Falling In Love With You

Falling In Love With You
Gara-gara Nick


__ADS_3

Abraham sangat kaget saat melihat Silvia berada disana begitu juga dengan Nick, mereka tidak menyangka jika Silvia akan datang tiba-tiba.


Apa Silvia mendengar pembicaraan mereka barusan? Ini sungguh gawat dan Abraham berharap Silvia tidak salah paham dengan ucapan yang dilontarkan oleh Nick.


Abraham memberi tanda kepada Nick supaya asisten pribadinya itu untuk keluar tapi sebelum Nick mengerti dengan maksud bosnya, Silvia sudah berjalan mendekati Abraham dengan senyum diwajahnya.


Abraham membalas senyuman Silvia dan berkata dalam hatinya, mungkin Silvia tidak mendengar pembicaraan mereka dan sepertinya aman.


Saat melihat itu Nick segera keluar dari ruangan bosnya karena dia tidak mau mengganggu waktu kedua orang itu.


"Hei kenapa kau tidak mengatakan padaku jika kau akan datang lebih awal?" tanya Abraham basa basi.


"Kenapa? Apa tidak boleh?" Silvia menghentikan langkahnya dan menatap Abraham dengan tajam.


"Tidak bukan begitu!"


"Oh aku sangka tidak boleh, tapi jujur saja aku sangat bersyukur datang lebih awal, jika aku terlambat sedikit saja mungkin aku tidak akan mendengar pembicaraan kalian yang sangat menarik."


"Silvia, ini tidak seperti yang kau pikirkan."


"Memangnya apa yang aku pikirkan?" tanya Silvia dengan dingin.


"Sudahlah, ayo kita bicarakan hal ini baik-baik."


"Bicaralah pada dirimu sendiri, ba**ngan!!"


Tanpa Abraham duga, Silvia langsung melompat kearahnya dan mengangkat satu lututnya.


"Bhukk!!" dengan sekuat tenaga Silvia mengadukan lututnya keperut Abraham hingga Abraham meringis kesakitan.


"Ughh!!" Abraham sangat kaget dan pada saat itu dia langsung membungkuk untuk memegangi perutnya yang terkena lutut Silvia.


Ini yang kedua kalinya dan dia tidak menyangka jika Silvia akan melakukan hal itu lagi padanya. Apa Silvia sangat marah mendengar ucapan Nick tadi?


"Hei kenapa kau melakukan hal ini padaku?" teriaknya.


Silvia tidak menjawab, dia sudah cukup mendengar semua pembicaraan kedua pria itu dan sekarang dia sangat mengerti kenapa Abraham mendekatinya dan betapa bodohnya dia telah jatuh kedalam permainan Abraham Achilles.


Padahal dia mengira Abraham telah berubah dan seharusnya dia curiga, tapi buat apa Abraham melakukan hal itu padanya? Bukankah sudah dia katakan jika dia sudah tidak menginginkan lahan panti itu lagi, lalu apa tujuan Abraham melakukan hal ini padanya?

__ADS_1


Silvia memutar langkahnya dan segera berlari keluar, dia sudah cukup dengan pria itu dan sekarang jangan harap dia akan menemui Abraham lagi.


Sebenarnya dia sangat ingin memukul Abraham sampai mati tapi dia tidak punya waktu, dia harus segera pergi karena Dave telah menunggunya dan dia tidak mau berbicara dengan Abraham lagi.


Dari pada banyak berbicara dengan pria itu lebih baik dia pergi, membeli tempat yang dia inginkan untuk para anak panti karena hal itu lebih penting dari pada Abraham Achilles.


"Hei tunggu!"


Abraham segera mengejar Silvia dengan cepat sedangkan Silvia langsung masuk kedalam lift yang terbuka, dia tidak akan pernah datang kesana lagi.


Abraham mengumpat dalam hati,kenapa Silvia malah lari? Apa Silvia benar-benar marah saat mendengar perkataan Nick?


Dia segera masuk kedalam lift pribadinya, mungkin dia bisa bertemu dengan Silvia dibawah sana dan dia harap liftnya bisa cepat sampai kebawah terlebih dahulu.


Didalam Lift, Silvia diam saja.dia bersandar pada dinding lift sambil memejamkan matanya, dia juga menarik nafasnya untuk menenangkan emosinya.


Dia tidak mau emosinya meledak disana hanya untuk seorang ba**ngan seperti Abraham Achilles, apa lagi dia menyadari jika kesalahan ada pada dirinya sendiri yang dengan mudahnya terjebak oleh permainan yang dimainkan oleh Abraham.


Ternyata selama ini Abraham mendekatinya dengan suatu tujuan dan seharusnya dia tidak merasa heran, seharusnya dia menyadari akan hal itu dan tidak terlibat lebih jauh dalam kehidupan Abraham.


Saat pintu lift telah terbuka Silvia segera berlari keluar, ini terakhir kalinya dia berada disana dan untungnya Dave telah menunggunya.


"Sialan! Ini gara-gara Nick,awas dia!" umpatnya kesal.


Abraham menghentikan langkahnya saat berada didepan loby, mungkin sebaiknya dia pergi kerumah Silvia untuk menjelaskan semuanya dan nanti malam akan dia lakukan.


Percuma jika dia mengejar Silvia saat ini karena dia tidak tahu kemana Silvia akan pergi, lebih baik dia menghubungi Silvia terlebih dahulu dan menjelaskan hal ini. Dia juga akan mengajak Silvia bertemu nanti malam.


Abraham segera memutar langkahnya masuk kedalam kantornya, lebih baik dia kembali keatas untuk mengambil ponsel yang dia Simpan dilaci mejanya saat mengikuti rapat.


Sementara didalam mobilnya, Silvia tampak temenung melihat jalanan, hal itu membuat Dave sangat heran, ada apa dengan nona mudanya?


Kenapa diam saja sedari tadi dan terlihat murung? Padahal Silvia tampak begitu bersemangat tadi, tapi kenapa sekarang malah terlihat tidak bersemangat?


"Dave."


"Ya nona."


"Setelah membeli tempat itu antarkan aku kepanti asuhan."

__ADS_1


"Baik nona."


"Dave, aku ingin meminta bantuanmu, maukah kau membantuku?"


"Tentu nona, aku akan membantumu dengan senang hati jadi katakan apa yang bisa aku lakukan untuk nona?"


"Besok aku mau kembali ke Amerika."


Saat mendengarnya Dave terbelalak kaget, kenapa begitu tiba-tiba? Apa telah terjadi sesuatu?


"Jadi bisakah kau mengurus para anak panti menggantikan aku? Aku ingin setelah tempat itu dibeli mereka langsung pindah tapi bagaimanapun tempat itu harus dirombak, aku ingin kau mencari beberapa pekerja yang bisa merombak tempat itu dengan cepat."


"Tentu nona, aku akan mengurus para anak panti itu menggantikan nona tapi kenapa nona begitu mendadak ingin pulang? Apa terjadi sesuatu?"


Silvia tersenyum dan menatap jalanan yang mereka lalui.


"Tidak Dave, aku hanya ingin pulang karena aku sangat merindukan Edward dan Jacob."


"Oh, aku sangat ingin bertemu dengan mereka, mereka pasti sangat lucu."


"Kau benar Dave, mereka sangat menggemaskan dan setelah ini aku ingin pergi membeli mainan untuk mereka."


Dave mengernyitkan dahinya, mainan?


"Nona, bukankah kau sudah membelinya?" tanyanya, apa Silvia lupa dengan mainan yang dia bawa pulang waktu itu?


"Dave, tolong berikan mainan itu pada orang lain." pintanya.


"Kenapa nona?"


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin membelikan mainan yang lain untuk mereka."


"Baiklah jika begitu."


Silvia kembali diam, mainan itu dari Abraham dan dia tidak butuh mainan dari pria itu, dia tidak sudi memberikan mainan dari orang yang sangat dia benci saat ini pada kedua keponakannya, dia tidak sudi.


Selama diperjalanan ponselnya terus berbunyi dan dia tidak mau menjawabnya, bisa dia tebak pasti Abraham yang menghubunginya dan benar saja dugaannya, pria itu menghubunginya berkali-kali sampai dia merasa kesal.


Silivia mematikan ponselnya dan membuang kartu yang ada didalamnya, untuk apa lagi Abraham menghubunginya padahal tidak ada yang perlu mereka bicarakan lagi.

__ADS_1


Lebih baik mereka kembali menjadi orang asing dan tidak saling mengenal, sedangkan didalam ruangannya Abraham tampak frustasi dan melemparkan ponselnya, dia merasa marah karena nomor ponsel Silvia tidak bisa dihubungi lagi.


__ADS_2