
Cuaca di Bali sangat panas membuat Karin memilih ingin berteduh saja dan membiarkan Aditya yang menemani Karen, jika para orangtua sudah dapat di pastikan mereka pergi ke pusat belanja untuk membeli oleh-oleh.
Duduk di kursi yang Karin sewa sambil mengawasi anak nya dari kejauhan dan hampir terlelap, Karin mendengar suara yang di kenal nya lima tahun lalu, suara yang tak asing baginya.
" Mama aku mau main pasir seperti dia." tunjuk anak itu kearah Karen.
" Iya sayang sebentar ya mama taro tas dulu."
Karin melirik kearah samping betapa terkejut jika itu Pricilla. orang yang gak mau bertanggung jawab atas perbuatan nya dan Karin lah yang harus menanggung.
" Pricilla_" Gumam Karin. " Pric_" panggilnya.
Karena merasa namanya terpanggil Pricilla menengok ke arah suara. " Karin_ka_kamu di sini." Pricilla tak kalah terkejutnya.
" Ya kami sedang berlibur, tampaknya kamu sudah bahagia sekarang memiliki suami serta anak yang begitu tampan."
" Terimakasih atas pujian nya tapi Karin aku_" belum sempat selesai Karin sudah lebih dulu menyela.
" Bahagia lah, aku lihat suami mu begitu menyayangi mu."
Pricilla melihat kearah depan melihat suami nya yang sedang memainkan bola bersama putranya, dan melirik kesebelah suami nya di situ Aditya sedang bermain pasir bersama anak kecil yang begitu cantik.
" Rin itu Aditya apakah itu anakku? " Pricilla menunjuk dadanya.
" Kenapa? " Bukan menjawab Karin malah bertanya balik.
" Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi setelah lima tahun tidak saling mengetahui."
" Ck_ jika aku tau akan bertemu dengan mu aku akan membatalkan berlibur ke Bali." Dengan nada sinisnya dan tatapan membunuh.
" Maaf_" hanya satu kata yang mampu Pricilla ucapkan.
" Tidak perlu meminta maaf semua sudah berlalu, lagi pula aku sudah hidup bahagia dengan putriku terimakasih sudah menghadirkan sosok harta yang sangat berharga."
Deg
__ADS_1
Yang di ucapkan Karin barusan mampu membuat Pricilla merasa dirinya tak berguna karena sudah menelantarkan anak sulung nya.
" Rin apakah aku boleh menemui putriku."
" Tidak_" Karin langsung menolak keinginan Pricilla.
" Kenapa Rin, Aditya saja bisa sedekat itu dengan anakku, sedangkan aku kenapa kau larang."
" Aditya saja banyak menghabiskan waktu untuk bisa dekat seperti itu. apakah kau tidak mau berjuang juga untuk bisa menemui putrimu." Karena Karin merasa sudah tak tahan lagi berbicara dengan Pricilla dia lebih memilih bangkit dan menyusul anak nya.
" Dit ini panas sekali kita pulang ke hotel nanti sore baru main lagi."
" Baiklah, Ren ayo pulang nanti kita main lagi." ajak Aditya sambil membantu Karen berdiri.
Dari kejauhan tampak Pricilla dengan mata yang berkaca-kaca karena begitu iri melihat kedekatan Karin dan anaknya. " Terimakasih sudah menyayangi putriku." Gumam nya.
Ya selama ini Pricilla hanya mengetahui tentang anaknya lewat Aditya, dan selama ini juga Pricilla selalu di hantui rasa bersalah karena telah membuang anaknya.
*
*
*
Karena waktu liburan telah selesai kini semua nya siap-siap untuk pulang ke Jakarta.
*
*
Setelah puas berlibur kini kembali seperti semula seluruh karyawan bekerja karena banyak pekerjaan yang tertunda sedangkan Karin sedang ada pertemuan karena ingin membeli tanah yang luas untuk di jadikan warisan.
Setelah selesai melihat-lihat Karin menyerahkan semua nya pada asisten pribadi nya karena dia tidak mau ambil pusing.
" Rin aku rasa kamu tampak berubah semenjak dari Bali? " Aditya penasaran dengan sikap wanita yang di cintai nya semakin dingin.
__ADS_1
" Apa kau tidak bosan menanyakan hal itu terus sudah ku bilang aku gak papa."
" Aku sangat mengenal dirimu, jelas aku tidak akan bosan."
" Cih omong kosong.. apa kau tidak melihat Pricilla saat di Bali." Tanya Karin langsung.
" Pricilla? Aku melihatnya hanya saja menurut ku itu tidak penting."
" Ck_ kenapa kalian harus datang ketika aku sudah merasa bahagia bersama anakku. bahkan dia dengan gampang nya meminta menemui putriku."
" apa kamu melarangnya? " Tanya Aditya.
" Jelas, karena bertemu dengan nya saja sudah membuat semua rasa benci ku bangkit lagi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
" Maaf karena kesalahanku membuat hatimu tergores." Aditya menatap wanita nya yang seakan ingin menjatuhkan cairan bening.
" Bukan hanya goresan, sebuah kesalahan kalian aku yang harus menanggung, kalian begitu brengsek hingga membuat ku seperti orang gila." Karin meninggikan nada suaranya.
" Rin tolong jangan membahas itu lagi, bukan hanya kamu di sini yang sakit. aku pun sama korban nya karena aku tidak tau jika di dalam minuman itu sudah di masukkan obat oleh teman-teman ku."
" Aku tidak membahas nya tapi kau yang lebih dulu membuat bibir ini untuk bicara." Amarah di hati Karin begitu bergemuruh. " Pulang lah aku ingin istirahat." Usir Karin karena tidak ingin pembicaraan ini terdengar oleh putrinya.
" Tapi Rin."
" Pulang aku bilang pulang. pulang Aditya." Sentak Karin hingga membuat Hans dan Anita keluar dari kamar.
" Baiklah aku akan kembali lagi besok." Aditya meninggalkan ruangan itu dengan hati yang merasa bersalah.
" Rin ada apa ini." Tanya Anita karena kaget mendengar suara Karin yang berteriak.
" Tidak ada Bu aku ingin istirahat." Karin pun berlalu menaiki tangga untuk menuju kamarnya dan melihat putrinya lebih dulu.
" Ada apa ya pah sama Karin." Anita penasaran baru kali ini dia mendengar Karin dengan suara tinggi.
" Tidak tau mah biarkan saja, kita tidak perlu ikut campur." Dan Hans pun kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Karena waktu sudah malam Karin merebahkan tubuh nya dan menatap langit-langit kamar, sungguh sakit amat terasa sakit dengan semua yang terjadi dalam hidup nya. menerima Aditya untuk dekat dengan putrinya pun membuat Karin sakit sejujurnya apalagi ini harus di tambah kehadiran Pricilla kembali? selama ini Karin menerima semua apa yang terjadi di dalam hidupnya karena jika bukan kehadiran Karen hidup Karin mungkin tidak akan seperti sekarang.
" Karen Widjaja." Karin mengusap sebuah album yang berisi photo-photo anaknya dari bayi hingga sebesar sekarang.