
Setelah mengantar Karin Aditya langsung pulang ke apartemen nya berniat mengabari orangtua nya memberitahukan jika dia sudah menemukan anak nya.
Tut tutttt....
Menunggu beberapa saat akhirnya dari sebrang sana menjawab telfon dari nya. " Halo ma, mama lagi apa? " Tanya nya pada sang mama.
" Halo juga, mama baru pulang dari rumah Kakek mu sayang." Suara lembut sang mama mampu meneduhkan hati Aditya.
" Ma aku punya kabar bahagia untuk mama."
" Bahagia? memang kabar bahagia apa? " Elisabeth merasa heran dengan anak nya.
" Akhirnya anak ku ketemu ma, dia tumbuh dengan sehat dan cantik."
" Benarkah? kau tidak berbohong dengan mama? " Saking senang nya sampai tidak sadar jika Elisabeth di pandang heran oleh para pekerja nya.
" Iya. dan mama tau siapa yang membesarkan putri ku."
" Siapa_"
" Karin ma, dia wanita yang membesarkan putri ku."
" Karin? Karin mantan kekasih mu? " Ya Elisabeth mengetahui jika Karin cinta pertama Aditya dan dulu dia begitu dekat dengan Karin waktu masih tinggal di Jakarta, tapi karena harus mengikuti suami nya kerja jadi dia pindah ke kota malang.
" Iya ma, aku tidak menyangka jika Karin lah yang merawat anak ku."
" Kalo gitu mama akan ke Jakarta besok mengajak papa mu." rasanya Elisabeth tidak sabar secantik apa cucunya.
" Iya ma Adit tunggu kedatangan mama ke sini." lalu setelah itu Aditya menutup telfon nya karena ingin membersihkan badan.
*
*
*
" Rumah nya sudah dapat jadi besok kita bisa melihat ke sana."
" Benarkah? cepat sekali."
" Iya karena itu perumahan yang sudah siap huni jadi kau bisa melihat nya terlebih dahulu sebelum di tinggali."
" Baiklah besok aku akan melihat nya." Lalu Karin fokus pada layar laptop nya melihat omset hari.
Menyelesaikan pekerjaan kini semua karyawan lembur karena banyak pesanan, masing-masing karyawan memegang kerjaan nya masing-masing.
__ADS_1
Pulang ke kost an dengan badan yang terasa sakit. Karin langsung membersihkan dirinya karena takut tertidur dengan badan yang kotor.
Ke esokan harinya..
Sesuai pembicaraan hari kemarin jika hari ini Karin dan Tristan akan melihat rumah yang akan di beli nya. di jemput oleh Tristan langsung menuju perumahan mewah dengan banyak bangunan rumah yang modern.
" Karin kenalkan dia yang akan memberi tau tentang rumah yang akan kamu beli."
di jawab anggukan oleh Karin lalu mengikuti masuk ke dalam. " Tris ini pasti mahal sekali." Bisik nya yang di balas senyuman oleh Tristan.
melihat betapa megah dan canggih nya alat-alat di rumah ini membuat Karin terpukau serasa mimpi.
" Harga nya sekitar 15 M ibu Karin." Ucap wanita itu.
" Berapa? 15 M ? " Karin melongo seraya melebarkan mulut nya yang melongo karena kaget mendengar harga nya. bukan tidak mampu tapi Karin tak menyangka akan membeli rumah semewah dan semahal ini.
" Iya betul, kita juga bisa pembayaran di cicil atau cash."
" Euhhh. tidak usah di cicil aku bayar cash aja langsung." Dan setelah lama pembicaraan untuk deal Karin langsung membayar dengan cash.
Karin berniat secepatnya akan pindah karena rumah ini memang rumah yang sudah siap huni, Rumah yang begitu Megah dan memiliki paviliun.
" Tris apa kau tidak ingin membeli rumah di sebelah ku? " Karin menggoda Tristan.
" Hey kau tak punya uang? kau sama bos nya di toko ku dan kau juga boleh membeli rumah hasil penjualan barang."
" Tidak aku akan membeli nya nanti ketika sudah banyak uang seperti mu."
Karena malas meladeni Tristan! Karin meminta untuk di antar ke rumah sakit karena harus kontrol kesehatan nya
-
-
" Mama, akhirnya mama sampai dengan selamat." Ucap Aditya.
" Iya mama kira kamu tidak akan menjemput mama dan papa."
" Hmm."
Mengajak orangtua nya untuk beristirahat ke apartemen. Aditya mengirim pesan pada Karin jika ada yang mau dia obrolkan lagi.
" Gimana pah kerjaan nya? "
" Kerjaan papa berjalan dengan lancar, lalu bagaimana dengan Restoran mu?"
__ADS_1
" Restoran ku setiap hari ramai pengunjung."
" Syukurlah kalo gitu, o ya papa begitu kaget ketika mendengar cerita dari mama."
" Iya pa, ya begitulah Adit juga tidak menyangka jika anak yang Adit telantar kan di jaga dengan baik oleh karin."
Berbincang-bincang tentang Karin dan Karen membuat Elisabeth tidak sabar ingin melihat cucunya.
Orangtua Aditya memang tau jika Aditya mengalami kecelakaan di masalalu nya karena tidak sengaja mendengar pembicaraan Aditya entah dengan siapa di telfon, Aditya mengatakan di mana anak itu? dari situlah Elisabeth bertanya anak siapa yang di maksud Aditya. Menjelaskan secara rinci membuat Aditya marah kenapa tidak berbicara padanya tentang hal sebesar ini.
*
*
Hari ini Karin dan Aditya bertemu di sebuah taman kota yang cukup ramai pengunjung. duduk di sebuah kursi taman dan tak ada yang membuka pembicaraan lebih dulu di antara mereka.
" Rin bolehkah mama ku bertemu dengan cucunya? " akhirnya Aditya lebih dulu membuka suara.
" Tante Elis ada di sini? "
" Iya. aku memberi tahu mama dia begitu bahagia mendengar jika cucunya sudah ketemu. aku mohon tolong ijinkan mama untuk ketemu putri ku." pinta nya sambil memelas.
Menghela napas Karin menimbangkan permintaan Aditya.
" Aku janji akan menyayangi nya Rin. bahkan sampai saat ini perasaan ku padamu masih tetap sama dan tidak berubah. nama mu masih ku simpan rapi di dalam sini." Aditya menunjuk pada dada bidang sixpack milik nya.
" Tapi kenapa dulu harus ada wanita lain di hati mu? " selama ini Karin memang bungkam tak mau tau bertanya alasan Aditya selingkuh.
" Maaf ini memang salah ku."
" Ini kata maaf yang ke berapa dit? kamu yang menggores luka pada ku, hingga aku juga yang harus nanggung perbuatan buruk mu sampai membuat ku mati rasa pada seorang pria."
" Rin dengan kan penjelasan aku dulu, perlu kamu tau jika dulu aku di jebak dan__" Aditya menceritakan bagaimana dulu bisa terjadi.
Dua jam mereka duduk di taman Karin yang sudah mendengarkan cerita apa yang terjadi di masalalu antara dirinya dan Aditya.
" O ya apakah kau tau di mana keadaan Pricilla? empat tahun menghilang bak di telan bumi."
" Masih, dia ada di Bali bersama suami nya dan sudah memiliki anak." Aditya memang sesekali menghubungi Pricilla menanyakan perihal anak nya saja.
" Oh__" Karin tak menyangka jika wanita yang dia tolong sudah hidup bahagia dengan pasangannya sedangkan dia harus hidup banting tulang untuk anak yang bukan darah daging nya. " Untuk permintaan mu tadi, aku mengijinkan datang lah kerumah Tante besok dan kita bisa ketemu di sana."
" Benarkah? Baiklah besok kita jumpa di sana."
Karin merasa dada nya sesak. kenapa di saat dirinya hidup susah mereka tak ada satu pun yang membantu nya, tapi kini mereka datang dan menginginkan putrinya. Karin mencoba berdamai dengan apa yang terjadi pada dirinya karena memang semenjak Karin mengetahui jika dirinya sakit tidak ada salah nya bukan berdamai dengan masalalu demi kebaikan anak nya.
__ADS_1