
Karin sudah terbangun dari tidurnya melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, karena kaget dia langsung beranjak dan turun ke bawah.
"Ayah apa liat Aditya?"
"Ah rupanya sudah bangun, Aditya pergi ada meeting di restoran nya."
"Oh baiklah.” Karin melangkah menuju meja makan.
"Ah aku lupa hari ini ada pertemuan dengan dokter." Karin bergumam tapi masih bisa di dengar. lalu dia pun menyelesaikan sarapan nya dan pergi ke kamar untuk bersiap ke dokter.
Karin pergi ke dokter sendiri dan pergi berbelanja di sebuah mall yang terkenal di Jakarta, sudah lama dia tak merasakan pergi sendiri karena biasanya harus Aditya akan terus ikut.
*
*
*
*
"Mama, Mama kenapa." Karen melihat mama nya tergeletak di depan pintu. dan terus membangunkan nya tapi tak kunjung bangun.
"Astaga ibu." Teriak seorang pelayan. lalu mengambil benda pipih untuk menelpon Aditya yang masih tugas di luar kota.
menunggu beberapa saat..
"Halo, maaf pak Adit saya mengganggu tapi ini ibu karin pingsan."
"Apa ko bisa." Aditya begitu shock. "Tolong bawa istri saya kerumah sakit, bawa beberapa bodyguard."
"Baik pak."
__ADS_1
"Saya pulang sekarang."
Aditya menelpon sang mertua yang kebetulan ada kerjaan tapi jarak nya tidak begitu jauh, dan merasa lega jika sang mertua langsung bisa menuju rumah sakit sedangkan dia sedang mengambil penerbangan. lalu menghubungi orangtua nya.
"Karin." Aditya terus bergumam memikirkan istrinya. Dengan cepat dia berkemas dan ambil penerbangan detik itu juga.
Setelah 1 Jam penerbangan Aditya sampai di bandara Jakarta lalu dia langsung menuju rumah sakit. dengan jalan yang tergesa-gesa Aditya melihat istrinya yang terbaring dengan wajah yang pucat.
"Sayang bangun aku pulang." mengelus pipi sang istri dan menggenggam tangan nya.
"Permisi pak saya akan memeriksa keadaan ibu Karin."
"Baiklah." Aditya terus menatap kearah karin
"Keadaan ibu Karin membaik, kita hanya menunggu ibu Karin siuman saja, kalo begitu saya permisi lagi pak."
Aditya hanya menganggukan kepala dan menghampiri sang istri.
"Kata dokter sudah membaik, hanya tunggu siuman saja, maaf ayah aku tak bisa menjaga putri ayah."
"Tidak perlu minta maaf ini bukan kesalahan mu, do'akan saja agar Karin cepat pulih." Hans duduk menatap putrinya. "Cepat pulih nak, cucu ku sedih melihat mu yang terbaring seperti ini." Sudah empat jam Karin belum kunjung sadar, dia masih terbaring pucat.
"Adit pulang lah dulu biarkan ibu yang jaga Karin, kamu pasti lelah."
"Tidak ibu biarkan aku menjaga istriku di sini."
Ketika mereka bertiga fokus berbicara, tiba-tiba Karen datang menghampiri. "Papa, Oma Opa."
"Sayang maaf papa lupa tidak membawa oleh-oleh untukmu."
"Tidak apa-apa pah kan papa pulang karena mama sakit." Karen menggenggam tangan Karin. "Ma ayo bangun kita tidur di rumah bukan di sini, di sini tidur nya gak enak ini tidak empuk aku mau pulang sama mama."
__ADS_1
Setelah Karen berbicara tadi mata Karin perlahan terbuka. "Putriku."
"Mama, Mama sudah bangun."
Semua yang ada di ruangan memanggil dokter dan mereka merasa bersyukur akhirnya Karin siuman.
*
*
*
Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit akhirnya Karin sembuh dan pulang kerumah dan di sambut oleh orang-orang yang ada di rumah, supir satpam serta asisten pun ikut bahagia melihat bos nya kembali kerumah, selain mereka rindu mereka juga mengharapkan Karin selalu sehat agar mereka terus bisa bekerja.
Di kamar Aditya baru selesai mandi dan Karin merebahkan tubuh nya di ranjang. "Sayang aku ingin bicara." Karin berkata dengan nada serius.
"Hmmm memang nya apa yang mau kamu bicarakan."
"Menikahlah sebelum aku pergi." Walaupun Karin merasa sesak di dadanya, tapi Karin ingin yang terbaik untuk putri dan suaminya.
"Apa?" Aditya begitu terkejut. "Apa kamu tidak salah menyuruhku menikah lagi sedangkan aku sudah memiliki istri secantik kamu."
"Aku takut meninggalkan kamu dan Karen, jadi sebelum aku pergi menikahlah dengan wanita yang jauh lebih baik dari ku, dan bisa menyayangi putri kita."
"Tidak, aku yakin kamu akan sembuh kita akan berusaha aku akan tanya papa dan mama apa di Amerika ada Rumah sakit yang bagus."
Antonio dan Elisabeth sekarang mereka tinggal di Amerika karena mewujudkan keinginan kedua nya, dulu awal menikah mereka tidak memiliki harta dan bercita-cita bisa hidup di Amerika.
"Biaya di sana pasti mahal, cukup di Jakarta saja lagi pula kamu kan tau penyakit ku belum ada obat nya."
"Dengarkan aku... Materi bukan segalanya bagiku tapi kamu adalah kebahagiaan ku, uang ku tidak akan habis jika pun kamu mau menyewa sepuluh dokter sekalipun."
__ADS_1
"Jangan berlebihan_" belum selesai berbicara bibir Karin sudah di tutup oleh jari Aditya.