Father For My Son

Father For My Son
BAB 33


__ADS_3

"Sayang."


"Hmmm_" Karin masih fokus dengan layar laptop nya.


"Apa kamu masih marah denganku?"


"Apa menurut mu aku marah padamu?" Bukan menjawab karin malah melontarkan balik pertanyaan.


"Tapi—"


"Sudahlah jangan di bahas, aku hanya kesal." Karin langsung memotong aditya yang belum selesai berbicara.


"Maaf." Hanya satu kata yang mampu aditya keluarkan dari bibir nya. "Aku rindu seperti ini." Memeluk erat sang istri dengan begitu lama dan ternyata Aditya sudah tertidur lelap.


Memandangi wajah sang suami karin merasa bersalah karena hampir dua minggu mendiamkan suaminya, padahal jelas-jelas ini bukan salahnya.


*


*


*


5 Tahun kemudian....


"Mama aku dapat juara 1 lagi." Karen yang sudah menginjak umur sepuluh tahun tumbuh menjadi anak yang begitu pintar dan cerdas yang selalu menduduki peringkat pertama di kelasnya.


"Iya sayang mama sama papa bangga sama kamu." Karin mengacak-acak rambut putrinya dengan gemas.

__ADS_1


"Makasih mah, oh ya papah ko gak dateng?" Karen mencari keberadaan sang papa.


"Papa lagi temani oma di rumah sakit."


Karen mengangguk paham, dan ibu dan anak itu pergi kesebuah pusat berbelanja yang ada di sebuah mall yang terkenal di jakarta. Mencari dan memilih barang yang di inginkan keduanya pun memilih untuk pulang karena sudah malam.


"Bagaimana keadaan mama kamu sayang?"


"Mama semakin membaik mungkin dua hari lagi pulang." Aditya begitu cemas memikirkan sang mama yang semakin sering keluar masuk rumah sakit karena setres semenjak di tinggal sang papa pulang lebih dulu di panggil Tuhan.


"Kenapa mama tidak tinggal saja bersama kita jadi ngumpul di sini, lagian masih ada kamar kosong."


"Jika mama di sini berarti rumah yang kubeli akan kosong dan hanya para pekerja yang tinggal di sana, lagi pula mama tidak akan mau mama bilang banyak kenangan di rumah itu terlebih aku membelinya untuk anak kita."


"Para pekerja bisa tinggal bersama kita jika kamu kasihan pada mereka, lagi pula paviliun belakang masih banyak kamar kosong dan aku masih sanggup untuk menggajih mereka, lagi pula karen sudah memiliki rumah ini jadi dia tidak perlu rumah lagi."


"Bukan begitu maksudnya sayang—" Belum selesai berbicara Karin sudah memotong pembicaraan lebih dulu.


Ke esokan harinya...


Mereka Sarapan bersama dan sambil berbincang membicarakan tentang bisnis mereka.


"Ayah dengar dari ibu kamu mau membuka kantor baru nak?"


"Hmmm.. Kantor lama sudah sangat sempit ayah jadi ku rasa aku harus memiliki kantor ke empat dan yang lebih luas lagi."


"Ayah bangga sama kamu, selain kamu hebat kamu juga bisa memberikan banyak bantuan ke orang-orang yang sangat membutuhkan pekerjaan."

__ADS_1


"Iya ayah do'a in semasa hidup aku selalu terus berguna untuk orang-orang yang membutuhkan."


"Ayah dan ibu pasti akan selalu do'a in kalian supaya terus maju usahanya terlebih ada cucu ayah yang cantik ini nanti kamu harus bisa meneruskan usaha mama mu ya."


Karen mengangguk saja seperti orang paham, dan karin tertawa melihat ekspresi anaknya.


"Ayah ibu, sayang aku harus berangkat kerja karena ada meeting jam sepuluh jika ada apa-apa kabari aku."


"Hati-hati dit."


"Iya ibu."


Karin mengantarkan sang suami ke depan pintu lalu bersiap-siap akan mengantar karen sekolah.


"Sayang ayo berangkat."


"Iya ma."


"Karin apa perlu ayah temani bukannya kamu sedang sakit?"


"Tidak usah ayah, aku tidak apa-apa."


"Jangan memaksa kan jika tidak kuat biarkan ayah dan ibu yang akan mengantar kamu istirahat saja."


"Tidak, aku masih sanggup bukan kah ayah dan ibu ada urusan properti keluar negri."


"Iya ayah akan flight jam sebelas, jangan memaksa mengantar ada bodyguard yang masih bisa menjaga karen."

__ADS_1


"Ayah berangkatlah, aku masih bisa."


Hans Menganggukkan kepala karena Hans tau jika Karin adalah manusia yang tidak bisa di larang.


__ADS_2