
Dipanti asuhan Silvia sedang duduk dengan anak-anak yang ada disana, dia sedang menunggu suster Maria karena ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
Suster Maria sedang sibuk saat ini jadi dia akan menunggu dengan sabar, lagi pula dia hanya punya waktu hari ini saja karena besok pagi dia akan langsung pulang ke Amerika.
Dia tidak mau berlama-lama lagi di Sydney dan dia rasa dia juga tidak akan kembali ketempat itu untuk beberapa tahun kedepan.
Setelah mendapatkan identitas baru lebih baik dia pergi jalan-jalan keliling dunia, melupakan apa yang terjadi di Sydney.
Setelah membeli tempat untuk para anak panti, Silvia langsung menuju ke panti asuhan itu, tentu untuk bertemu dengan para anak-anak yang ada disana dan mengucapkan perpisahan kepada mereka. Tidak itu saja, dia harus berbicara kepada suster Maria mengenai tempat yang telah dia beli.
Tidak lama kemudian suster Maria datang menghampiri Silvia dengan senyum diwajahnya.
"Maaf membuatmu menunggu nona Silvia." ujar suster Maria dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa suster."
"Apa kabarmu nona Silvia? Kau hanya tidak datang beberapa hari saja tapi anak-anak sudah begitu merindukanmu."
"Aku baik suster, sangat baik."
"Oh itu sangat bagus, aku sangat senang mendengarnya. Setiap hari anak-anak selalu menanyakan dirimu padaku apalagi Candy, dia selalu bertanya setiap waktu kenapa kau tidak datang kemari?"
Silvia langsung tertawa, dia tidak menyangka anak-anak yang berada disana begitu menyukainya dan entah mengapa dia jadi merasa berat untuk berpisah dengan anak-anak yang ada disana, tapi cepat atau lambat dia tetap harus pulang ke Amerika.
"Aku sibuk beberapa hari ini dan maaf aku tidak datang, aku terlalu sibuk terlibat dengan seseorang hingga aku melupakan anak-anak yang ada disini."
"Tidak apa-apa nona Silvia, jangan meminta maaf. Kau punya kehidupan pribadi dan pastinya dengan kepentingan pribadi juga."
"Suster benar."
__ADS_1
Silvia menghembuskan nafasnya dengan berat, dia telah masuk kedalam permainan Abraham beberapa hari ini dan melupakan tujuannya yaitu para anak panti.
Untung saja dia cepat tahu apa yang direncankan oleh Abraham, jika tidak mungkin dia akan terlibat lebih jauh dalam permainan pria itu dan melupakan para anak panti.
"Suster Maria, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu."
Pada saat itu Suster Maria meminta anak-anak yang ada disana untuk pergi, bisa dia tebak Silvia pasti mau membicarakan hal yang penting padanya.
"Bicaralah nona, apa yang ingin kau katakan."
"Suster besok aku mau pulang ke Amerika."
Saat mendengarnya, suster Maria terbelalak kaget, pulang? Kenapa begitu cepat?
"Kenapa nona Silvia tiba-tiba ingin pulang? Apa terjadi sesuatu disana atau kota Sydney kurang menyenangkan?"
Silvia tersenyum dan memegangi tangan suster Maria, dia tahu ini keputusan yang begitu mendadak tapi dia tidak mau berada dikota itu lagi dan menyudahi masa liburannya.
"Oh ya ampun, apa nanti nona Silvia akan kembali lagi?"
"Maaf suster aku rasa aku tidak akan kembali dalam waktu dekat. Tapi suster Maria tidak perlu khawatir, aku telah membeli tempat yang layak untuk para anak panti yang ada disini. Tadinya aku ingin mengajak suster Maria melihat tempat itu tapi maaf aku tidak punya banyak waktu."
"Suster Maria dan para anak-anak tidak perlu khawatir, tempat itu jauh lebih bagus dari pada tempat ini dan memang harus sedikit dirombak, aku telah memerintahkan Dave untuk mencari orang yang bisa merombak tempat itu dengan cepat. Aku pastikan sebelum tempat ini dibongkar oleh Abraham, kalian pasti sudah dipindahkan oleh Dave dan aku juga akan menjamin tidak akan ada yang bisa mengambil tempat itu dan mengusir kalian lagi."
Suster Maria langsung memeluk Silvia dan menangis, kenapa ada orang yang begitu baik?
Sekalipun orang itu kaya raya dan kelebihan uang, belum tentu ada yang mau melakukan hal seperti yang dilakukan oleh Silvia dan dia benar-benar sangat berterima kasih pada kebaikan Silvia.
"Nona Silvia kau memang malaikat yamg diutus oleh Tuhan, datang tiba-tiba dan pergi dengan tiba-tiba juga, tapi walau begitu, kau memberikan kebahagiaan tidak hanya kepada anak-anak yang ada disini tapi kau juga memberikan kebahagian untuk kami para suster yang ada disini. Aku sangat berterima kasih padamu, dangat berterima kasih." ujar Suster Maria sambil menangis.
__ADS_1
Silvia membalas pelukan suster Maria dengan senyum diwajahnya, dia hanya merasa dia sedang melakukan apa yang memang harus dia lakukan dan menurutnya ini hal yang sangat wajar.
"Jangan berbicara seperti itu suster Maria, ini sudah menjadi kewajibanku. Kita harus saling tolong menolong jika ada yang mengalami kesulitan apa lagi jika menyangkut hak anak-anak, aku sungguh tidak bisa diam saja."
"Kau benar-benar berhati malaikat nona Silvia dan aku berdoa untukmu, kau akan selalu mendapatkan kebagiaan."
"Terima kasih suster tapi aku ingin meminta tolong padaku satu hal."
"Katakan padaku, aku pasti akan membantu nona Silvia sebisa mungkin."
"Suster, jika Abraham Achilles datang kemari dan menanyakan keberadaanku kepada suster tolong jangan katakan padanya jika aku telah kembali ke Amerika."
Suster Maria melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya, dia juga menatap Silvia dengan heran, apa telah terjadi sesuatu pada kedua orang ini?
Tapi itu masalah pribadi mereka berdua dan dia tidak boleh ikut campur.
"Tentu saja nona Silvia, jika dia datang aku tidak akan mengatakan hal ini padanya."
"Terima kasih suster." Silvia tersenyum dan setelah itu dia bangkit berdiri, dia harus segera pergi dan dia ingin berpamitan kepada para anak panti yang ada disana sebelum dia pergi.
Tentu para anak-anak sangat sedih melepas kepergiannya bahkan ada yang menangis begitu juga dengan Candy, dia memeluk Silvia dengan erat dan tidak mau melepaskan kepergian Silvia.
Silvia berusaha membujuk Candy dan berjanji akan mengunjunginya lagi saat dia kembali kesana, walaupun dia tidak tahu kapan dia akan kembali tapi dia berjanji pasti akan mengunjungi mereka ditempat yang baru saat dia kembali nanti.
Para anak-anak melepas kepergiannya dengan berat hati dan menangis, hal itu membuat hati Silvia sedih dan tanpa terasa dia mulai menangis.
Apa keputusannya kembali ke Amerika secara tiba-tiba adalah sebuah kesalahan?
Dengan berat hati Silvia melangkah keluar dari panti asuhan itu sambil menangis, dia juga masuk kedalam mobilnya dengan cepat tanpa mau menoleh melihat anak-anak yang masih menangis.
__ADS_1
Dia bahkan meminta Dave menjalankan mobilnya dengan cepat dan meminta Dave mengantarnya ketoko mainan, apapun yang terjadi dia akan kembali ke Amerika.