
Sesampainya di rumah Aditya terlihat di ruang tv Elisabeth sedang mengobrol dengan suami nya.
" Ma..." Panggil Aditya.
" Adit.. kamu kenapa balik lagi apakah pesawatnya ketinggalan nak? " Elisabeth merasa heran dan melirik ke arah samping terdapat Karin.
" Aku tidak jadi berangkat." Jawabnya dengan enteng.
" Maksud mu? " Elisabeth merasa bingung dengan jawaban putranya,
" Aku tidak jadi ke Rusia karena akhirnya Karin menerima ku dan aku bisa melanjutkan hidupku bersamanya." Aditya tersenyum dan memegang erat tangan Karin.
" Benarkah? ah ini bukan mimpikan? pah ini, ini tidak bohong kan coba cubit mama pah." Elisabeth menghampiri Karin Lalu memeluk Karin. " Terimakasih ya sayang akhirnya aku akan memiliki menantu. "
" Sama-sama Tante. " Karin tersenyum kaku, dia pun masih tidak menyangka jika takdir akan membawa nya ke titik ini.
*
*
__ADS_1
*
Satu bulan kemudian
Hari ini adalah hari pernikahan Karin dan Aditya yang di selenggarakan secara sederhana di rumah Karin dan hanya kerabat dekat serta teman yang datang, bukan tak mampu membuat pesta mewah tapi Karin yang menolak karena menurut nya hanya akan membuang uang saja.
Anita, Hans, Elisabeth serta Antonio mereka ikut bahagia menyaksikan putra putri mereka mengikat janji nikah, harapan orangtua hanya satu semoga menjadi rumah tangga yang bahagia dan bahtera.
" Selamat ya sayang, jodoh memang tidak ada yang tau terkadang kita perlu melangkah jauh untuk mendapatkan sesuatu yang berharga." Ucap Anita dengan senyuman sambil memeluk Karin.
" Jaga putriku, jangan sakiti dia lagi, jika kau tak lagi mencintai nya beritahu aku agar aku menjemput nya. " Bisik Hans pada Aditya dan di jawab anggukan oleh Aditya.
Waktu sudah malam dan begitu sangat melelahkan, dan karena kini sepasang suami istri sedang bengong di dalam kamar Karin bingung apa yang harus dia lakukan sedangkan Aditya bingung harus mulai dari mana.
" Rin_ Dit_ ” Sontak secara bersamaan
" Kamu dulu saja." Karin merasa kaku.
" Kamu saja." Bukan menjawab Aditya malah melayangkan kata-kata yang sama. " Jangan takut." Aditya mendekat ke arah Karin.
__ADS_1
" Aku–" Karin merasa hatinya berdebar.
" Aku akan melakukan nya dengan pelan, bolehkah aku meminta hak ku? " Aditya menanyakan lebih dahulu karena takut wanita nya belum siap jadi dia tidak akan memaksa.
Sebelum menikah karin di beritahu Anita, jadi seorang istri itu jangan menolak permintaan suami karena akan menjadi dosa, kata-kata itu mampu membuat Karin menganggukan kepala tampa sadar.
Aditya tersenyum lalu mencium bibir Karin dengan perlahan dan menuntut membuat Karin ikut hanyut juga, menjelajahi semua rongga mulut milik Karin dan sudah merasa puas Aditya mulai turun ke area dua tumpukkan kembar dia terus menghisapnya sampai membuat Karin mengeluarkan suara lentik miliknya.
Aditya sudah tidak sabar untuk menyusuri mahkota milik Karin, dengan perlahan Aditya melakukan nya hingga membuat Karin mengeluarkan suara erangan yang begitu merdu. dan kini kedua nya hanyut dalam gelombang cinta yang begitu memabukkan entah berapa lama mereka bercinta karena Aditya hingga mengulanginya beberapa kali.
Aditya ambruk di atas badan Karin setelah kedua nya bercucuran keringat. " Terimakasih sayang." Aditya mencium kening Karin.
Karena sudah merasa lelah mereka pun tertidur Aditya memeluk Karin dengan erat. karena semalam entah berapa ronde yang mereka lakukan hingga sudah jam sebelas siang sepasang pengantin baru itu pun belum kunjung bangun.
" Semalem pak Aditya menghabiskan berapa ronde ya sampe jam segini mereka belum bangun juga." Ucap salah satu art dan di timpali art lain, mereka mengobrol di halaman paviliun belakang.
" Kaya gak pernah muda aja kamu." timpal salah satu teman nya
Dan semua nya tertawa membayangkan seberapa ganasnya Aditya hingga siang bolong tidak bangun. tadi lagi pun Karen menanyakan mamanya tapi sang Oma memberi tahu jika mamanya sedang istirahat.
__ADS_1