
" Karen Mama kerja dulu ya sayang nanti mama kesini lagi buat main sama Karen, Karen jangan nakal sama Tante, ok sayang! "
"Naaaa...laaaaaa..mama_" Karen terus berceloteh Tampa henti seolah dia tidak mendengar apa yg di bicarakan Karin.
Karin tak pernah lupa untuk mendidik anaknya dari sejak dini mungkin, agar Karen sudah terbiasa melakukan hal sendiri serta belajar memahami segala sesuatu, itu yang Karin tanamkan agar kelak anaknya tak hidup susah seperti dirinya.
" Tante aku titip Karen ya, mungkin Minggu depan aku baru akan kesini Karena ada kerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Karin sambil memberi tau bahwa dirinya akan sibuk.
" Tidak apa-apa jaga dirimu, ingat kamu harus selalu sehat karena ada putri mu yang selalu menunggu kepulangan mu." Anita selalu mengingatkan kesehatan Karin semenjak Anita tau jika Karin sakit.
" Iya Karin, kamu sudah seperti anak kami jadi kami tidak akan bosan mengingatkan mu, kerja boleh mengutamakan tapi kesehatan mu lebih utama." Hans ikut menimpali pembicaraan walaupun dengan ekspresi datar nya.
" Iya Uncle, Tante, hehhehe.."
Setelah itu Karin pamit dan akan langsung menuju tempat kerja nya sambil memantau penjualan nya yang sekarang sudah lumayan ramai pembeli, Ya! 2 Bulan ini Karin baru mencoba usaha sampingan yaitu sebagai penjual bermacam model baju di salah satu sosial media.
" Bagaimana Tris penjualan hari ini? apakah perkembangan penjualan kita semakin bagus? " Tanya Karin pada salah satu admin yang menjadi partner usahanya.
" Cukup bagus, kita baru membuka nya 2 bulan belakangan ini tapi banyak baju yang sudah laris terjual, semoga kedepannya lebih bagus."
Dan di jawab anggukan oleh Karin, Tristan Adonios berawal bertemu di tempat pameran hingga berkenalan dan sekarang menjadi partner dalam kerjaan, Karin dan Tristan membangun usaha sama-sama, Karin yang memberikan modal dan Tristan yang menjalankan, dan mereka berdua mempersiapkan keberanian hingga sekarang Karin memiliki penghasilan lebih dari kerjaannya.
Karin mengerjakan 2 kerjaan dalam sehari! mengurus kerjaan di toko serta mengurus usaha nya yang masih di rintis. dan semua itu tak membuat nya lelah mengingat ada putri cantik yang selalu menyemangati nya.
*
*
__ADS_1
*
Malam ini Karin dan Tristan berniat makan malam berdua sebagai menyenangkan diri sendiri atas terimakasih selama merintis usahanya.
" Hmmm.... Karin boleh kah aku bertanya? " Dengan ragu-ragu Tristan mengucapkan kata-kata itu.
" Boleh memang apa yang mau kamu tanyakan? apakah uang yang aku bagi tidak cukup? nanti aku tambah."
" Bukan bukan, itu sudah lebih dari cukup! begini Ku lihat usia mu sudah sangat dewasa apakah kamu tidak terpikir untuk menikah? maaf."
" Menikah? hahahhaha." seketika tawa Karin pecah hingga membuat beberapa pengunjung di restoran tampak melirik dirinya membuat Karin tersadar jika dia terlalu keras tertawa. " Gini Tris selama ini aku tak pernah terpikir karena menurut ku untuk apa aku menikah? aku bisa cari uang sendiri? aku sudah memiliki anak! lalu apa lagi? dan semua itu sudah lebih dari cukup menikah itu gak gampang perlu kesiapan mental, lagi pula kau kan tau aku tak memiliki kekasih jadi akan dengan siapa aku menikah?". Celoteh Karin dengan panjang lebar.
" Kau cantik! aku yakin banyak pria yang tertarik dengan mu."
" Aku malas berpacaran dan menikah pun tak ada di kamus kehidupan ku, jadi sudahlah jangan membahas soal itu." Karin merasa dirinya tak pantas untuk siapa pun, mengingat banyak kekurangan dalam dirinya apalagi sekarang dia sedang berjuang dari sakit nya.
Setelah kedua nya selesai makan kini mereka kembali pulang karena mengingat besok banyak sekali barang yang harus Karin packing untuk customer.
" Terimakasih sudah mengantarku." Karin menepuk pundak Tristan sembari turun dari motor.
" Harus nya aku yang berterimakasih padamu, karena sudah mentraktir ku."
" Wkwkkwkw_ nanti aku traktir lagi jika penjualan kita meningkat." Setelah berpamitan Karin masuk ke dalam kost dan merebahkan badan nya, melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Karin bersiap-siap untuk tidur karena besok jam 7 dirinya harus sudah stay kerja.
Karin baru saja tertidur dia sudah mimpi buruk. " Ma jangan ma, jangan siksa aku jangan pukul aku, aku sudah depresi apakah kalian tidak puas memukuli ku." Karin terus saja menangis dengan mata terpejam mungkin alam bawah sadar nya belum kembali. " Jangan_jangan... aku janji tidak akan mengulangi lagi aku mohon jangan kurung aku." Setelah itu Karin terbangun dengan Isak tangisan mengingat mimpinya begitu buruk, mimpi yang selalu menghantui dirinya di setiap malam.
Karin mencari obat penenang yang di berikan dokter dia meminum nya agar hati dan pikirannya bisa kondusif. dan kembali tertidur.
__ADS_1
*
*
Pagi buta Karin sudah sampai tempat kerjanya lebih dulu, bahkan teman teman nya pun belum datang dia sudah mencatat beberapa packaging yang akan di serahkan pada pihak ekspedisi.
" Woah rajin sekali teman kita satu ini pagi-pagi sudah berada di toko." Puji salah satu teman nya, dan ikut di timpali oleh teman lainnya.
" Iya padahal dia sekarang sudah memiliki usaha tapi masih rajin bekerja di tempat orang lain, kalo saya sudah tidak mau mending kerja di usaha sendiri." Seloroh salah satu teman lainnya.
" Hmmm.. usahaku baru berjalan 2 bulan jadi aku masih harus memantau perkembangan nya sambil bekerja juga." Jawab singkat Karin yang di pahami oleh anggukan teman nya.
" Ngomong-ngomong Karin hebat banget ya, dia kuat banget hidup sendiri membesarkan seorang anak yang jelas-jelas anak mantan nya tapi hati dia begitu luas." Bisik bisik teman tokonya.
" Iya, bagaimana tidak lancar rejeki nya jika dia saja mempunyai hati seluas lautan, aku sering melihat Karin berbagi kepada orang-orang membutuhkan." Puji teman nya sambil bisik bisik juga.
Karena waktu sudah siang Karin pamit pada teman-temannya karena dia ingin menemani putrinya makan siang sekaligus mengajari anak nya untuk menjadi anak yang mandiri dari sejak dini mungkin.
menempuh perjalanan hampir 30 menit akhirnya Karin sampai di rumah Anita. " Karin, Tante kira kamu tidak kesini." Sapa Anita sambil mendekat.
" Hari ini siang nya kosong Tante karena aku masuk pagi, jadi ku pikir aku lebih baik kesini untuk menemani karen makan." mata Karin melirik lirik di mana putri nya. " Di mana Karen Tante."
" Itu_ " Belum sempat meneruskan perkataannya Karen sudah muncul dari arah dapur membawa 1 biji goreng bakwan.
" Sayang bawa apa." Karin menghampiri putrinya.
" Mama.. mama.. mama.." sambil menaruh bakwan pada tangan Karin. hanya kata mama yang baru bisa Karen ucapkan, jadi dia setiap saat selalu memanggil nama mama, dan dia akan diam ketika mata nya tertidur.
__ADS_1