Falling In Love With You

Falling In Love With You
Makan malam


__ADS_3

Setelah kedatangan Jimy, Silvia mengajak kedua pria yang menjadi tamunya malam ini untuk duduk.


Dia juga meminta pelayannya untuk menghidangkan makanan diatas meja bahkan bunga yang dibawa oleh Abraham untuknya dia letakkan ditengah-tengah meja makan.


Saat dia hendak duduk Abraham menarikkan kursi untuknya, itu dia lakukan karena dia tidak akan memberikan kesempatan kepada pria China yang sedang menatapnya dengan tajam.


"Thanks." ucap Silvia dan dia segera duduk.


Abraham menarik kursinya untuk mendekat ke Silvia setelah itu dia duduk disana sedangkan Jimy kesal setengan mati, dia juga melakukan hal yang sama, menarik kursinya supaya dekat dengan Silvia setelah itu dia duduk disana.


Silvia sangat heran, ada apa dengan kedua pria ini? Kenapa mereka duduk didekatnya padahal meja makan begitu luas.


Apa mereka masih bermusuhan? Atau jangan-jangan dia telah salah mengundang kedua pria itu secara bersamaan!.


"Hei kalian berdua, kenapa kalian duduk menempel padaku?" tanya Silvia kesal.


"Aku hanya ingin dekat denganmu." jawab Jimy dan Abraham secara bersamaan.


Abraham dan Jimy kembali saling pandang, lagi-lagi api permusuhan terpancar dari mata mereka berdua dan merekapun mulai berdebat.


"Hei jangan meniru ucapanku!" ujar Abraham kesal.


"Siapa yang meniru ucapanmu?" Jimy tidak mau kalah.


"Kau pulang sana, mengganggu suasana saja!" ujar Abraham lagi.


"Kenapa harus aku yang pulang, kenapa tidak kau saja!" jawab Jimy kesal.


"Kau tidak dibutuhkan disini jadi sana pulang!!"


"Kau yang tidak dibutuhkan disini!" jawab Jimy kesal, memangnya siapa Abraham sampai berani mengusirnya?


Silvia menghembuskan nafasnya dengan berat, sepertinya dia memang sudah salah karena telah mempertemukan kedua pria ini.


"Stop!!" Sela Silvia dengan cepat.


Apa kedua pria ini tidak merasa seperti anak kecil yang sedang memperebutkan mainan? Dan yang paling membuatnya kesal, kenapa mereka berdua tidak bisa akur walau sebentar saja?


"Abraham, Jimy please! Bisakah kalian tidak bertengkar?"


"Maaf." ujar Jimy dan Abraham secara bersamaan.


"Jimy, aku mengundangmu makan malam karena untuk membalas budi baikmu yang sering memberiku makanan dan kau Abraham, kau bilang ingin datang jadi aku memang sengaja menyiapkan makanan ini supaya kita bisa makan malam bersama."


"Oke maafkan aku." Abraham menyentuh kepada Silvia dan mengusapnya dengan lembut.


Jimy hanya bisa diam menyaksikan semua itu, memang dia mendekati Silvia karena dia suka dengannya tapi sepertinya Silvia hanya menganggapnya sebagai teman saja.

__ADS_1


Tapi walau begitu dia tidak akan menyerah dan jangan sampai dia kalah dari pria yang sedang berusaha mengambil hati Silvia sama seperti dirinya.


Mereka mulai makan malam saat makanan sudah terhidang diatas meja, dan lagi-lagi perdebatan terjadi saat Abraham mengambilkan makanan untuk Silvia dan menggodanya.


"Kau harus makan yang banyak supaya tubuhmu tidak pendek." ujar Abraham sambil meletakkan makanan diatas piring Silvia.


"Jangan bercanda, masa pertumbuhanku sudah lewat dan semua ini akan menjadi lemak saja nantinya!" jawab Silvia dengan ketus.


Abraham terkekeh sedangkan Jimy melotot kearahnya, kenapa begitu tidak sopan mengatai Silvia pendek?


"Aku suka yang sedikit gemuk karena enak dipeluk." goda Abraham lagi.


"Hei kenapa kau begitu tidak sopan!" Jimy menyela perkataan Abraham dan tampak kesal.


"Kenapa kau yang marah? Memangnya aku berbuat tidak sopan padamu!" Abraham menatap Jimy dengan tajam, ingin dia pukul rasanya.


"Memang kau bukan mengataiku tapi kenapa kau mengatai Silvia pendek?" ujar Jimy tidak terima.


"Hei tahu apa kau? Aku sudah sering mengatainya pendek tapi dia tidak marah lalu kenapa kau yang marah?"


Silvia memijit pelipisnya, lagi-lagi kedua pria itu mendebatkan hal yang tidak jelas, oke memang dia yang salah karena telah mempertemukan mereka berdua tapi bisakah tidak berdebat dihadapnya?


Dia segera meneguk minumannya, selera makannya sudah hilang sekarang! Sebaiknya dia pergi saja dan membiarkan kedua pria itu berdebat sampai selesai.


Silvia bangkit berdiri dan pada saat itu Abraham dan Jimy menatapnya dengan heran, apa Silvia marah?


"Iya nona." jawab Dave yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka.


"Tolong gantikan aku menjamu kedua tamu ini dan biarkan mereka berdebat sampai selesai, aku mau tidur saja." pintanya.


"Hei."


Abraham bangkit berdiri sedangkan Silvia berlalu pergi dan mengabaikannya, hal itu membuat Abraham sangat kesal, semua ini gara-gara pria China yang menyela perkataannya tanpa tahu apa-apa.


Abraham dan Jimy kembali saling pandang dengan tatapan tajam mereka berdua, mereka juga saling menyalahkan didalam hati mereka.


Saat Dave menghampiri mereka, Abraham langsung melangkah pergi, lebih baik dia mencari Silvia dari pada harus berada disana.


Dia segera berlari keluar dan saat itu Abraham melihat Silvia berjalan keluar kesebuah pintu jadi dia mengikutinya dengan cepat.


Abraham membuka pintu itu dan melihat Silvia sedang berdiri disamping kolam renang yang dimana disana terdapat taman bunga dan tempat duduk untuk bersantai.


"Hei, kenapa berdiri disini nanti kau masuk angin."


Dia segera menghampiri Silvia dan berdiri disampingnya.


"Sudah selesai debatnya?"

__ADS_1


"Maafkan aku, tapi sahabatmu yang memulai hal ini terlebih dahulu."


"Sudahlah, aku yang salah karena mengundang kalian secara bersamaan, aku yang seharusnya minta maaf karena telah menghancurkan suasana."


Abraham melepaskan jas yang dipakainya dan segera memakaikan jas itu dibahu Silvia, setelah itu dia melingkarkan tangannya dipinggang Silvia dan menariknya hingga mendekat kepadanya.


Silvia diam saja dan bersandar pada bahu Abraham, hal itu membuat Abraham sangat senang, dia segera mengangkat tangannya untuk membelai rambut panjang Silvia dengan lembut.


"Abraham."


"Hmm?"


"Bukankah kau Mysophobia?"


"Ya, begitulah, kenapa?"


"Kenapa kau bisa menyentuhku tanpa merasa jijik?"


Abraham masih belum menjawab, dia juga tidak tahu kenapa dia bisa menyentuh Silvia tanpa merasa jijik sedangkan Silvia menanti jawaban darinya.


"Hei kenapa kau diam saja?" tanya Silvia lagi.


Sebelum menjawab pertanyaan Silvia, Abraham menghembuskan nafasnya sejenak.


"Yah, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa menyentuhmu tanpa merasa jijik sama sekali, terkadang aku juga menanyakan hal ini pada diriku sendiri padahal penyakit sialanku ini belum sembuh."


"Oh ya, kenapa bisa begitu?"


"Entahlah, mungkin saja kau spesial?" jawabnya menggoda.


"Oh ya? Aku ingin tahu sespesial apa aku bagimu?"


Silvia menatap Abraham dengan lekat begitu juga dengan Abraham, dia juga menatap wajah cantik Silvia dan rasanya dia ingin berlama-lama memandangi wajah cantik Silvia dan tanpa sadar, tangannya sudah menyelusuri wajah cantik Silvia dan mangusapnya dengan lembut.


"Entahlah, aku rasa kau sangat spesial."


Abraham segera mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Silvia dengan lembut dan setelah itu mereka berdua kembali saling memandang.


"Boleh aku tahu sespesial apa aku dimatamu tuan Abraham Achilles?"


Silvia mengalungkan tangannya keleher Abraham sedangkan Abraham melingkarkan kedua tangannya kepinggang Silvia dan kembali menunduk untuk mendekatkan bibir mereka berdua.


"Sangat spesial." Dia kembali mencium bibir Silvia dan me**matnya dengan lembut, Silvia memeluk leher Abraham dengan erat dan membalas ciuman pria itu.


Mereka berdua berciuman dengan mesra disana sedangkan Dave berdiri didepan pintu menyaksikan hal itu dan menutup pintu itu kembali.


Dia berada disana karena Jimy ingin mengatakan pada Silvia bahwa dia ingin pulang tapi Dave langsung mengatakan kepada Jimy jika Silvia sedang sibuk dan tidak bisa diganggu.

__ADS_1


__ADS_2