Falling In Love With You

Falling In Love With You
Sekarang atau tidak sama sekali!


__ADS_3

Silvia sedang bersiap-siap didalam kamarnya karena malam ini dia ada janji dengan Abraham untuk makan malam berdua.


Dia sedang sibuk memilih baju yang akan dia pakai dan membongkar isi lemarinya, padahal ini cuma makan malam saja tapi entah kenapa dia ingin berdandan yang cantik saat bertemu dengan Abraham.


Pada saat itu ibunya masuk kedalam dan menggeleng melihat putrinya melemparkan baju dari lemari kearah ranjang.


Apa yang sedang dilakukan oleh Silvia? Kenapa membongkar isi lemarinya?


"Silvia sayang, kenapa kau membongkar isi lemarimu?" Xiau Yu berjalan mendekati ranjang dan duduk disisinya, dia juga mengambil baju yang ada diatas ranjang dan melihatnya.


"Aku mau cari baju mom."


"Kenapa dengan baju-bajumu? Apa semua ini sudah tidak muat karena kau sudah tambah gemuk?" goda ibunya.


"Ck, mommy sembarangan bicara! Aku mana gemuk!"


Xiau Yu terkekeh dan merapikan baju putrinya yang berada diatas ranjang, dia tahu jika Silvia ingin pergi menemui kekasihnya jadi dia sangat yakin Silvia sedang memilih baju terbaik yang dia punya.


"Silvia sayang, aku tidak menyangka hari ini akan cepat datang. Akhirnya seseorang datang kerumah dan mau membawamu pergi jauh dari kami."


"Mommy jangan berlebihan aku belum menerima lamaran darinya."


"Kenapa?"


"Mom, aku jadi sedikit ragu, apa kami harus langsung menikah tanpa berpacaran?"


Padahal dia sudah berkata akan menerima lamaran Abraham tapi entah kenapa dia jadi sedikit ragu.


"Jika kau sudah yakin, kenapa tidak!"


"Maksud mommy?"


"Jangan ragu sayang, bahkan mommy menikah dengan daddymu tanpa berpacaran terlebih dahulu."


Silvia langsung melihat ibunya dengan serius, jujur dia penasaran kenapa ibunya bisa menikah dengan ayahnya dan dia sangat ingin tahu.


Dia langsung mendekati ibunya dan duduk disisi ibunya.


"Mom, memangnya mommy tidak pernah berpacaran?" tanyanya.


"Tidak! Mommy tidak pernah merasakan pacaran dan manisnya cinta semasa mommy masih muda."


"Wow, boleh aku tahu kenapa mommy bisa menikah dengan daddy? Apa kalian menikah karena dijodohkan?" tanyanya penasaran.


"Tidak sayang, kami tidak dijodohkan." jawab ibunya sambil tersenyum.


"Lalu? Kalian pacaran?"


"Tidak juga."

__ADS_1


Silvia semakin penasaran, lalu apa?


Xiau Yu kembali tersenyum dan memegangi tangan putrinya, dia harap putrinya bahagia nantinya dengan pria pilihannya.


"Dengarkan mommy sayang, mommy menikah dengan daddy karena mommy diancam oleh daddy."


"Wow,daddy." ujar Silvia tidak percaya.


"Mommy tidak pernah merasakan bagaimana manisnya cinta dan pacaran saat itu karena mommy terpaksa menikah dengan daddy dengan sebuah ancaman."


"Waktu itu daddymu sangat jahat pada mommy bahkan setelah kami menikah, saat itu belum ada cinta diantara kami sampai momy memutuskan untuk pergi dan pada saat itu mommy sedang mengandung kakakmu."


"Cih, kalau aku jadi mommy sudah aku tendang daddy sampai mati!" gerutu Silvia kesal.


"Ya benar, tapi bukan itu maksud mommy sayang. Seiring berjalannya waktu cinta mulai tumbuh dihati kami dan pada saat kematian nenekmu kami sangat terpukul karena dia harus berkorban demi menyelamatkan mommy yang sedang mengandung kakakmu."


"Mom, apa saat itu kau bahagia?" Silvia merasa iba dengan kehidupan yang pernah dijalani oleh ibunya.


"Sayang itu sudah berlalu dan sekarang aku sangat bahagia, mommy memang tidak pernah mengalami masa pacaran dan cinta yang manis tapi mommy sangat bahagia menikah dengan daddymu apalagi sudah ada kalian dan dia sangat mencintaiku."


"Jadi dengarkan nasehat mommy sayang, jika kau memang sudah yakin dengan seseorang dan orang itu serius denganmu jadi jangan kau sia-siakan. Aku lihat Abraham sangat serius denganmu karena dia begitu berani mengejarmu sampai kemari. Orang yang berpacaran lama-lama kemudian menikah belum tentu bahagia sedangkan orang yang langsung menikah tanpa berpacaran lagi justru bahagia, kau tahu kenapa sayang?"


Silvia menggeleng sedangkan Xiau Yu kembali tersenyum.


"Keutuhan rumah tangga tergantung dari kita yang menjalaninya bukan tergantung lamanya kita berpacaran."


"Oh my mom, you are the best." Silvia langsung memeluki ibunya, dia tidak akan ragu untuk menerima Abraham saat Abraham melamarnya nanti.


Putri kecilnya sudah besar sekarang, mungkin dalam waktu dekat Silvia akan segera menikah dan mengikuti suaminya tinggal di Australia, jujur dia merasa sangat sedih tapi bagaimanapun dia harus tetap melepaskan putrinya.


Setelah rambutnya selesai dikepang oleh ibunya, Silvia melihat penampilannya didepan cermin, dia tampak begitu cantik dengan gaun malam yang dikenakannya.


Ini masih terlalu awal tapi dia sudah tidak sabar untuk menemui Abraham, dia segera memeluki ibunya dan berkata:


"Mom, aku pergi dulu ya."


"Hati-hati sayang dan ambillah keputusan yang tepat."


"Tentu saja, bye mom."


Silvia segera pergi dan meminta supir pribadinya untuk mengantarkannya dimana Abraham menginap saat ini, tentu dia tahu tempat itu karena Abraham memberitahunya dimana dia menginap.


Dia bahkan berlari memasuki hotel saat sudah tiba, rasanya dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Abraham.


Dengan bantuan dari seorang petugas hotel, dia menaiki lift menuju kamar dimana Abraham berada.


Bahkan saat tiba didepan pintu kamar Abraham, dia mengetuk pintu kamar itu dengan cepat dan tidak lama kemudian Abraham membuka pintu itu dan sangat heran melihatnya.


"Silvia? Kenapa kau datang kemari? Kenapa tidak langsung pergi kerestoran saja?"

__ADS_1


"Ada yang ingin aku bicarakan."


Silvia langsung menerobos masuk kedalam kamar, hal itu benar-benar membuat Abraham heran,ada apa?


"Apa kau sudah menyiapkan cincinnya?" tanya Silvia.


"Tentu saja."


"Jika begitu segera lamar aku Abraham sebelum aku berubah pikiran."


"Wah, kau sudah sangat tidak sabar rupanya." Abraham menutup pintu kamarnya dan berjalan mendekati Silvia.


"Sekarang atau tidak sama sekali!"


"Kau tidak ingin dilamar dengan romantis?"


"Tidak perlu jadi lamar aku sekarang!"


Abraham terkekeh dan memasukkan tangan kedalam saku celananya, dia mengeluarkan sebuah kotak dari sana.


Abraham membuka kotak cincin itu dan berlutut dihadapan Silvia sambil berkata:


"Silvia Smith, will you marry me?"


Silvia tersenyum dan memberikan tangannya didepan Abraham sambil berkata.


"Pakaikan cincin itu sekarang dan aku tunggu satu minggu lagi untuk membawaku kealtar, jika lewat dari itu maka aku akan berubah pikiran."


"Oh my God, kenapa kau jadi tidak sabar?"


"Jika tidak mau tidak apa-apa."


Abraham bangkit berdiri dan menyematkan cincin berlian dijari manis Silvia sedangkan senyumnya mengembang diwajahnya, mana mungkin dia tidak mau, tentu saja dia mau.


"Tunggulah satu minggu lagi sayang, aku pasti akan menjadikanmu milikku."


"Aku tunggu!" Silvia segera melompat ketubuh Abraham dan menciumi bibirnya sedangkan Abraham menyambut bibir Silvia dan mereka berciuman dengan mesra.


Beberapa saat kemudian mereka melepaskan ciuman mereka dan saling pandang.


"Bagaimana dengan makan malamnya? Aku sudah menyiapkan makan malam romantis untuk melamarmu."


"Kita akan pergi makan setelah ini." Silvia mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir Abraham.


"Dan setelah ini!" ucapnya lagi sedangkan dia kembali menciumi bibir Abraham.


"Kau nakal!"


Silvia hanya tertawa dan memeluk Abraham dengan erat, dia sangat bahagia dan berkat nasehat dari ibunya dia tidak akan merasa ragu lagi.

__ADS_1


Mereka kembali berciuman dan setelah itu mereka berdua segera keluar dari kamar hotel untuk pergi makan malam romantis direstoran tepi pantai.


__ADS_2