
Saat terbangun dari tidurnya, Silvia merasa sakit kepala dan tubuhnya terasa lelah, entah apa yang terjadi tapi dia malas bangun.
Rasanya dia ingin tidur seharian dipeluki oleh suaminya tapi dia harus bangun untuk membuat sarapan.
Dia tidak tahu kenapa dia bisa seperti itu, apa ini akibat mereka terlalu banyak olahraga sehingga membuat tubuhnya menjadi lelah?
Silvia memeluki tubuh suaminya dengan erat, rasanya dia benar-benar ingin tidur lagi.
"Silvia sayang." Abraham terbangun dari tidurnya.
"Nghh...Abraham, apa hari ini kau ada pekerjaan penting dikantor?"
"Tidak, kenapa?"
"Temani aku dirumah." pinta Silvia dengan manja.
"Wow, ada apa ini? Tumben kau manja seperti ini?" tanyanya sambil mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Kenapa? Tidak boleh?"
"Bukan begitu sayang, aku sangat senang kau bermanja padaku."
"Entah mengapa hari ini aku ingin bermanja padamu Abraham, aku ingin kau membuatkan makanan untukku, menggendongku kekamar mandi, menyuapiku makan dan menemaniku diatas tempat tidur sepanjang hari."
Abraham terkekeh dan menciumi dahi istrinya dengan lembut, hari ini dia tidak akan pergi kemana-mana dan akan menemani istrinya dan juga memenuhi apapun yang Silvia inginkan.
Lagi pula Silvia tidak pernah bertingkah manja selama ini jadi dia akan melakukan yang terbaik untuk istrinya.
"Baiklah nyonya, aku akan menemanimu dirumah hari ini dan akan memenuhi semua permintaanmu, jadi katakan padaku apa yang harus aku lakukan untukmu sayang?"
Silvia tersenyum dan semakin mengencangkan pelukannya, dia sangat senang Abraham mau menemaninya dirumah hari ini.
"Aku ingin kita seperti ini dulu Abraham sampai sakit dikepalaku ini hilang dan keadaanku lebih membaik."
"Silvia sayang, apa kau sakit?" tanya Abraham khawatir.
"Tidak." Jawab Silvia sambil menggeleng.
Mereka diam saja, berpelukan diatas ranjang dan menikmati waktu mereka berdua. Silvia memejamkan matanya menikmati belaian tangan Abraham yang bermain dirambutnya.
Dia suka mereka seperti itu dan dia sangat menikmati waktu yang ada diantara mereka berdua, rasanya waktu yang selalu dia lewati dengan Abraham adalah waktu terbaik dalam hidupnya.
"Abraham."
"Hmm?"
"Sebelum bertemu denganku apa kau pernah pacaran?"
"Kenapa menanyakan hal ini?"
"Ya ingin tahu saja jadi berapa mantan pacarmu?"
"Kenapa harus menanyakan mantan pacar?"
"Kan sudah aku katakan, ingin tahu saja!"
"Ck, tidak perlu membicarakan mantan karena sudah aku buang."
"Kemana?"
__ADS_1
"Laut mati!"
"Ha...ha...ha..ha..ha...! Silvia langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hei kenapa kau tertawa? Memangnya kau tidak punya mantan pacar?"
"Tentu aku punya Abraham, dulu aku pernah pacaran tapi begitu dia tahu status keluargaku dia langsung lari ketakutan. Kau tahu kenapa aku tidak mau mengatakan padamu siapa aku dan kembali ke Amerika meninggalkanmu tanpa mendengar penjelasan darimu?"
"Hei, apa maksudmu?"
"Aku ingin melihat kesungguhanmu Abraham, apa kau berani menyusulku ke Amerika? Apa saat kau tahu siapa keluargaku kau akan lari ketakutan seperti mantan pacarku dulu."
"Oh jadi kau mengetesku dan dulu kau ditinggalkan, eh?" Abraham menarik hidung Silvia dengan gemas.
"Begitulah." jawab Silvia singkat.
"Berarti kita senasib."
"Wah, apa aku juga ditinggalkan?"
"Yah, kau tahukan penyakitku ini?sangat menyebalkan sampai pacarku tidak tahan denganku dan meninggalkanku."
"Wah, kau benar kita senasib." ujar Silvia sambil tertawa.
Silvia dan Abraham saling pandang tapi tidak lama kemudian mereka berdua tertawa bersama-sama, ternyata mereka senasib sama-sama ditinggalkan tapi mereka menikah dan menjadi suami istri, ini yang dinamakan jodoh dan takdir.
"Apa Kepalamu masih sakit sayang?"
"Yah, karena tertawa jadi tambah sakit."
"Oke baiklah, kita mandi dan setelah itu kita sarapan. Aku akan memanggilkan dokter pribadiku untuk memeriksa keadaanmu."
"Tentu sayang, kau sudah sakit kepala dari kemarin bukan? Jadi lebih baik diperiksa."
Silvia mengangguk sedangkan Abraham bangun dari tidurnya, dia menggendong istrinya menuju kamar mandi dan mereka mandi bersama.
Abraham benar-benar melakukan apa yang Silvia pinta, memandikannya dan setelah itu menggendongnya lagi keluar dari kamar mandi.
Senyum mengembang dari wajah Silvia sedari tadi karena dia benar-benar bahagia, dia bahagia karena dia tidak salah memilih pasangan hidup, dia bahagia karena Abraham begitu mencintainya dan menyayanginya.
Dia sangat bersyukur datang ke Australia sehingga dia bisa bertemu dengan Abraham, dia juga berharap cinta Abraham untuknya tidak berubah sampai kapanpun juga.
Setelah memakai pakaian mereka keluar dari kamar mereka, Abraham menggendong Silvia dibelakang dan membawanya menuju dapur.
"Silvia sayang, tunggu disini, aku akan menghubungi dokter pribadiku."
"Ngh..jangan lama-lama."
"Pasti sayang."
Abraham berlalu pergi menuju ruangan yang biasa dia gunakan untuk bekerja, dia selalu meninggalkan ponselnya disana Karena dia tidak mau waktunya bersama dengan Silvia diganggu.
Waktu mendapatkan ponselnya entah mengapa yang ingin dia hubungi bukan dokter pribadinya tapi dia mereka dia harus menghubungi ibunya.
Tanpa menunggu lagi dia segera menghubungi ibunya terlebih dahulu.
"Abraham? Kenapa menghubungi mommy, apa terjadi sesuatu?" tanya Monica dari sebrang sana.
"Oh tidak mom, aku hanya ingin tahu keadaanmu."
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, bukankah kau sudah datang menjenggukku kemarin dengan Silvia."
"Hmm ya, sebenarnya aku ingin mommy datang."
"Kenapa?"
"Mom, bisakah mommy datang dan membuatkan makanan untuk Silvia?" pintanya.
"Kenapa dengan istrimu sayang?" tanya ibunya heran.
"Entahlah, beberapa hari ini dia mengeluh sakit kepala dan hari ini dia bilang dia merasa sangat lelah."
"Oh ya Tuhan, benarkah itu?"
Abraham sangat heran, kenapa ibunya terdengar begitu senang?
"Benar jadi bisakah mommy datang dan membuatkan makanan untuknya?"
"Oh tentu saja sayang, kau tidak perlu khawatir, wanita yang sedang hamil muda memang seperti itu,pusing dan terkadang mual."
"Maksud mommy?" Abraham sungguh tidak percaya mendengarnya.
"Ya ampun, aku sudah mau punya cucu, tunggulah mommy sayang." Monica mematikan ponselnya, dia tampak begitu senang dan yang pasti dia segera bersiap-siap untuk pergi kerumah putranya.
Abraham sungguh tidak percaya mendengarnya, jadi Silvia hamil? Dia sangat senang mendengarnya, setelah meminta dokter pribadinya untuk datang Abraham segera keluar dari ruangan itu untuk menemui istrinya.
Didalam dapur Silvia tampak sedang mencuci mulutnya diwastafet, dia ingin membuat sarapan tapi tiba-tiba dia merasa mual.
Dengan cepat Abraham mendekati Silvia dengan senyum diwajahnya.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?"
"Oh Abraham, maafkan aku. Aku pikir ingin membuatkan sarapan untuk kita tapi aku tidak tahan karena aku tiba-tiba merasa mual."
"Tidak apa-apa sayang."
Abraham menggendong istrinya dan mendudukkannya diatas meja, kebahagiaan tampak terpancar dari wajahnya dan dia berharap apa yang dikatakan oleh ibunya adalah benar.
"Hei kenapa kau begitu senang?"
"Sayang tahukah kau?"
"Apa?" Silvia melingkarkan kedua tangannya keleher suaminya.
"Kata mommy kau hamil."
Silvia terbelalak kaget, yang benar?
"Apa kau serius?"
"Ya aku barusan menghubungi mommy dan dia bilang begitu, supaya lebih yakin lagi aku sudah memangil dokter pribadiku."
"Oh Abraham, aku sangat senang Mendengarnya."
"Aku juga sayang."
Abraham menciumi bibir istrinya dengan mesra sedangkan Silvia berharap dalam hati semoga dia benar-benar hamil.
Setelah mereka sarapan dokter pribadi yang dipanggil oleh Abraham datang begitu juga dengan ibunya, Silvia diperiksa dan dinyatakan positif hamil 4 minggu.
__ADS_1
Abraham dan Silvia terlihat bahagia begitu juga dengan Monica, sebentar lagi akan terdengar suara tangisan dan tawa anak kecil dirumah itu dan sebentar lagi kehidupan mereka akan sempurna dengan kehadiran buah hati mereka.