Father For My Son

Father For My Son
BAB 27


__ADS_3

Di sepanjang jalan Karin lebih banyak diam dan tak menggubris celotehan putrinya. dia terus menatap jalanan dengan pikiran kosong.


"Sayang." Aditya mengusap rambut Karin.


"Mama kenapa pah ko diem terus." Seloroh Karen karena melihat sang mama tidak menjawab.


"Mama lagi cape aja, badan mama lagi sakit jadi nanti Karen main sama Oma ya mama mau istirahat soalnya." Ucap Aditya pada sang putri dan Aditya bersyukur memiliki anak yang tak banyak bertanya dan langsung paham jika di beritahu.


"Aku mau sama cus aja pah."


"Ya sudah tapi kalo mau main ajak Oma saja ya."


Karen pun mengangguk paham dan kembali duduk diam di kursi kemudi. setelah melewati jalanan yang cukup ramai mereka pun sampai di kediaman Aditya.


"Cucu Oma." Sambut Elisabeth


"Oma sendiri Opa kemana?" seperti biasa Karen akan menanyakan orang-orang yang dia tau.


"Opa lagi di restoran sayang, oh ya dit mama Udah masak kesukaan kalian nanti makan ya dit sama Karin."


"Iya ma kami pamit ke kamar dulu aku titip Karen ya." Aditya pun berlalu sambil menggandeng tangan istrinya.


"Oma kata papa, mama lagi sakit makanya mama diam terus." celoteh Karen.


"Benarkah?" Elisabeth melirik ke arah suster.


" Iya Ibu tertua, kata pak Adit tadi bilang kalo ibu Karin sedang sakit."


"Baiklah, sayang ayo main sama Oma biar suster istirahat dulu." Elisabeth pun menemani Karen di kamar nya.


Di kamar...


"Sayang aku sudah selesai apa kamu ingin ku bantu untuk mandi?" tak ada sahutan dari sang empu Aditya pun mencoba memanggil lagi. " Sayang_" mendekat ke arah istrinya yang tertidur pulas Aditya mencoba membangunkan.


" Sayang... Karin." Aditya menepuk pipi Karin namun wanita nya tak ada jawaban. " Karin.. Rin kamu tidak apa-apa kan." Aditya panik ternyata istrinya pingsan. karena terlalu panik Aditya pun menyuruh supir untuk menyiapkan mobil membawa istrinya kerumah sakit.

__ADS_1


"Pak supir tolong siapkan mobil saya mau ke rumah sakit." perintah Aditya.


"Baik pak."


"Pak Aditya kenapa bro." Tanya temannya.


"Gak tau sepertinya dia begitu panik_" belum selesai berbicara sang supir pun sudah di panggil Aditya.


"Buka pintunya." dan mereka pun bergegas kerumah sakit.


Sepanjang perjalanan Aditya terus memeluk istrinya dan meneteskan air mata melihat wajah istrinya yang begitu pucat.


Di rumah Aditya.


"Ada apa tadi rame-rame." Tanya Elisabeth pada sang asisten.


"Sepertinya ibu Karin pingsan Bu dan pak Adit membawanya kerumah sakit."


"Astaga." Elisabeth pun balik arah ke kamar cucunya berniat untuk pergi kerumah sakit. "Sayang ayo ikut Oma kita liat mama."


"Agak sedikit cepat pak."


"Baik Bu."


Elisabeth mengabari suaminya dan sang besan. kini semuanya kumpul di rumah sakit.


"Adit bagaimana keadaan putriku?" Hans begitu khawatir saat mendengar jika Karin pingsan dan di bawa kerumah sakit karena selama mereka bersama ini baru pertama kalinya Karin pingsan.


"Masih belum siuman ayah Karin sedang di periksa dokter." Aditya begitu cemas.


"Pah, mama kenapa." Karen menangis melihat sang mama ada di dalam sana.


"Gak papa sayang do'a in mama biar cepet siuman." Aditya mengusap rambut putrinya.


"Aku mau sama mama pah." Karen merengek menangis.

__ADS_1


"Karen sayang sini sama Oma, dengerin Oma mama gak papa sayang mama cuma lagi sama dokter." Anita menenangkan cucunya.


"Apa yang terjadi sama mantuku." Antonio yang sedari tadi diam kini buka suara.


"Tadi hanya ku tinggal mandi pah, setelah aku selesai aku melihatnya dia pingsan."


Dokter pun keluar dari ruang rawat. "Dengan keluarga pasien?"


"Iya. bagaimana dengan istri saya dok?"


"Istri bapak terlalu setres sehingga membuat pada Autoimun nya kambuh, beliau kan sudah mengidap Autoimun dari lima tahun lalu dan semakin ke sini kondisinya sangat buruk jadi saya harap agar ibu Karin dapat menjaga pola makan dan pikiran." ucap dokter Deby, untung saja Deby belum pulang jadi dia bisa menangani Karin lebih dulu.


"Autoimun? lalu apakah istri saya sudah siuman?" Aditya begitu cemas.


"Belum tunggu saja kami tadi sudah memberikan obat untuk pereda. saya permisi dulu pak, Bu." Dokter Deby pun kembali masuk ke dalam.


Aditya terus memandang kearah dalam melihat istrinya yang terbaring betapa sakit nya hati Aditya melihat wanita yang pernah dia sakiti harus merasakan sakit seserius ini.


" Mah pah, ayah ibu kalian pulang saja kasian Karen harus istirahat biar aku saja yang menjaga Karin." Aditya menyuruh orangtua serta mertua nya untuk pulang karena mereka harus istirahat.


"Ya sudah besok kami akan kembali." Ucap Elisabeth yang di setujui oleh Anita dan para suami mereka."


"Karen biar sama ibu aja mah takutnya nanti dia rewel, Bu ayah titip putriku kalo ada apa-apa hubungi aku." Aditya mengusap rambut putrinya yang terdiam.


" Iya Adit kami juga tolong titip Karin ya besok kami kembali." Anita pun pamit karena waktu sudah malam.


Setelah semuanya pulang, Aditya masuk ke dalam ruang rawat istrinya menggenggam tangan istrinya dengan erat.


" Bangun sayang, jangan diemin aku dengan seperti ini. aku janji akan melakukan apapun asal kamu sembuh." Aditya meneteskan air matanya dan mengenai tangan Karin.


Aditya merasa jika tangan Karin bergerak dia langsung memanggil dokter untuk memeriksanya.


"Bagaimana Dok?"


"Ibu Karin harus benar-benar istirahat pak biar cepat pulih biarkan dia di rawat dulu beberapa hari agar saya bisa tau perkembangannya." Deby pun tak banyak berkata karena dia sudah menduga dari dulu kalo hal ini akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2