
Silvia sedang bersiap-siap untuk pergi menemui Abraham siang ini, mereka ada janji untuk makan siang bersama tapi waktu masih menunjukkan pukul sepuluh siang.
Karena dia tidak ada kerjaan jadi lebih baik dia bersiap-siap dan pergi kesana, dia bisa menunggu diruangan Abraham sampai Abraham menyelesaikan pekerjaannya.
Walaupun dia tidak tahu harus melakukan apa disana nantinya, saat dia sudah memakai bajunya terdengar suara Dave didepan pintu kamarnya.
"Nona, tuan Jimy datang ingin bertemu dengan anda."
Jimy? Lagi-lagi dia lupa dengan Jimy! Dia lupa jika Jimy akan datang hari ini dan dia juga ingin meminta maaf pada Jimy mengenai semalam.
"Baiklah, aku akan segera keluar." teriaknya dari dalam sana.
Setelah menyisir rambutnya Silvia segera keluar dari kamarnya, dia segera berjalan keruang tamu dimana Jimy sudah menunggunya.
"Hai Jimmy." sapanya basa basi.
"Oh hai, maaf mengganggumu." jimy bangkit berdiri dan tersenyum saat melihat Silvia.
"Tidak apa-apa Jimy, silahkan duduk."
Dia segera duduk dihadapan Jimy sedangkan Jimy berjalan kearahnya dan duduk disampingnya, hal itu benar-benar membuatnya sangat heran, mau apa Jimy duduk disampingnya?
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu Silvia."
"Aku juga, maaf telah mengabaikanmu semalam Jimy." ujar Silvia tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, jangan pikirkan hal seperti itu Silvia, aku juga minta maaf karena telah menghancurkan suasana semalam."
"Tidak apa-apa Jimy,bjadi apa yang ingin kau bicarakan? Apa ada hal penting sampai kau datang kemari?"
Jimy tampak sedikit ragu dan gugup, Silvia melihat dengan penuh tanda tanya,ada apa?
"Jimy?"
"Oh, eng itu?" jawab Jimy dengan ragu.
"Bicaralah, aku akan mendengarkan, apa kau perlu bantuanku?"
"Tidak bukan begitu Silvia."
"Lalu?" tanya Silvia lagi. Dia sungguh tidak mengerti, apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Jimy?
"Hmm..begini." Jimy menggaruk pelipisnya yang tidak gatal dan berusaha untuk tersenyum.
"Ya." Silvia menunggu dengan tidak sabar,bdia jadi penasaran dengan apa yang hendak Jimy katakan padanya.
__ADS_1
Jimy menghembuskan nafasnya sejenak, setelah itu dia langsung menggenggam kedua tangan Silvia dan hal itu sangat membuat Silvia kaget.
Dia juga kaget saat melihat wajah Jimy yang terlihat serius dan tatapan mata Jimy yang menatapnya dengan tajam.
"Wǒ ài nǐ."
(Aku mencintaimu.)
"Hah?" saat mendengarnya Silvia terbelalak kaget, dia terdiam tidak tahu harus menjawab apa sedangkan Jimy semakin menggenggam kedua tangannya dengan erat.
"Wǒ ài nǐ, nǐ huì chéngwéi wǒ de nu péngyǒu ma?"
(Aku mencintaimu, jadi maukah kau menjadi pacarku?) tanya Jimy lagi.
Silvia jadi serba salah, ini sangat mendadak dan dia tidak tahu jika selama ini Jimy menyimpan perasaan untuknya.
Padahal dia mengira jika mereka hanya teman saja tapi siapa sangka ternyata Jimy menyimpan perasaan untuknya dan sekarang dia merasa sangat tidak enak hati pada Jimy.
"Nǐ xiǎng chéngwéi wǒ de nǚ péngyǒu ma?"
(Apakah kau mau jadi pacarku?) Jimy bertanya lagi dengan penuh harap.
Silvia segera menarik tangannya dari genggaman Jimy, dia juga berusaha tersenyum pada Jimy.
"Duìbùqǐ."
Jimy langsung kecewa saat mendengarnya, dia langsung bangkit berdiri begitu juga dengan Silvia, dia juga bangkit berdiri mengikuti Jimy.
"Jimy maafkan aku, aku hanya menganggap dirimu sebagai sahabatku saja." ujarnya dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Silvia, aku yang terlalu banyak berharap, maaf telah mengganggu waktumu." setelah berkata demikian Jimy segera keluar dari sana sedangkan Silvia diam saja melihat kepergian Jimy dengan rasa bersalah.
Tapi ini harus dia lakukan karena dia memang hanya menganggap Jimy sebagai sahabatnya saja dan dia bukan orang yang suka memberikan harapan pada siapapun.
Setelah kepergian Jimy, Dave menghampiri Silvia dan mengatakan sesuatu.
"Nona, agen properti menelephone dan berkata jika dia ingin bertemu dengan nona untuk membicarakan tempat itu lebih lanjut. Jika bisa siang ini dia mengajak nona untuk bertemu dan dia berkata dia sudah menyiapkan surat-suratnya dan menyiapkan seorang pengacara."
"Siang ini?"
"Benar."
Silvia tampak berpikir sejenak, mungkin dia harus membatalkan janjinya dengan Abraham, tempat itu lebih penting dari pada janjinya. Dia harus segera membeli tempat itu supaya anak-anak panti bisa pindah secepatnya.
"Baiklah, katakan aku akan menemuinya dan kau harus menyiapkan surat-suratmu Dave karena kau harus mewakili aku membeli tempat itu."
__ADS_1
"Baik nona."
Dave segera melangkah pergi sedangkan Silvia masuk kedalam kamarnya, dia segera menggambil ponselnya untuk menghubungi Abraham, dia akan membatalkan janji mereka siang ini.
Tapi walau begitu, Abraham tidak menjawab panggilan ponselnya, dia sudah mencoba berkali-kali tapi hasilnya tetap sama.
Silvia meletakkan ponselnya dan menarik nafasnya dengan berat, mungkin dia harus mampir sebentar ke kantor Abraham untuk membatalkan janji mereka.
Setelah rapi dia segera keluar lagi dan meminta Dave mengeluarkan mobil untuk mengantarkannya kekantor Abraham sebentar.
Saat dia melewati rumah Jimy,dia melihat Jimy sedang duduk temenung, hal itu sungguh membuatnya tidak enak hati tapi mau bagaimana lagi, dia memang menganggap Jimy sebagai sahabatnya dan dia tidak memiliki perasaan yang spesial untuk Jimy.
Lebih baik seperti ini, toh pada akhirnya dia akan kembali ke Amerika dan saat itu tidak akan lama lagi, saat dia sudah membeli tempat baru untuk para anak panti dan memindahkan mereka, pada saat itulah dia akan pulang.
Walaupun dia masih ingin berlama-lama disana tapi dia tidak bisa apalagi kartu identitasnya yang hilang, dia harus kembali untuk membuat yang baru.
Saat dia telah tiba dikantor Abraham, dia meminta Dave untuk menunggunya karena dia tidak akan lama.
Dia akan segera pergi setelah membatalkan janjinya pada Abraham jadi begitu selesai, dia akan langsung pergi untuk membayar tempat yang dia inginkan.
Silvia segera masuk kedalam lift untuk menuju ruangan Abraham sedangkan Abraham baru menyelesaikan rapatnya dan masuk kedalam ruangannya bersama dengan Nick.
Dia tidak tahu jika Silvia sedang menuju keruangannya.
"Bos, gambar bangunan yang akan dibangun dilahanmu sudah dikirim kealamat emailmu."
"Baiklah aku akan melihatnya nanti."
"Bos bagaimana panti asuhan itu, apa akan tetap anda bongkar?"
"Mungkin!" jawab Abraham dengan malas.
Dia juga belum memikirkan hal ini lagi, apa dia harus membongkar panti asuhan itu? Atau dia harus membiarkan bangunan itu tetap berdiri disana?
"Bagaimana dengan nona Silivia, apa dia sudah menyerah untuk mendapatkan lahan panti itu?" tanya Nick lagi, jujur dia sangat penasaran.
Abraham melihat kearah Nick sedangkan sebuah senyuman menghiasi wajahnya.
"Menurutmu Nick?"
"Wah bos, apa kau berhasil mendekatinya sehingga dia menyerah untuk membeli tempat itu darimu?"
"Yah?" Abraham bangkit berdiri dan berjalan kearah jendela.
"Kau sangat hebat bos, kau mendekati nona Silvia supaya dia terpikat denganmu dan setelah itu dia menyerah untuk mendapatkan lahan panti milikmu dengan begitu kau bisa membongkar tempat itu tanpa ada kendala."
__ADS_1
Sebelum Abraham dapat menjawab ucapan Nick, pintu ruangannya terbuka dan Silvia berdiri disana, menatapnya dengan tajam dengan kemarahan terlihat jelas dimatanya.