Father For My Son

Father For My Son
BAB 21


__ADS_3

" Rin mau kah kau menikah dengan ku dan hidup menua bersama ku?." Ucap Aditya dengan hati yang berdebar.


Karin terdiam dengan ucapan Aditya barusan karena ini entah yang kesekian berapa Aditya mengajak nya menikah.


" Tidak bisa dit, itu tidak mungkin." Karin menjawab dengan dada yang sesak.


" Alasan nya apa Rin? kurangkah caraku untuk membuat mu bahagia? beritahu aku agar bisa membuat mu percaya dengan ucapan ku." Aditya kembali bertanya.


" Carilah wanita yang bisa hidup bersama mu sampai nanti, karena kamu berhak bahagia."


" Tapi kebahagiaan ku adalah hidup menua bersama mu." Aditya bingung dengan jawaban Karin yang selalu menolak. " empat tahun aku menunggu mu, membuktikan semua nya agar kamu percaya lagi padaku."


" Tapi aku benar-benar tidak bisa dit, aku ingin fokus membesarkan putriku karena hanya dia harapan ku." Karin bingung harus alasan apalagi untuk menolak Aditya.


" Kita bisa membesarkan dan menjaga nya sama-sama dia juga putriku. aku mohon Rin demi anak kita." Aditya bersimpuh memohon pada Karin.


*Deg


Anak kita*???


Rasa sakit dan sesak di dada ketika mendengar ucapan Aditya. " Jangan seperti ini aku mohon, mengertilah dengan ucapan ku jika aku tidak bisa." Karin meneteskan air mata nya.


Aditya melihat wanita yang di cintai nya meneteskan air mata sehingga membuat Aditya mengakhiri pembicaraan nya. " Maafkan aku sudah membuat mu menangis kembali, biar ku antar kamu pulang agar istirahat." Aditya tau hati Karin pasti sangat rapuh sekali mengingat dulu Karin begitu depresi ketika di terpa masalah dengan keluarga nya, jadi Aditya memilih untuk diam agar tidak membuat Karin semakin menangis.


Di dalam mobil tidak ada satupun yang berbicara, Aditya hanyut dalam pikiran yang kacau karena memikirkan bagaimana meyakinkan hati Karin. sedangkan Karin sedang menata dan mengingat ucapan Aditya yang tadi.


" Andai kamu tau dit jika aku tidak akan bisa hidup sampai tua bersama mu karena dokter saja selalu bilang jika kondisi ku buruk." batin Karin berbicara.


Dan kini Karin sampai di rumah dia pun langsung bergegas turun dari mobil. " Terimakasih sudah mengantarku."


" Aku yang harus berterimakasih karena sudah menemani ku siang ini, maaf." Aditya masih merasa tidak enak hati dengan Karin.

__ADS_1


Karin pun langsung masuk ke dalam rumah sedangkan Aditya langsung pulang.


" Rin tumben sudah pulang, Aditya mana? " Tanya Anita karena biasa nya Aditya akan pamit menemui dirinya.


" Aditya banyak kerjaan Bu jadi dia buru-buru aku ke kamar dulu karena badan ku cape."


" Iya sudah istirahat saja."


Sore hari Karin sengaja ingin memasak makanan favorit Karen jadi dia harus turun ke dapur sore ini Karin akan membuat ayam kecap serta bola udang.


Memulai masak dengan lihai tampa bantuan ketua dapur membuat para pekerja terpesona sudah banyak uang, cantik tapi masih mau turun ke dapur padahal sudah ada chef yang biasa memasak. setelah selesai semua nya Karin langsung menyiapkan nya di meja makan dan memanggil Karen.


*


*


*


*


*


" Iya mama." Jawab Karen dengan singkat karena semakin kesini Karen semakin banyak diam padahal dulunya dia sangat ceria. tapi Karin merasa itu biasa saja mungkin karena faktor saja.


" Sus jaga Karen ya, nanti saya bilang papa nya jika dia harus makan tepat waktu."


" Baik kak, kita berangkat dulu, De ayo pamit dulu sama mama." Titah nya pada Karen.


" Mama aku pamit kerumah papa."


" Iya sayang, ingat jangan nakal jangan membuat Oma repot." Karin kembali mengingatkan. Dan hanya di jawab anggukan oleh putrinya.

__ADS_1


Pesan...


Karen


[ Dit nanti Karen harus tepat waktu makan nya , dan jangan mengajak dia terlalu banyak bermain dia harus istirahat yang cukup juga ]


*Aditya


[ Tenang ada mama jadi jangan khawatir, oh ya apakah kamu tidak ikut ]


Karen


[ Tidak aku banyak kerjaan ]


Aditya


[ Baiklah* ]


Karena Anita dan Hans sedang ada urusan di luar jadi Karin memilih pergi dan berniat ingin check up kerumah sakit. dan sekaligus ada kerjaan yang harus di obrolkan bersama Tristan walaupun sekarang Tristan pemegang penuh bisnis nya. tapi dia juga tidak boleh lalai tanggung jawab nya sebagai seseorang yang di belakang Tristan.


" Apakah kamu yakin ingin menanam saham di perusahaan Produk makanan?." Tanya Tristan kembali.


" Yes, kalo tidak kita bisa bikin produk makanan sendiri." Ucapan Karin membuat Tristan kaget.


" Membuat produk sendiri tak segampang itu Rin, kita juga perlu membangun pabrik dan itu membutuhkan dana yang besar."


" Apakah uang penghasilan jualan tidak cukup Tris?."


" Bukan begitu maksud ku kalo membuat produk sendiri pasti proses nya lama, ya sudah kita tanam saham saja pada produk makanan junk food yang sangat terkenal."


" Kamu atur saja yang penting urusan nya beres dan tidak ada kendala." Dan pada ujung nya Karin pasti akan menjawab seperti itu sehingga membuat Tristan sudah tidak aneh lagi.

__ADS_1


Setelah kedua nya selesai ngobrol akhirnya Karin harus lanjut ke rumah sakit untuk melakukan check up kesehatan nya.


__ADS_2