Father For My Son

Father For My Son
BAB 16


__ADS_3

Hari ini Karin akan pergi mengontrol keadaan nya kerumah sakit bersama asisten pribadi dan supir, Karin sengaja belum memberi tau Anita dan Hans karena tidak ingin membuat mereka khawatir. menerobos jalanan ibukota yang sedikit macet membuat Karin lama untuk sampai kerumah sakit.


" Sus Apakah Dokter nya ada di ruangan? "


" Dengan ibu Karin ya? Silahkan Bu, anda sudah di tunggu oleh dokter Deby di ruangan nya mari saya antar." Suster menunjukkan ruangan dokter Deby, dokter yang sudah satu tahun menanganinya setelah dokter yang dulu meninggal.


" Terimakasih." Seraya masuk ke dalam ternyata Karin sudah di tunggu. " Maaf dokter lama, jalanan begitu macet." Karin dan dokter Deby sudah akrab jadi mereka tidak ada lagi kecanggungan.


" Tidak apa-apa silahkan duduk Rin." Dokter Deby mengambil alat nya untuk mempersiapkan tes bagaimana perubahan hormon Karin dalam Minggu ini.


Deby dan Karin pun lama di dalam ruangan karena Karin harus melakukan tes ini itu agar di ketahui gimana perkembangan kesehatan nya.


Setelah selesai semua nya Karin meminta untuk di antar ke kantor nya ingin mengecek beberapa pekerjaan sekaligus akan memberikan bonus serta flus gajih pada semua karyawannya.


Kantor tampak ramai karena semua karyawan bersemangat bekerja, mereka begitu senang karena memiliki bos yang royal sehingga membuat para karyawan betah.


" Kenapa ke sini? kenapa tidak istirahat? kan yang kerja di sini ada saya di bantu oleh Oliv dan Kenzi." Celoteh Tristan karena Tristan tau jika hari ini Karin habis check up, Tristan tidak mau Karin kecapean mengingat kondisinya yang lemah.


" Aku suntuk jika di rumah Tris jadi lebih baik aku bekerja."


Memutar bola matanya malas Tristan paling malas berdebat dengan Karin jika tentang kerjaan karena wanita itu akan keras kepala jika berhubungan dengan kerjaan.


Tampa Karin sadari dirinya sampai masuk tv dan koran-koran. " Seorang wanita muda yang sukses dalam bisnis nya dalam waktu cepat sudah mempunyai puluhan karyawan, banyak pria yang berdatangan menawarkan diri untuk menjadi pasangan hidup nya tapi naas wanita muda yang terkenal dingin itu selalu menolak nya, belum di ketahui benar atau tidak nya jika seorang wanita muda itu sudah mempunyai satu putri yang belum di ketahui identitas." Tristan merasa kaget dengan isi koran itu setelah membacanya dan melihat jika wajah Karin lah yang terpampang di sana.


" Rin lihatlah kau masuk koran dan tv."


" Apa?? " Karin terdiam sedang mencerna apa yang di katakan Tristan.


" Lihat." Tristan menaruh koran itu di meja milik Karin.


" Siapa yang memasukan nama ku di koran ini? photo-photo ku? kenapa harus terpampang di sana juga? "

__ADS_1


" Itu berarti kau sukses dalam usia muda." Timpal Tristan.


Karin terus memandangi koran itu lalu menyalakan tv kantor nya, baru saja menyala berita tentang dirinya sudah muncul. semua itu membuat Karin menghela napas, dia terus saja berpikir jika dia masuk tv otomatis anaknya akan di bawa-bawa, Karin pun tidak mau anak nya di cap jelek oleh media. " Arghhhhhh." Teriak Karin membuat Tristan kaget.


" Rin kau kenapa apa kau baik-baik saja? "


Karin tersadar dalam pikiran hanyut nya. " Ah tidak apa-apa aku hanya kaget."


Karin hanya bekerja sebentar dan ia memilih pulang karena ingin mengajak anaknya bermain.


" Kak, kamu masuk tv bahkan banyak sekali di dalam koran-koran yang mereka jual di jalanan." Ucap sang asisten pribadi.


" Iya saya sudah tau." Jawab nya dengan datar.


Para pekerja Karin sudah tidak aneh dengan sikap datar cuek dan ketus nya Karin, karena mereka mengetahui Karin adalah orang baik yang selalu menolong orang yang sedang kesusahan. mungkin jika orang yang belum mengenal akan merasa jika Karin seperti orang yang ingin memakan manusia hidup-hidup.


Hening di dalam mobil tak ada yang bersuara membuat mereka tidak terasa cepat sampai di rumah, dan setelah sampai di depan rumah Karin sudah banyak wartawan yang menunggu hingga membuat penjaga gerbang kewalahan. para wartawan sadar jika yang mereka tunggu telah datang sehingga berkerumun mendekati mobil.


" Rin apakah di depan masih ada banyak wartawan? " Tanya Hans karena tadi Hans dapat laporan jikandi depan ada sekitar lima belas wartawan yang datang ingin bertemu Karin.


" Masih.. Huuuhhh." Karin menghela napas nya sambil menyandarkan kepala di sofa.


" Kapan mereka pergi nya sudah sore begini." Gerutu Anita.


Di luar terdengar kerusuhan antara satpam dan wartawan yang terdengar langsung oleh Karin, karena merasa kesal akhirnya Karin jalan ke depan di temani Hans dan Anita.


" Stop_ " Suara teriak Karin mampu membuat semua wartawan mengalihkan pandangan.


" Ibu Karin, tolong ceritakan perjalanan karir ibu Karin hingga bisa sesukses ini Bu. dan siapa anak kecil yang selalu bersama ibu Karin. tolong jelaskan pada kami." Teriak dan terkecoh suara wartawan satu dan lainnya.


" Tolong pergi dari rumah saya sebelum saya panggil pihak berwajib, kalian sangat menggangu ketenangan saya." Tegas Karin dengan wajah menyeramkan. bukan Karin tidak ingin menjawab pertanyaan wartawan tapi keadaan Karin yang sedang sakit butuh istirahat.

__ADS_1


Karin memilih masuk lagi ke dalam, dan di luar Hans sedang berbicara entah apa yang di bicarakan Hans hingga membuat para wartawan bubar dari depan gerbang rumah.


Karin memilih beristirahat di kamar sambil melihat-lihat hasil pemeriksaan dari dokter. " Apakah aku bisa sembuh dan melanjutkan hidup ku bersama anakku?" ucap batin Karin yang penuh harap.


Tring..


Ternyata Aditya mengirim pesan.


[ Aditiya : Rin di tv heboh sekali tentang mu? ]


[ Karin : Iya biarkan saja. ]


[ Aditya : Apakah kita weekend akan jadi pergi ? ]


[ Karin : Tidak. ]


[ Aditya : Baiklah jaga dirimu. ]


[ Karin : Iya. ]


Aditya menghela napas nya dengan balasan singkat yang Karin kirim.


Karena efek obat yang dia minum hingga membuat Karin ketiduran, jadi dia tidak ikut makan malam. Anita dan Hans sudah terbiasa dengan Karin yang sering tertidur dan meninggalkan jam makan malam.


*


*


*


Karin hanya menjalani hari-harinya di rumah saja bersama Karen, dia belum berani keluar karena masih ada wartawan yang selalu datang ke rumah nya. terkadang Aditya yang datang untuk bermain dengan Karen.

__ADS_1


Karin merasa terganggu akhirnya memutuskan untuk menyuruh sang asisten menutup media tentang dirinya dengan memberikan uang nominal yang besar untuk menyuap media salah satu stasiun tv.


__ADS_2