Father For My Son

Father For My Son
BAB 17


__ADS_3

Semenjak terjadi nya tentang Karin yang ramai di media tv membuat Karin memberikan penjagaan ketat bagi anaknya karena Karin tidak mau mulut jahat melukai hati anak semata wayangnya.


" Rin Terimakasih sudah menjaga putriku." ucap Aditya sambil berjalan di sebuah taman karena Karin sudah berjanji akan mengajak Karen bermain.


" Dia anakku dan menjaga nya adalah tugasku." Sahut Karin dengan ketus.


" Maksudku_" belum sempat meneruskan, Aditya melihat Karin yang sudah di tarik oleh Karen untuk membeli permen kapas.


" Mama aku mau itu." Tunjuk Karen pada salah satu permen kapas.


" Beli satu saja ya nanti giginya sakit." Ucap Karin sembari mengeluarkan uang dari tas nya.


Karen mengangguk paham, karena Karin selalu mengajarinya. jangan menginginkan segala sesuatu dengan berlebihan karena tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan.


Setelah itu Karin membiarkan Karen bermain-main dengan Aditya, Karin terus memandangi kedua nya dan merasa sedih. jika suatu nanti dia meninggalkan putrinya siapakah orang yang dapat di percaya untuk menjaga nya. dan tak terasa cairan bening jatuh di pipinya.


Aditya merasa lelah dia berhenti sejenak duduk di samping Karin dan Karen melanjutkan main ayunan bersama Nanny nya.


" Kau menangis? " Aditya melihat cairan bening yang hampir kering di pipi Karin.


" Tidak, aku hanya kelilipan."


" Benarkah? " Aditya menelisik kebohongan dari bola mata Karin, namun Karin malam memalingkan muka.


karena Waktu sudah siang Aditya mencari tempat makan yang nyaman lalu memilih menu. Mereka pun menikmati makanan yang tersaji. dan setelah selesai Aditya membayar nya.


Karena waktu belum sore Aditya mengajak Karin dan Karen ke apartemen nya karena semenjak orangtua Aditya tau jika mereka mempunyai cucu, akhirnya mereka memilih pindah ke ibukota Jakarta.


*


*

__ADS_1


Karen sudah sangat akrab dengan Elisabeth karena Karin selalu mengajarkan putrinya untuk hormat pada orangtua, Karin selalu berharap ini yang terbaik untuk putrinya dia tidak mau egois. karena Karin takut ke egoisan nya malah membuat putrinya tidak memiliki siapa-siapa jika dia meninggalkan nya.


" Omaaaaaa.." Karen menghampiri Elisabeth dan mencium tangan Oma nya.


" Cucu Oma, cucu Oma habis dari mana? " Elisabeth mengelus pucuk rambut milik Karen.


" Aku tadi habis main ke taman Oma, terus aku beli permen tapi kata mama gak boleh banyak-banyak nanti sakit gigi." celoteh Karen membuat orang di sekitarnya merasa gemas.


" Yang di bilang mama benar sayang."


" Uncle Antonio kemana Tan? " Tanya Karin basa basi.


" Oh tadi papanya Adit pergi ke restoran untuk mengecek."


" Oh begitu_" Karin membalas dengan anggukan.


Menyiapkan minuman untuk Karin Aditya berlalu ke kamarnya Tampa menutup pintu. Karin yang melihat itu tidak sengaja melihat isi dalam kamar Aditya.


" Rin di minum dulu." Elisabeth membawakan tiga gelas minuman lemon tea kesukaan Karin.


Dan membuat pandangan Karin buyar oleh suara Elisabeth. " Oh ya Tante."


Kedua nya mengobrol sedangkan Aditya bermain-main dengan Karen di kamar nya.


Karen terus memandangi sebuah photo yang terpajang di kamar Aditya, batin nya bertanya jika wajah wanita itu mirip mama nya. " Papa ini ko mirip mama, dan ini juga mirip mama." Tunjuk nya pada photo satu lagi.


Aditya melongo dia lupa jika masih memajang photo Karin waktu masih jaman pacaran. " I...iya sayang itu teman papa dulu." bohong nya.


" Tapi ko mirip mama." tanya nya lagi.


Menggaruk kepalanya yang tidak gatal Aditya bingung harus bilang apa karena menurut Aditya ini bukan waktu yang pas untuk memberi tau anak nya, apalagi umur Karen yang masih kecil. karena tidak ingin membuat Karen semakin banyak bertanya Aditya membawa Karen ke ruang TV di mana di situ ada mama nya dan Karin.

__ADS_1


" Eh cucu Oma sini sayang duduk." Elisabeth menepuk sofa sebelah nya. " O ya Rin apa kalian mau makan nanti Tante masakin." Tawarnya karena takut Karin dan cucu nya lapar.


" Tidak-tidak tadi kami sudah makan Tante."


Karena terlalu enak mengobrol hingga membuat Karin tak sadar jika waktu sudah sore dan harus pulang karena jadwal istirahat Karen harus di atur sesuai jadwal.


" Hati-hati ya Rin, dit jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya." Perintah Elisabeth.


" Iya ma."


" Kita pulang dulu Tante." Pamit Karin.


Lalu Karin menggandeng tangan putrinya sampai ke parkiran mobil, seperti biasa Karen akan di depan dan Karin duduk di kemudi kedua bersama Nanny.


Jalanan yang cukup macet membuat Karin merasa bosan akhirnya dia tertidur.


" Pa mama tidur." Karin seraya memberi tau Aditya.


" Iya sayang mungkin mama cape." Aditya melihat wajah Karin dari kaca. " Wajah mu tak pernah berubah Rin masih tetap teduh seperti Karin yang aku kenal dulu." Batin Aditya berkata.


Yang seharusnya satu jam nyampe ke rumah, dan kini mereka satu setengah jam baru sampai. memasuki halaman rumah dan ternyata Hans dan Anita sudah menunggu di dalam.


" Rin..Rin_ Bangun kita sudah sampai."


" Euhhhh_" Karin mengumpulkan kesadaran nya lalu turun dari mobil. " Sus tolong bersihkan badan Karen setelah itu beri dia makan malam ya, lalu tidur."


" Iya kak."


Aditya menyempatkan bertemu dulu dengan Hans dan Anita sambil ingin berpamitan. dia masuk ke dalam. " Tante Uncle_ Aditya pamit pulang ya karena masih ada urusan di restoran."


" O Adit, terimakasih nak Adit sudah mengantarkan anak dan cucu kami." Hans berdiri karena ingin mengantarkan Adit sampai depan pintu, dan Anita hanya membalas dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2