
Sesampai mengantar sang putri Karin buru-buru untuk pulang karena kepalanya yang begitu pusing. Bersandar di dalam mobil tampa satu orang pun yang mengetahui ternyata Karin pingsan.
"Bu kita sudah sampai rumah."Sang asisten membangunkan karin tapi tidak ada sahutan. "Bu.. Ibu karin."
"Kenapa Ibu bos apa dia begitu ngantuk sehingga begitu terlelap."
"Diam kau." Sang asisten pun kembali membangunkan Karin. "Jangan-jangan ibu Karin pingsan, cepat kita bawa kerumah sakit.
Tampa pikir lama mereka membawa Karin kerumah sakit. Dan tak lupa mengabari Aditya memberi tahu dimana karin di rawat.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Selamat ya pak,bu sebentar lagi kalian akan menjadi orangtua."
Karin dan Aditya begitu terkejut dan tak menyangka jika penantian nya selama tujuh tahun kini hadirlah sebuah benih cinta yang mereka tanam.
"Apa aku tidak mimpi dokter?"
Sang dokter pun tersenyum. "Bapak dan Ibu bisa memeriksakan nya ke dokter kandungan."
Saking bahagia nya Aditya langsung pamit dan membawa sang istri ke dokter kandungan dan ternyata sudah jalan delapan minggu.
"Dengar sayang kamu tidak boleh lelah, tidak boleh mengantar karen ke sekolah lagi, cukup aku yang mengantar bila perlu aku akan menambah orang untuk membantu mu ketika aku bekerja."
"Jangan berlebihan, di rumah sudah banyak pekerja dan mereka akan pasti bisa membantu."
__ADS_1
"Tapi sayang—" Belum selesai berbicara tangan Karin sudah menutup mulut Aditya agar diam.
"Aku bisa, kamu pikir aku sakit."
"Tapi sayang aku kan—" Lagi-lagi karin menutup mulut sang suami.
Dan Aditya pun Pasrah lalu diam. Karena ingin menjaga sang istri.
Ke esokan Hari...
"Huwekk...Huwekkk." Karin memuntahkan semua isi sarapan yang ada di dalam perut.
"Sayang apa harus ke dokter?" Aditya begitu khawatir.
"Tidak perlu katanya ini biasa bagi ibu hamil trimester pertama."
Di tempat lainnya...
"Cus kata temen aku kalo aku punya adek pasti sayang nya pindah ke adek?"
"Nggak semua begitu, Mama Karin pasti selalu sayang sama kaka, sebentar lagi kaka bakalan punya temen baru."
"Tapi cus kata temen aku begitu."
"Kaka gak boleh berpikir begitu, mama Karin sama Papa kan sayang banget sama kaka."
__ADS_1
Karen mengangguk-angguk saja apa yang di katakan sang suster, karena merasa mengantuk Karen memilih tidur di dalam pelukan sang pengasuh.
Hari demi hari telah Karin lewati kini kandungan nya menuju kehamilan bulan ke enam dan mereka akan pergi ke sebuah plaza terbesar di jakarta untuk membeli peralatan baby boy mereka.
"Sayang pelan-pelan jangan terlalu cepat jalannya." Aditya begitu posesif semenjak kehamilan istrinya semakin besar.
"Aku tidak buru-buru aku hanya tidak sabar membeli peralatan untuk putra kita."
Aditya menghela napas dengan pasrah dari pada harus berdebat dengan istrinya dia lebih baik diam.
Dari kejauhan Karen yang merasa sedih karena sang papa yang selalu sibuk dengan mama dan adik yang ada di dalam perut.
"Karen.. Karen." Sang suster berteriak memanggil Karen yang berlari kearah kamar.
"Kenapa sus?" Anita yang baru datang dari luar bertanya pada sang suster kenapa berteriak memanggil cucunya.
"Itu bu sepertinya Karen merasa cemburu atas kehamilan ibu karin."
"Oh ya sudah biar nanti aku yang memberitahu Karen." Anita langsung hendak untuk menemui sang cucu.
Di sebuah pusat belanja Karin yang begitu sibuk memilih pakaian serta box bayi bernuansa biru. "Sayang ini bagus tidak?"
"Sangat bagus jika kamu mau semua pakaian baby di sini aku bisa membelikan nya." Perkataan Aditya yang terdengar oleh ibu-ibu lain membuat mereka menganga ketika mendengar sebuah tawaran seperti itu, andaikan itu di posisinya mungkin tampa berpikir lama akan membeli semuanya.
"Jangan berlebihan ini sudah cukup banyak."
__ADS_1
"Jika aku menjadi istrinya mungkin aku akan membeli semuanya, bodoh sekali yang menjadi istrinya." Gumam salah satu ibu hamil.
Setelah selesai berbelanja, Aditya dan Karin akan turun kelantai bawah untuk makan sore karena perut ibu hamil sudah sangat kelelahan setelah seharian memilih banyak baju baby. Ketika turun dari lift tiba-tiba ada anak kecil yang menyerobot dan tampa sengaja membuat Karin tidak bisa menahan tubuh dengan perut besarnya.