Falling In Love With You

Falling In Love With You
Dua tamu


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Abraham segera kembali kerumahnya.


Entah kenapa dia merasa sangat senang hari ini, bukan saja telah memecat Jenny dan menjauhkan wanita itu dari hadapannya tapi malam ini dia mau kerumah Silvia untuk makam malam.


Bukan makan malam yang membuatnya senang tapi yang membuatnya senang adalah, dia akan menemui Silvia.


Seharian ini dia sudah tidak sabar supaya waktu cepat berlalu agar malam cepat tiba, rasanya dia ingin memutar jarum jam dipergelangan tangannya dan jika bisa, rasanya dia sangat ingin menarik matahari agar cepat tenggelam.


Setelah memecat Jenny tadi tentu dia langsung menghubungi ibunya dan menceritakan semuanya, mengatakan jika Jenny mau menjebaknya dengan obat perangsang.


Dia juga meminta ibunya untuk tidak menemui Jenny dan ibunya lagi, tentu saja ibunya sangat kaget dan marah saat mendengar hal itu, dia tidak menyangka Jenny akan berbuat licik untuk menjebak putranya.


Untung saja putranya tidak masuk kedalam jebakan Jenny dan Monica sangat bersyukur jika nasib baik masih memihak kepada putranya, dia sedikit menyesal, seharusnya dia tidak mengenalkan Jenny pada putranya. Tapi siapa yang tahu akan sifat asli Jenny?


Tapi dia juga lega, karena Jenny sudah dipecat oleh putranya dan setelah ini dia tidak akan menemui ibu dan anak itu lagi untuk selamanya.


Setelah mandi dan memakai bajunya, Abraham melihat dirinya didepan cermin, penampilan sudah oke jadi dia harus segera pergi kerumah Silvia.


Terlalu cepat juga tidak apa-apa karena dia memang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Silvia.


Abraham segera keluar dari kamarnya setelah memastikan penampilannya, dia segera meraih kunci mobilnya dan segera keluar dari rumahnya.


Dia membawa mobilnya dengan cepat dan tampak begitu bersemangat dan tentunya hatinya sangat senang, itu teebukti dari senyum diwajahnya yang mekar sedari tadi, entah apa yang dia pikirkan tapi dia tampak begitu senang.


Bahkan perjalanan yang lumayan memakan waktu tidak dia rasakan karena begitu bersemangat, saat mobilnya sudah tiba, Abraham segera meraih botol anggur yang ada disampingnya, tidak lupa dia juga mengambil bunga mawar yang ada disana.


Dia segera turun dari mobilnya dan melangkah dengan cepat masuk kedalam rumah Silvia, dia juga mengetuk pintu rumah itu dengan tidak sabar, dia berharap Silvia yang membukakan pintu utuknya supaya dia bisa langsung memberikan bunga yang dia bawa tapi ternyata seorang pria paruh baya berwajah kaku membukakan pintu untuknya.


Pria itu bahkan melotot saat melihatnya dan memasang wajah tidak senang, ya pria itu adalah Dave.


Dia memang tidak senang melihat Abraham disana, orang yang berani bersikap kasar kepada Silvia. Dia tahu bahwa Abraham Achilles akan datang karena Silvia telah mengatakan padanya, tapi entah kenapa dia memang tidak suka dengan pria itu.


"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Dave dengan dingin.


"Aku datang bukan untuk mencarimu!" jawab Abraham tak kalah dinginnya.

__ADS_1


Dave berdecak kesal dan mempersilahkan Abraham untuk masuk kedalam, jika bukan tamu nona mudanya mungkin sudah dia lempar Abraham keluar dari rumah itu.


Abraham melewati Dave dengan cuek dan masuk kedalam sana.


"Dimana Silvia?" tanyanya.


"Tuan tunggu saja, nona sedang berada dikamarnya." jawab Dave sambil berlalu pergi untuk memanggil Silvia.


Abraham berjalan kearah sofa, meletakkan anggur dan bunga yang dia bawa keatas meja. Dia juga menjatuhkan dirinya diatas sofa, dia memang sedikit terlalu cepat tapi tidak apa-apa, dia akan menunggu Silvia disana.


Dia kira akan lama menunggu Silvia tapi tidak lama kemudian Silvia keluar dari kamarnya dan segera menghampiri Abraham yang menunggunya diruang tamu.


Silvia segera menghampiri Abraham dengan senyum diwajahnya dan pada saat menyadari kehadirannya, Abraham langsung bangkit berdiri dan melihat Silvia dari atas sampai kebawah.


Dia sungguh kagum melihat penampilan Silvia yang begitu anggun dan cantik dengan gaun cheongsam panjang berwarna merah muda yang dipakainya, gaun itu memiliki belahan dari bawah kaki sampai keatas lutut yang memperlihatkan kaki mulus Silvia.


"Hai, apa kau sudah lama menunggu?" tanya Silvia basa basi.


"Hmm tidak, aku baru saja tiba." jawab Abraham.


"Ini untukmu." Abraham memberikan bunga yang dia bawa pada Silvia.


"Terima kasih." Silvia mengambilnya dan tersenyum dengan manis.


"Oh aku juga membawa anggur untukmu."


"Benarkah?"


"Ya, tentu saja." Abraham menunjuk kearah meja dimana anggur yang dia bawa dia letakkan disana.


"Oh itu bagus, kita akan menikmati anggur itu bersama ditaman belakang."


Silvia memutar langkahnya dan berjalan masuk kedalam sedangkan Abraham mengikutinya dari belakang dengan senyum diwajahnya.


"Jadi kita akan menghabiskan malam ini berdua, eh?" goda Abraham.

__ADS_1


"Tidak juga, karena aku juga mengundang sahabatku untuk makan malam."


Saat mendengarnya Abraham langsung tampak kecewa, bisa dia tebak sahabat yang dimaksud oleh Silvia pasti pria China yang berani menatangnya waktu itu.


"Ck, menyebalkan!" makinya dalam hati.


Padahal dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Silvia dan mengenal anak-anaknya tapi kenapa harus ada parasite penggangu?


Tapi malam ini dia akan menunjukkan kepada pria China itu bahwa Silvia miliknya dan pria itu tidak boleh mendekati Silvia lagi, dia akan membuktikan bahwa yang boleh memiliki Silvia hanya dirinya.


"Silvia mana kedua anakmu?" tanyanya penasaran, pasalnya sedari tadi dia tidak melihat adanya anak kecil disana.


"Eh itu, mereka berdua diajak oleh ayah dan ibuku pergi jalan-jalan." dustanya.


"Sayang sekali, padahal aku sangat ingin mengenal mereka."


Silvia berusaha tersenyum dan berkata dalam hati:


"Oh sialan, sampai kapan aku harus membohingnya? Saat dia tahu aku hanya menipunya apa dia akan marah?"


Dia segera mengambil pot bunga dan berjalan kearah wastafel, setelah mengisi air kedalam pot, Silvia segera menghampiri meja dan meletakan pot itu disana.


Dia kembali tersenyum saat melihat Abraham, entah kenapa dia sangat merasa tidak enak hati karena telah menipu Abraham. Mungkin jika ada kesempatan yang bagus dia akan mengatakan kepada Abraham jika dia bukanlah janda dua anak, mudah-mudahan pada saat mendengarnya Abraham tidak marah dan membencinya.


Pada saat itu Dave menghampiri mereka berdua dengan seorang pria disampingnya.


"Nona, Jimy sudah datang."


"Oh akhirnya datang juga."


Silvia tampak senang karena tamu-tamunya sudah datang tapi tidak dengan kedua pria yang saling melemparkan tatapan tajam mereka.


Abraham sangat tidak senang melihat Jimy disana begitu juga dengan Jimy, dia juga tidak senang melihat keberadaan Abraham disana.


Mereka saling tatap dengan api permusuhan dimata mereka tapi Silvia cuek saja, tidak memperdulikan api permusuhan yang tampak jelas dari kedua tamunya.

__ADS_1


__ADS_2