Father For My Son

Father For My Son
BAB 25


__ADS_3

Karin merebahkan tubuh nya di kasur yang berukuran king size dan empuk, dia menatap langit-langit kamar dan berpikir apakah hidup nya akan bahagia kedepan nya atau dia akan memberikan air mata yang deras untuk kehidupan selanjutnya.


Menunggu suami nya di dalam bathroom membuat Karin ngantuk dan ketiduran. Ketika Aditya selesai siap-siap mengganti baju melihat istrinya yang sudah tertidur lelap lalu mendekati.


" Maaf sudah membuat mu lelah. " Aditya pun mencium kening istrinya dan langsung menyusul untuk tidur.


Ke esokan harinya.


" Pak saya sudah membeli semua yang di katakan pak Adit dan sudah menyusun nya di kamar putri anda." Ucap sang asisten.


" Terimakasih Dev. " Aditya langsung melihat ke kamar putrinya. " Sayang gimana suka semua nya? "


" Suka pah tapi terlalu banyak. " Ucap Karen sambil menatap pada sang papa.


" Tidak apa-apa, apapun yang Karen mau akan papa belikan semuanya. " Ucap nya dengan bangga.


" No, kata mama kita membeli barang sebutuh nya aja pa biar uang nya di tabung. " biasanya anak kecil akan senang di belikan barang oleh orangtua nya, tapi Karen terbalik dia selalu mengingat perkataan Karin yang selalu mengatakan kita harus menggunakan uang sebutuhnya aja.


Aditya begitu malu dengan perkataan putrinya barusan tapi dia sangat terharu memiliki putri yang tumbuh dengan cerdas dan semua itu berkat Karin yang mendidik nya dengan baik.


" Hehehe iya sayang." Aditya mengacak-acak rambut putrinya dengan gemas.


Karin yang baru terbangun dan melihat jam sudah menunjukkan jam delapan pagi langsung buru-buru mencari anak dan suaminya.


" Mah liat Aditya sama Karen gak. " Tanya nya pada sang mertua karena kebetulan mertua nya lewat di depan kamarnya.


" Eh sudah bangun, Aditya ada di taman belakang lagi ngajak Karen bermain tadi Aditya bilang kamu masih tidur jadi Aditya tidak tega membangunkan. " Ucap sang mertua dengan senyuman.


" Iya ma, kalo begitu aku menyusul mereka ke taman. " Karin tersenyum kikuk karena malu di lihat sang mertua karena dia bangun siang.

__ADS_1


" Iya Rin, mama sudah siapkan sarapan di meja makan nanti kalian sarapan ya soalnya mama mau nemenin papa ke restoran. " Sang mertua pun berlalu setelah memberitahu menantunya.


Karin berjalan menuju taman belakang melihat anak dan suami nya sedang bermain membuat hati Karin begitu terharu, kini putrinya mendapatkan kebahagiaan setelah melewati banyak rintangan tapi seketika wajah Karin berubah menjadi sedih mengingat dirinya yang sakit.


" Bu Karin sedang apa di sini? " Tanya salah satu asisten rumah.


" Ah, o ya mbok saya sedang melihat mereka. " Tunjuk Karin ke arah depan.


" Oh pak Adit.. o ya bu, ibu sangat beruntung mendapatkan pak Adit begitupun sebalik nya pak Adit sangat-sangat beruntung mendapatkan ibu. " Ucap sang asisten.


" Hehehe bisa saling bersama banyak yang harus di lewati mbok selama ini mungkin orang lain melihat kami hanya melihat bahagia nya saja. "


" Saya ingat betul Bu bagaimana pak Adit berjuang untuk mendapatkan ibu, ikut bekerja di keluarga Wisnu selama tujuh tahun membuat saya paham betul bagaimana pak Adit yang begitu sensitif dan akan mengoceh jika pajangan photo ibu Karin bergeser saja sedikit di kamarnya. " sang asisten menjelaskan bagaimana dulu Aditya sering mengoceh hanya karena hal sepele.


" Wkwkwk, apa dia sampe sebegitunya? " Karin merasa geli mendengar penjelasan dari asisten nya.


" Karena ibu adalah cinta pertama pak Aditya, memang benar ya mau sejauh apapun pergi jika itu sudah menjadi takdir kita pasti akan kembali. "


" Iya Bu silahkan. " Dan sang asisten pun berlalu ke dapur.


" Sayang kamu sudah bangun? " Aditya menghampiri istrinya lalu mencium kening sang istri.


" Sudah dari tadi, kalian sedang apa di sini? "


" Aku lagi lihat-lihat bunga mah. " Sang anak menjawab dengan singkat, karena memang sikap Karen berubah semakin dia bertambah umur semakin menjadi pendiam.


" Sayang sekarang mandi ya sama suster habis itu kita sarapan. "


" Iya mah, ayo cus kita mandi. " ajak Karen pada sang suster sambil menggandeng tangan.

__ADS_1


" Apa kamu tidak ingin mencium suami mu yang tampan ini. " goda Aditya sambil menunjuk pipinya.


" Dasar kau itu, ayo kita mandi. " Ajak Karin karena tidak ingin meladeni suaminya.


" Apa kamu mengajak ku mandi bareng. " Aditya menggoda Karin lagi hingga membuat Karin kesal.


" Mandi sendiri kau sudah bangkotan. " Karin meninggalkan suaminya yang masih menggoda.


" Kamu selalu saja kaku dengan ku dari dulu gak pernah berubah. "


" Berisik. " Karin terus saja menaiki anak tangga.


Karin bergegas untuk mandi karena tidak ingin di goda lagi oleh suaminya. dan setelah selesai dia langsung ke kamar anaknya untuk mengajak sarapan pagi.


*


*


*


Beginilah hari-hari yang di lewati Karin sebagai istri dari Aditya Wisnu, Aditya selalu posesif tidak mengijinkan istrinya untuk bekerja karena sudah ada Tristan yang mengurus bisnis nya, dan melarang istrinya untuk pergi kemana pun tampa pengawalan dirinya atau bodyguard suruhannya.


" Sayang apa tidak sebaiknya kita membeli rumah satu lagi buat kita tinggal biarkan rumah mu ibu yang tempati dan rumahku mama yang urus. " Ucap Aditya.


" Apa_ kamu tidak salah aku sengaja membeli rumah besar karena untuk di tempati rame-rame, lagi pula untuk apa kita membuang uangagi hanya untuk membeli rumah kan kita sudah ada lebih baik uang nya di tabung. " Begitulah Karin dia selalu memakai uang dengan sebutuh nya saja dan tak pernah memakai uang di luar kebutuhan.


" Baiklah kalo tidak boleh. " Aditya tidak ingin melanjutkan pembicaraan nya karena pasti ujung-ujungnya akan debat.


Hari ini mereka menghadiri acara undangan pernikahan salah satu teman dari Aditya, jadi Karin mau tidak mau harus ikut.

__ADS_1


Malam ini Karin sangat cantik memakai dres yang berwarna hitam menampilkan kulit Karin yang begitu putih. pergi berdua ke kondangan membuat para lelaki banyak yang terpesona dengan sosok Karin.


__ADS_2