
"Karinnn." Aditya Teriak histeris melihat sang istri jatuh dari eskalator dan membuat orang yang berada di sekitar ikut berteriak betapa ngeri nya. Aditya Lari menghampiri istrinya yang sudah berada di lantai bawah dan tergeletak mengeluarkan banyak darah. "Panggilkan ambulans cepat." Teriak Aditya pada sang bodyguard.
Tak perlu menunggu lama ambulans pun datang dengan sigap membawa Karin menuju IGD agar segera di tangani.
"Dokter tolong selamatkan istri dan anak say, saya mohon." Aditya begitu lemas melihat sang istri yang tidak sadarkan diri.
"Bapak tunggu di sini, kami akan berusaha."
1 jam lamanya dokter berusaha menyelamatkan ibu dan anak yang ada di dalam kandungan, kuasa Tuhan beruntung cepat di tangani jadi bayi yang ada di dalam kandungan masih bisa di selamatkan.
"Adit bagaimana keadaan putri kami?" Hans dan Anita yang terkejut mendengar kabar buruk langsung datang kerumah sakit.
"Bagaimana keadaan Karin nak?" Elisabeth pun merasa cemas.
"Ayah, ibu, Mah." Aditya nangis di pelukan ibunya dengan histeris.
"Katakan apa yang terjadi?" Hans kembali bertanya.
"Sudah pah jangan di tanya dulu Adit masih syok." Anita menenangkan sang suami yang tampak begitu mengerikan setelah mendengar putri mereka terjatuh.
__ADS_1
Dari dalam dokter pun keluar untuk bertemu keluarga pasien. "Dengan keluarga pasien?"
"Iya dok kami keluarganya bagaimana keadaan istri saya dan anak yang ada di dalam kandungan."
"Bayi yang ada di dalam kandungan masih bisa di selamatkan untung nya pasien cepat di tangani, Tapi maaf bu mengenai ibu pasien—" Belum selesai berbicara Aditya sudah menjawab lebih dulu.
"Kenapa istri saya dok?"
"Istri bapak kritis karena terlalu banyak kehilangan darah, kami akan berusaha mencari transfusi darah untuk pasien, saya pamit dulu pak, bu."
Semua yang ada di situ merasa lemas ketika mendengar Karin kritis.
"Maaf pak ini salah kami." Para bodyguard nunduk tak berani menatap.
"Sabar pah ini musibah, kita berdo'a saja supaya Karin cepat siuman." Anita dan sang besan saling menangis dan memeluk.
Aditya masuk ke dalam ruang rawat Karin. "Sayang maafkan aku yang tidak bisa menjaga kalian." Aditya menangis kencang sambil memegang erat tangan sang istri. Lama dia memandangi wajah Karin yang pucat dan mengusap perut sang istri. "Hay anak papah kamu kuat ya di dalam sana."
Bergantian untuk masuk melihat keadaan Karin, Hans yang biasanya cuek dan seperti tidak peduli dan tak berperasaan, kini dia meneteskan airmata melihat putrinya yang baru kali ini terbaring lemah.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa seperti ini nak." Anita tak menyangka dengan musibah sebesar ini.
Setelah semuanya sudah selesai melihat keadaan Karin, Aditya menyuruh Mama dan sang mertuanya untuk pulang.
"Ayah Ibu dan Mamah pulang saja biarkan aku menemani Karin di sini, Aku titip Karen."
Sang mertua pun mengangguk paham. Dan mereka akan kembali besok.
Sesampainya di rumah Hans langsung mengumpulkan para bodyguard yang dia suruh untuk menjaga putrinya dan calon cucu.
"Kenapa kalian tidak becus menjaga putriku hah?" Hans dengan wajah murka sampai menarik salah satu baju bodyguard yang tadi ikut menjaga.
"Maaf pak ini semua musibah, kami sudah menjaga seberusaha mungkin tapi hal buruk menimpa tampa sepengetahuan kami." Tubuh bodyguard itu bergetar hebat karena ketakutan, yang ada di pikiran dia pasti mereka akan di pecat.
"Katakan bagaimana ini bisa terjadi?"
"Tadi ketika kami sedang turun eskalator, ada salah satu anak yang begitu saja menyerobot dan menabrak ibu karin hingga terjatuh."
Setelah mendengar penjelasan dari ketua bodyguard Hans menyuruh mereka untuk bubar dan pergi istirahat karena ini sudah pukul 1 malam.
__ADS_1