Father For My Son

Father For My Son
BAB 36


__ADS_3

"Bagaimana keadaan putriku?" Hans menatap Aditya dengan tatapan dingin menandakan ada kemarahan karena Aditya tidak bisa menjaga putrinya sampai harus koma.


"Belum ada perubahan ayah." Aditya menatap ayah mertua nya dengan tatapan sendu.


Hans menghampiri sang putri yang terbaring dengan wajah yang pucat, dan alat medis yang terpasang.


"Apa kamu sudah bertanya dengan dokter bagaimana keadaan nya?"


"Sudah, dokter bilang kita hanya bisa nunggu Karin siuman." Aditya menjawab dengan lesu.


"Apa tidak sebaiknya kita bawa saja kerumah sakit luar negri?" Dahi Hans berkerut mengisyaratkan persetujuan.


"Aku rasa tidak perlu ayah, terlebih kasihan karen jika harus di tinggal."


"Iya kamu betul Karen pasti sedih jauh dari mamanya, apa kamu tidak ingin pulang dulu biar ayah yang menjaga."


Aditya menggelengkan kepalanya. "Aku akan terus menjaga Karin."


"Baiklah kalau begitu ayah pamit karena ingin menjemput Karen di sekolah."


"Ayah aku titip Karen."


"Hmmm—" Hans berlalu keluar karena ingin menjemput sang cucu yang sebentar lagi akan pulang.


Aditya terus menggemgam tangan Karin, mengelus pucuk rambut Karin dengan lembut, lalu turun mengusap perut yang sudah membuncit.

__ADS_1


"Hallo anak papa lagi apa di perut mama? Sehat-sehat ya nak sampai lahir." Dan setelah Aditya berbicara, sang bayi memberi respon menendang perut sang ibu dia memberikan jawaban bahwa dia baik-baik saja di dalam perut. "Sayang andai kamu bisa melihat putra kita menendang-nendang perut mu dia begitu pintar." Tak ada sahutan dari sang istri membuat aditya lesu.


Hari demi hari telah di lewati dan tak terasa Karin sudah satu bulan koma dan tidak ada kunjung perubahan.


"Bagaimana dokter untuk perkembangan bayi dan ibunya?"


Dokter Debby hanya bisa memberikan senyuman. "Bayinya sehat kuasa Tuhan dia begitu hertahan hebat di perut ibunya, entah kebaikkan apa yang di lakukan istri bapak sehingga bayinya mampu bertahan, dan untuk ibu Karin pak Adit harus sering-sering mengajak nya ngobrol supaya bisa membuat alam bawah sadar nya pulih."


Mengangguk paham dengan apa yang di katakan dokter Debby Aditya pun kembali keruangan sang istri di rawat, di situ nampak Karen yang terus berceloteh.


"Mama cepat bangun, aku mau sama mama aku gak mau sama orang lain aku cuma punya mama, aku gak papa kehilangan yang lain asalkan jangan kehilangan mama."


Mendengar putrinya berbicara seperti itu membuat Aditya serasa hatinya di iris benda tajam karena dia tahu betul bagaimana sang istri memperjuangkan hidup putrinya sampai sehebat ini.


"Gak apa-apa ma, oh ya mama sama Karen apa sudah makan? Jika belum aku bisa menyuruh bodyguard untuk membelinya."


"Mama sama Karen sudah makan sebelum ke sini, Oh ya dit kamu sudah satu bulan tidak pulang para pekerja di rumah bagaimana dengan gajinya apa mau mama dulu yang bayar?"


"Tidak usah ma nanti aku suruh asisten ku untuk membayar semua para Art di rumah."


"Baiklah."


Elisabeth dan Aditya Mengobrol menceritakan bagaimana perjalanan hidup mereka, tampa terasa waktu sudah sore.


"Mama pulang dulu sama Karen besok mama akan ke sini lagi."

__ADS_1


"Iya ma hati-hati aku titip Karen ya selama aku di sini."


Elisabeth mengajak sang cucu untuk pulang karena kebetulan ini sudah sore dan Karen harus mandi.


Semenjak mama nya koma di rumah sakit Karen lebih banyak murung di kamar dan tidak mau berinteraksi dengan yang lain, dia hanya akan berbicara ketika di tanya oleh sang opa dan oma nya bahkan dengan susternya pun dia begitu jadi irit bicara.


"Kasihan ya Karen semenjak bu karin koma dia jadi lebih pendiam." salah satu art berbicara.


"Iya ya bagaimana kalo bu Karin pergi ninggalin kita semua dan terutama Karen putrinya."


"Eh husss Marni loe jangan gitu, do'a in aja semoga ibu cepat siuman."


"Iya ni marni kalo ngomong ih." Cicit beberapa art yang lain.


"Eh ngomong-ngomong kalo bu Karin ninggalin kita semua siapa yanh akan gajih kita dan ngasih bonus setiap bulan."


"Masih ada pak Felix orang kepercayaan ibu, kamu lupa selama ini siapa yang gajih kita ibu kan sudah menikmati segalanya dia mah tinggal duduk manis."


"Gak kebayang kalo ibu pergi selamanya, nanti pak Adit jadi inceran para cewe-cewe di luar sana, terlebih pak Adit bergelimang harta."


"Tapi jangan salah Harta Ibu Karin jauh lebih banyak, yang aku dengar saja waktu tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan pak Felix mereka bilang kekayaan ibu mencapai delapan ratus miliyar."


"Loe beneran sel? Gila pantes aja dia royal ke kita rejekinya deres."


"Sudah-sudah mending kita lanjut kerjaan masing-masing." Dan semua para art pun bubar setelah selesai menyantap sarapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2