
" Karin_" Panggil seorang wanita dari kejauhan.
Karin merasa mengenal suara itu, suara yang sudah lama tidak ia dengar semenjak memutuskan hubungan nya dengan Aditya. " Tante? " Gumam nya. sambil menengok ke arah suara.
Mendekat ke arah Karin Elisabeth seraya ingin memeluk. " Karin apa kabar? Tante kangen sekali sama kamu."
" Baik Tante." Karin lalu diam terpaku setelah sekian lama dia harus bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah hadir di masalalu nya.
" Kamu katanya sudah sukses sekarang, Tante ikut senang mendengar nya."
" Biasa saja Tan, hanya usaha kecil-kecilan." jawab nya sambil tersenyum tipis. dan Karin mengulurkan tangan kepada papa Aditya.
Karena tadinya mereka berniat bertemu di rumah Anita tapi ternyata Aditya malah menjemput nya, dan kini mereka berempat berangkat bersama menempuh perjalanan selama 30 menit membelah jalanan ibukota. di dalam mobil Elisabeth banyak menanyakan bagaimana perjalanan Karin selama 5 Tahun hingga kini menjadi orang sukses. dan tak terasa mereka sudah sampai.
" Tan_" Ternyata Anita ada di kamar sedang menyisir rambut Karen dan Hans sedang di belakang.
" Eh ada mama sayang." ucap Anita pada Karen, dan Karen langsung berlari.
" Papa_"
" Iya sayang, sini papa gendong." Tapi Karen menolak karena fokus memandangi siapa dia orang baru ini, Karen berpikir kenapa sekarang selalu ada orang baru yang harus di kenal nya.
Anita sudah tak bertanya karena semalam Karin memberi tau jika hari ini akan ada tamu yaitu orangtua Aditya nenek dari putrinya.
" Silahkan duduk, saya panggilkan suami saya dulu." berlalu kebelakang dan memanggil Hans yang sedang duduk ngopi dengan santai.
" Rin ini cucu ku." Hari Elisabeth karena cucunya begitu cantik.
Karin hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman tipis nya.
" Pah lihat cucu kita." Elisabeth gemas dengan Karen, karena rambut nya yang hitam lurus, memiliki kulit putih, pipi yang chubby, serta mata hazel seperti milik Aditya.
" Iya mah papa gak menyangka jika Aditya mempunyai putri secantik ini." Puji Antonio.
" Tante kenalkan ini mama dan papa nya Aditya." Ucap Karin dengan wajah datar.
" Orangtua? " Anita terbata, karena merasa aneh kenapa baru sekarang mereka datang? banyak sekali pertanyaan yang ada di otak Anita.
" Maafkan kami, dulu kami sangat susah sekali mencari keberadaan Karin terlebih karena kami dulu sedang fokus merintis bisnis." Terang Antonio dan di jawab anggukan oleh Anita dan Hans.
__ADS_1
Sebenarnya Anita dan Hans sudah di jelaskan oleh Karin jadi mereka bertanya hanya ingin tau jawaban langsung.
Karin dan Aditya hanya diam tak bergeming mereka hanya menanggapi pembicaraan antara Anita, Hans dan orangtua Aditya.
Karen menghampiri Karin sehingga membuat lamunan Karin buyar. " Mama aku lapar." pinta Karen.
" Oh ya sayang ayo makan sama mama." berlalu ke dapur Karin mengajari anaknya cara makan yang benar. Tampa di sadari Aditya terus memandangi Karin sambil tersenyum.
" Hey, Adit." Elisabeth menyenggol lengan Aditya. " Kamu sedang melihat apa? " Tanya nya sambil melihat kearah dapur, Elisabeth terharu bagaimana Karin begitu lembut pada cucunya.
" Oh jadi Resto itu milik anda pak Antonio." Seloroh Hans.
" Iya benar pak Hans, pak Hans sendiri kerja di bagian apa?" Antonio bertanya balik.
" Ah saya hanya properti pak Antonio"
" Hmmm sedang melihat apa dit sampai tidak berkedip." Anita melirik ke arah dapur. " Oh sedang melihat itu, Karin memang lembut pada anaknya saya sendiri selama ini sangat bangga melihat Karin yang berjuang keras dan bisa ada di titik sekarang, menjadi ibu sekaligus menjadi ayah, serta guru untuk anaknya." Anita sedikit menyindir.
Elisabeth tersenyum kaku. " Iya benar Jeung dulu ketika saya sering bertemu dengan Karin, dia anak yang begitu baik.
Karen pun tertidur setelah makan, karena waktu sudah sore juga Aditya dan orangtuanya pamit sedangkan Karin tidak ikut pulang karena masih ada urusan.
Karin hanya menjawab dengan anggukan dan mengantar Aditya sampai depan.
-
-
" O ya Tan secepat nya kita akan pindah kerumah baru, Tante dan uncle tidak perlu cape nanti akan ada dua puluh karyawan yang akan membantu pindahan rumah kita. "
" Secepat itu?" Tanya Hans
" Iya karena ini rumah sudah siap huni."
" Baiklah kita mah ikut apa kata kamu aja Rin, iya gak mah."
" Iya Rin, Oh ya kenapa kamu tidak panggil kita sebagai orangtua kamu? kamu sudah kita anggap seperti anak kita, panggilan kita ayah ibu atau apa." Ucap Anita dengan tersenyum.
" Iya nih Karin sama kita kaya sama siapa aja." Hans ikut menimpali.
__ADS_1
" Hahaha iya Tan eh ibu."
" Nah gitu dong kan enak di dengar nya jadi kita serasa punya anak dan cucu iya kan pah."
Hans hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
*
*
*
*
*
Kini mereka sudah pindah, Hans dan Anita tidak menyangka jika Karin membeli rumah begitu megah, membuat Anita tak percaya serasa mimpi. Rumah megah ada sepuluh asisten rumah tangga dengan masing-masing tugas nya, satu baby sister, ada tiga supir, dua satpam dan tiga khusus tukang kebun total semua pegawai di rumah nya ada dua puluh orang serta satu asisten pribadi Karin.
Karin merasa bersyukur dulu hidup nya begitu sebatang kara, kini hidup nya terbalik dalam waktu singkat Tuhan memberinya rejeki.
Keseharian Anita hanya menemani Karin dan mengawasi, sedangkan Hans masih sibuk dengan usaha properti nya walaupun Karin melarang dirinya bekerja.
" Sus tolong jaga Karen ya, saya mau bikin kue kesukaan Karin." Ucap Anita.
" Baik Bu."
Melewati lift Anita turun langsung di dapur jadi dia tidak perlu cape turun tangga karena Karin sengaja membeli rumah yang memiliki fasilitas canggih agar dirinya tidak cape.
Di bantu oleh pegawai yang khusus bagian dapur Anita mulai membuat adonan.
Di tempat lainnya..
" Rin Tante mohon beri Aditya kesempatan untuk memperbaiki hubungan kalian." pintanya dengan memohon.
" Maaf Tan aku tidak bisa, sudah cukup luka yang Aditya gores sehingga membuat ku takut bersanding dengan pria mana pun."
" Tante minta maaf atas kesalahan anak Tante, tapi Tante mohon beri ruang lagi untuk Aditya dia masih begitu mencintai mu."
Karin hanya menggelengkan kepala karena tetap teguh pada keputusan nya.
__ADS_1
Selama Tiga tahun belakangan ini Aditya memang gigih untuk mendapatkan hati Karin yang begitu keras seperti batu, Aditya mulai berjuang untuk bertemu anaknya sekaligus untuk meluluhkan hati Karin yang pernah ia torehkan luka.