Father For My Son

Father For My Son
BAB 22


__ADS_3

Hari demi hari telah Karin lalui begitu pun dengan Aditya yang terus semangat membuktikan bahwa dia bisa mendapatkan Karin kembali dengan satu keyakinan jika mereka masih saling mencintai, mengingat selama ini Karin tidak pernah dekat dengan lelaki manapun.


" Dit berhenti mengejar ku, apa kau tidak bosan dan lelah melakukan semua ini." Ya sekarang Aditya sedang mengantarkan makanan untuk Karin seperti di mana dulu Aditya lakukan sewaktu Karin masih nge kost.


" Tidak, aku tidak akan bosan melakukan ini semua, ingat Rin aku percaya di lubuk hati mu masih terukir namaku di sana." Aditya dengan rasa percaya diri sehingga berani berbicara seperti itu.


" Terserah kau." Karin berlalu masuk ke dalam rumah.


" Ingat Rin pertimbangkan sebelum kehilangan."


Karin hanya melirik sekilas lalu langsung menutup pintu.


" Dia itu sangat menyebalkan." gerutu Karin dengan hati yang tak menentu.


Aditya tersenyum getir sambil memegang kemudi setir hati nya terasa sakit lima tahun perjuangan nya belum menemukan titik baiknya, Aditya akui begitu sulit meluluhkan hati Karin bak gunung es.


" Mungkin ini saatnya aku pergi dari kehidupan kalian, maafkan papa ya nak." Aditya mengusap layar ponsel yang menggambarkan photo anak nya.


Malam ini angin yang begitu kencang sehingga menelisik masuk ke dalam tubuh! Karin sedang berdiri di balkon kamarnya memandangi langit-langit. " Seandainya kamu tau umurku tidak akan lama apa kamu masih mau hidup bersamaku di sisa umurku ini dit? apa kamu bisa menerima kekurangan ku? sedangkan keinginan mu adalah hidup menua bersamaku! tapi aku tidak bisa memberikan itu—"


" Rin sedang apa malam-malam bengong di balkon?." Anita yang langsung masuk melihat Karin sedang berdiri di balkon dan dia langsung menghampiri nya karena sudah harus makan malam.


" Ibu.. aku hanya mencari angin saja." Bohong nya karena Karin tidak ingin Anita tau permasalahan nya.


" Oh, ayo makan di bawah sudah di tunggu Karen untuk makan bareng."

__ADS_1


" Baiklah aku akan turun." Bergegas ke bawah di sana Karen dan Hans sudah duduk menunggu.


Menyelesaikan makan malam nya Karin langsung membawa anak nya ke kamar karena harus tidur agar besok Karen tidak susah di bangunkan untuk sekolah.


" Mama papa kemana, biasanya ajak aku main tapi sekarang nggak." Pertanyaan Karen membuat Karin tercengang jika dia baru sadar sudah dua Minggu ini Aditya hanya berkunjung sampai depan pintu saja kalo tidak minta bertemu di restoran nya.


" Hah. oh itu sayang papa lagi sibuk cari uang jadi papa gak bisa ke sini." Karin menatap Karen dengan sendu.


Mengangguk paham dengan apa yang di katakan sang mama, Karen langsung memejamkan mata nya karena sudah waktunya tidur.


*


*


*


" Kamu menyerah?." pertanyaan sang mama mampu membuyarkan lamunan Aditya.


" Aku tidak pantas untuk mengejarnya lagi ma, apalagi aku dulu pernah menggoreskan luka padanya." Aditya menatap Elisabeth dengan sendu.


" Apa kamu akan jadi berangkat ke Rusia?." Elisabeth sebenarnya tidak rela jika putra sulung nya pergi jauh.


Menganggukan kepala memberikan jawaban iya jika dirinya akan menetap di sana sampai hatinya benar-benar membaik.


" Pergilah jika di sana bisa menjadi tempat bahagia mu." Elisabeth tersenyum pada putranya.

__ADS_1


Elisabeth memberitahu Karin lewat pesan jika besok Aditya akan pergi ke Rusia.


Karin yang mendapat pesan masuk dari mama Aditya, dia langsung kaget tak menyangka jika penolakan nya satu bulan lalu membuat Aditya pergi jauh.


Pagi-pagi Karin sudah bangun karena ingin ke bandara menemui Aditya. untuk meminta maaf atas penolakan nya satu bulan lalu, Karin berangkat ke bandara karena tidak ingin terlambat menemui Aditya.


" Dit... Adit—"


Merasa ada yang memanggil namanya Aditya menengok ke arah belakang. " Karin..."


" Jangan tinggalin aku dan Karen dit. " Tampa sadar Karen meneteskan air matanya.


" Maaf aku harus pergi Rin karena aku tidak mau menjadi penghalang untuk kebahagiaan kalian." Merasa dada nya sesak ketika mengatakan itu membuat Aditya tidak tega melihat Karin yang meneteskan air mata.


Menggelengkan kepalanya. " Aku mohon jangan tinggalin aku dan Karen dit, maafkan aku waktu itu karena aku masih butuh waktu untuk meyakinkan semua nya bahwa kamu tidak akan menyakiti ku kedua kalinya."


" Jangan menangis aku benci melihat wanita yang aku cintai harus meneteskan air mata." Aditya mengusap air mata Karin yang mengalir di pipi mulus milik Karin.


" Aku mau hidup bersama mu tapi tolong jangan pergi, Karen terus menanyakan papa nya aku mau kita hidup bersama demi Karen."


" Benarkah? apa kamu tidak berbohong dengan ucapan mu barusan? " Aditya bengong karena tak percaya ini serasa mimpi sehingga dia mencubit pipi nya tapi meringis kesakitan, berarti ini bukan mimpi.


" Tidak.. aku benar-benar mau menerima mu kembali maafkan aku yang sudah membuat mu menunggu selama lima tahun ini."


Aditya langsung memeluk Karin dengan erat, dia tidak peduli dengan orang-orang yang melihat dirinya. "Terimakasih, Terimakasih sudah mau menerima ku kembali aku janji akan membuat mu bahagia terus."

__ADS_1


Karin menganggukan kepalanya dia merasa tenang kini sudah mengutarakan apa yang membuat dia menjadi pikiran selama ini tentang menerima kehadiran Aditya kembali.


Kini Aditya dan Karin pulang, Aditya tidak jadi pergi ke Rusia dan akan membatalkan semua nya demi wanita yang di cintai nya. Karin mengantarkan Aditya kerumahnya di sepanjang jalan Aditya tak melepaskan genggaman tangan Karin.


__ADS_2