnya marah?" tebak ibunya.


Abraham menarik nafasnya dengan berat, dia juga menarik sebuah kursi dan duduk didepan ibunya Dia tahu ibunya sangat menyukai Silvia dan dia tahu ibunya pasti akan marah jika mengetahui Silvia tidak mau bertemu dengannya lagi dan tidak mau berbicara dengannya.


Tapi dia tidak mau menyembunyikan hal ini pada ibunya dan dia berharap, Silvia mau menemuinya hari ini dan mendengar semua penjelasannya, dia juga berharap Silvia mau percaya padanya.


"Mom, kemarin Silvia datang kekantor dan mendengar pembicaraanku dengan Nick. Dia salah paham dengan ucapan Nick dan marah padaku bahkan sekarang dia tidak mau bertemu denganku."


"Hei Memangnya apa yang kalian bicarakan sampai membuatnya salah paham?" tanya Monica penasaran.


Abraham menghela nafasnya, sepertinya dia harus mengatakan apa yang terjadi pada ibunya.


Dia juga menceritakan masalah panti asuhan yang hendak dia bongkar dan karena itulah tiba-tiba Silvia datang menemuinya, mengaku sebagai pacarnya bahkan hendak membeli lahan panti itu darinya.


Selain itu dia juga mengatakan pada ibunya tentang pembicaraannya dengan Nick hingga membuat Silvia salah paham, tidak ada yang tidak dia lewat bahkan dia juga menceritakan pada ibunya kenapa Silvia mau membantunya bersandiwara malam itu untuk menolak Jenny.

__ADS_1


Monica tampak marah saat mendengar niat putranya yang hendak menggusur anak-anak panti apalagi itu adalah lahan yang diberikan oleh kakek Abraham untuk para anak panti yang ada disana.


Jika dia tahu dari awal dia pasti akan marah dan menentang keinginan putranya tapi Abraham mengatakan jika dia belum menggusur panti asuhan itu dan ini masih dalam tahap rencana saja.


Monica segera bangkit berdiri dan menghampiri putranya dan duduk disisi putranya, dia juga menggenggam tangan putranya dan berkata:


"Abraham, sangat berdosa mengusir anak-anak panti asuhan. Mereka itu tidak punya siapa-siapa lagi dan tempat itu adalah satu-satunya rumah bagi mereka."


"Jika kau ingin membangun sebuah real estate dan membongkar panti asuhan itu tidak masalah, tapi kau harus membangun sebuah panti lagi didaerah real estatemu, kau harus membangun panti asuhan yang lebih megah dan lebih baik untuk anak-anak yang ada disana, itu baru benar. Tapi kenapa kau malah menggusur mereka? Pantas saja Silvia menentang keputusanmu! Jika aku tahu dari awal aku juga akan menentang keputusanmu yang tidak manusiawi ini!"


Abraham menyeruput kopinya dan diam saja.


"Tapi kau belum membongkar panti itu jadi tidak apa-apa. Berkat itulah kau bisa bertemu dengan Silvia dan Abraham, ada sesuatu yang ingin mommy tanyakan padamu."


"Apa mom."


"Apa kau menyukai Silvia?"


Abraham menatap ibunya, kenapa bertanya seperti itu?


"Kenapa jawabanmu seperti itu, apa kau tidak marasa dia sangat berarti bagimu?"


Lagi-lagi Abraham diam saja, belum menjawab pertanyaan ibunya sedangkan ibunya kembali bertanya.


"Apa kau tidak menganggap Silvia spesial dihatimu? Apa kau tidak merindukannya saat kau tidak bertemu dengannya? Apa dia tidak pernah ada didalam hatimu?"


"Mom, aku sangat merindukannya dan sekarang aku sangat ingin bertemu dengannya. Aku juga sangat senang saat berada didekatnya dan aku merasa selalu ingin bersamanya, bukan sebagai teman tapi entahlah, aku rasa dia memang sangat spesial bagiku."


Monica tertawa dan mengusap dahi putranya dengan lembut, oke baiklah,binilah situa bangka yang tidak mengerti apa itu cinta.


"Usiamu sudah tiga puluh tahun tapi kau tidak mengerti dengan cinta, aku jadi ingin tahu, berapa kali kau pacaran?"


"Hanya sekali dan itupun tidak bertahan lama."


"Oh ya, kenapa mommy tidak tahu?"

__ADS_1


"Bukankah sudah aku katakan tidak bertahan lama!"


"Oke baiklah bisa mommy tebak, kalian putus pasti karena penyakit OCD mu bukan?"


Abraham mengangguk, memang dulu dia putus dengan pacarnya karena penyakitnya, dia ditinggalkan karena pacarnya muak dengannya.


"Abraham sayang, harus kau ketahui kenapa aku sangat menyukai Silvia. Tidak saja dia wanita cantik dan baik, tapi dia bisa menerima penyakitmu itu. Apa selama kau bersamanya dia pernah mengeluh dengan penyakitmu itu?"


"Tidak! Bahkan dia pernah melempariku dengan telur!"


"Ha..ha..ha..ha..ha..! Dia sangat hebat, aku akui itu dan dia juga sangat hebat bisa mencuri hatimu dalam waktu singkat."


"Dia itu menyebalkan mom."


"Sudahlah, jangan diingat lagi dan sebaiknya kau segera pergi untuk menjelaskan semuanya dan ingat, jangan berlama-lama untuk mengikatnya."


"Maksud mommy?"


"Lamar dia saat ini juga boy, jika kau selalu menunda dan menyangkal perasaanmu maka dia akan dibawa pergi dan jangan sampai kau menyesal melihat dia bersama dengan pria lain."


Abraham segera bangkir berdiri, benar apa yang dikatakan oleh ibunya dan sebaiknya dia tidak menunda hal ini lagi.


Dia akan menjelaskan semuanya pada Silvia dan dia akan melamar Silvia hari ini juga.


"Baiklah mom, aku harus segera pergi untuk menemuinya dan aku akan melamarnya."


"Nah, ini baru putraku, segeralah pergi dan bicarakan baik-baik denganya. Mommy mendoakanmu sayang, kau pasti berhasil mendapatkannya."


"Thanks mom."


Sebelum pergi Abraham menciumi pipi ibunya, setelah itu dia segera meraih kunci mobilnya untuk pergi ketempat Silvia tapi dia tidak tahu saat ini Silvia sudah berada didalam pesawat pribadinya untuk kembali ke Amerika.


Dia memang sengaja berangkat pagi-pagi sekali karena perbedaan waktu antara Australia dan Amerika.


Silvia melihat kota Sydney dari atas sana saat pesawat pribadinya mulai terbang, dia menarik nafasnya dan setelah itu memejamkan matanya.

__ADS_1


Kunjungan yang sangat singkat tapi banyak kenangan yang terjadi disana.


__ADS_2