
Setelah membuat kopi Jenny langsung membawa kopi itu menuju ruangan Abraham, dia yakin Abraham pasti akan masuk kedalam jebakannya.
Tidak saja membawa Kopi, dia juga membawa sepotong sandwich yang dia bawa dari rumah, tadinya dia ingin memakan sandwich itu tapi dia urungkan.
Lebih baik dia memberikan makanan itu pada Abraham supaya Abraham terkesan akan perhatian yang dia berikan.
Saat tiba didepan ruangan Abraham, dia mengetuk pintu besar yang terbuat dari kayu jati dengan pelan.
Setelah mendapat perintah oleh Abraham dari dalam sana, Jenny segera mendorong pintu itu dengan satu tangannya sedangkan tangan lainya sadang membawa nampan dimana segelas kopi dan sepotong sandwich berada diatasnya.
Dia masuk kedalam sambil tersenyum dengan manis sedangkan Abraham sibuk dengan pekerjaannya.
"Abraham, ini kopi yang kau inginkan."
Abraham mengangkat kepalanya dan menatap Jenny dengan tajam, beraninya Jenny memanggilnya dengan tidak sopan!
"Kau panggil aku apa tadi?" bentaknya.
"Hmm...maaf." Jenny menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap kearah Abraham.
Abraham kembali fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan Jenny, dia tidak perduli akan keberadaan wanita itu sekalipun anak teman ibunya.
Jenny memaki dalam hati, kenapa Abraham begitu kasar padanya? Tapi itu tidak jadi soal karena hari ini dia akan pastikan bahwa Abraham akan menjadi miliknya.
Dia segera melangkah mendekati meja Abraham, dia juga meletakkan kopi yang ada diatas meja dan berkata:
"Kopimu."
Abraham melihat kopi itu dengan sepotong sandwich diatas piring, dia hanya minta kopi tapi kenapa harus ada sepotong sandwich disana?
"Jenny?"
"Ya."
"Apa aku meminta sandwich tadi?" tanyanya dengan dingin.
"Tidak." Jenny kembali menunduk.
"Lalu kenapa ada sandwich disini?"
"Oh itu aku pikir sandwich cocok jika dimakan dengan kopi." jawab Jenny beralasan.
"Brakk!" Abraham menggebrak mejanya dengan kencang sampai membuat Jenny kaget.
"Jika aku minta kopi maka cukup buatkan aku kopi!" bentaknya.
"Maaf, maafkan aku!"
Jenny segera meraih sandwichnya dengan cepat, tidak apa-apa karena yang dia harapkan adalah Abraham meminum kopi itu.
Abraham meraih gelas kopinya dan pada saat itu Jenny langsung tampak senang, tinggal sedikit lagi, saat Abraham meminum kopi itu maka pada saat itu juga Abraham akan menjadi miliknya.
Jenny menanti dengan jantung berdebar-debar sedangkan sebuah seringgai menghiasi wajahnya.
"Ya Abraham minumlah kopi itu sampai habis." katanya dalam hati.
__ADS_1
Abraham menatap Jenny dengan tajam, kenapa Jenny belum keluar dari ruangannya?
"Kenapa kau belum keluar?" tanyanya dengan dingin.
"Oh maaf, aku hanya ingin tahu apa kau suka dengan kopinya atau tidak? Karena itu kopi yang pertama kali aku buat." jawab Jenny pura-pura.
"Oh begitu." Abraham meletakkan gelas kopi itu kembali tanpa meneguk isinya.
Mata Jenny membulat, tidak!
"Jika kau ingin tahu maka duduklah."
Saat mendengarnya Jenny sedikit kaget tapi dia segera menarik kursi dan duduk dihadapan Abraham.
Dia kira Abraham memintanya duduk untuk menunggu sampai Abraham selesai meminun kopi,jika demikian maka ini adalah hal yang sangat menguntungkan untuknya, saat Abraham menghabiskan kopi itu dan obat yang ada disana mulai bekerja maka pada pada saat itulah kesempatannya.
"Habiskan kopi ini!" Abraham mendorong gelas kopi itu kehadapan Jenny.
Mata Jenny melotot, apa dia tidak salah dengar?
"Hmm..tapi kopi ini untukmu."
"Aku ingin kau mencoba kopi hasil buatanmu sendiri jadi kau habiskan kopi itu saat ini juga!" perintah Abraham.
"Eh tapi?" Jenny tampak pucat, ini diluar rencananya.
Jika dia yang meminum kopi itu maka habislah dia, ini namanya senjata makan tuan.
Abraham melihat Jenny dengan curiga, wajah Jenny yang tampak pucat dan tingkahnya yang serba salah, ini sangat mencurigakan, apa Jenny menyembunyikan sesuatu darinya?
"Kenapa? Apa kau menyembunyikan sesuatu?" tanyanya.
Jenny bangkit berdiri dan meletakan kopi dan sandwich itu kedalam nampan sedangkan Abraham tambah curiga, ada apa dengan kopi itu?
"Aku memintamu meminumnya disini apa kau tidak dengar?" Abraham bangkit berdiri dan berjalan kearah Jenny, dia berdiri didepan Jenny dan menatap Jenny dengan tajam.
"Maaf bukannya aku tidak mau meminumnya tapi aku tidak suka meminum kopi." kilah Jenny beralasan.
"Jika tidak bisa minum kopi lalu kenapa kau bisa membuat kopi?" tanya Abraham dengan dingin.
"Semua orang bisa membuat kopi Abraham tanpa harus mengkonsumsinya."
"Kau panggil aku apa tadi?"
"Maaf bos." Jenny langsung menunduk.
"Jika kau masih mau bekerja ditempat ini maka habiskan kopinya sekarang juga!"
Jenny menggertakkan giginya, jika dia meminum kopi itu maka habislah sudah, tapi jika dia menolak perintah Abraham maka dia akan dipecat dan tidak bisa dekat dengan Abraham lagi.
Dia sedikit menyesal, seharusnya dia langsung keluar tadi tapi jika itu dia lakukan, dia khawatir pada saat obat itu bereaksi Abraham akan pergi dan mencari pelampiasan pada orang lain hingga kesempatannya hilang.
"Tidak, aku tidak mau!"
"Kenapa? Apa kau menyimpan sesuatu didalam kopi itu?" tanya Abraham curiga.
__ADS_1
Wajah Jenny kembali memucat sedangkan tangannya mulai bergetar, apa Abraham tahu tentang obat itu? Apa ada seseorang yang melihatnya saat memasukkan obat kedalam kopi itu?
Ini benar-benar gawat!
"Tidak Abraham, tidak!"
Abraham mengangkat satu alisnya dan tersenyum dengan sinis, melihat reaksi Jenny membuatnya tambah yakin jika Jenny telah menyimpan sesuatu kedalam kopi itu.
Dia segera memutar langkahnya dan kembali kekursinya, dia juga menatap Jenny dengan tajam dan berkata:
"Jenny aku menerimamu bekerja disini karena kau putri sahabat ibuku, walaupun aku memberimu posisi sebagai cleaning service tapi aku berharap kau bekerja dengan sungguh-sungguh! Bukankah aku sudah berkata dua bulan lagi aku akan memberikan sebuah posisi tapi kenapa kau tidak memikirkan kesempatan ini dan malah berpikiran dangkal bahkan hendak meracuniku."
"Tidak Abraham, aku tidak meracunimu!" jawab Jenny dengan cepat.
"Lalu?"
Jenny menghela nafasnya dengan berat, baiklah dia akan mengatakannya.
"Abraham aku menyukaimu, saat ibuku mengatakan jika kita akan dijodohkan saat itu aku sangat senang."
"Sungguh konyol! Kita belum pernah bertemu tapi kau sudah menyukaiku!" sela Abraham dengan cepat.
"Mungkin kau pikir ini konyol tapi menurutku tidak! Aku sudah menyukaimu sejak lama!"
"Aku tidak perduli sebaiknya kau pergi dari sini dan mulai sekarang kau ku pecat!" bentak Abraham kesal.
"Tidak jangan pecat aku, aku sungguh minta maaf, aku tidak menaruh racun dalam kopi ini."
Abraham menghembuskan nafasnya dengan kasar, kenapa perempuan selalu pandai bersilat lidah?
"Jika kau tidak mau tidak apa-apa! Tapi katakan apa yang kau masukkan kedalam kopi itu?"
Jenny daim saja sampai membuat Abraham menggebrak mejanya kembali kerena kesal.
"Jawab!" teriaknya marah.
"Obat perangsang!" teriak Jenny pula, dia sudah tidak perduli lagi apa yang akan terjadi nanti.
Abraham terbelakak kaget, obat perangsang? Jadi Jenny ingin menjebaknya dengan obat sialan itu? Sungguh bagus!
"Kau benar-benar!!" geramnya marah.
Jenny ketakutan saat melihat tatapan Abraham dan wajahnya yang tampak marah.
"Keluar sekarang juga kau ku pecat!j
Jangan pernah mencari ibuku lagi dan jangan pernah harap kau bisa bertemu denganku lagi!" usir Abraham.
"Tolong jangan pecat aku!" pinta Jenny memohon.
"Sebaiknya kau keluar sebelum aku memerintahkan seseorang untuk memaksamu meminum kopi itu dan melemparmu keluar, jangan sampai hal itu terjadi kalau tidak kau akan manjadi seorang ja**ng diluar sana!" ancam Abraham dengan dingin
Jenny menggigit bibirnya, sepertinya dia tidak punya pilihan lain! Dia segera memutar langkahnya untuk keluar dan memaki dalam hati:
"Semua ini gara-gara kopi sialan ini!"
__ADS_1
Abraham menghempaskan dirinya diatas kursi dan bernafas dengan lega, hampir saja dia masuk kedalam jebakan Jenny.
Dia menganggap jika ini keberuntungan untuknya jika tidak dia akan berakhir dalam permainan Jenny.