Father For My Son

Father For My Son
BAB 9


__ADS_3

Di tempat lainnya, Aditya sedang memikirkan siapa putri kecil tadi? apakah itu darah daging nya? jika iya, Aditya begitu terkejut kalo Karin begitu baik menerima dan membesarkan putrinya padahal jelas-jelas Aditya sudah menyakitinya, dan menggoreskan luka dalam sehingga membuat Karin mati rasa.


" Aku harus mencari tau tentang anak kecil itu." Gumam nya sambil ke arah parkiran karena dirinya menaruh mobil di basement mall.


Semenjak pertemuan nya dengan Aditya beberapa hari lalu, membuat Karin tidak fokus bekerja. Karin takut jika Aditya menanyakan anaknya sebab Karin tidak mau kehilangan anak yang begitu dia jaga dan dia sayangi.


" Tris bagaimana jika nanti Aditya merebut anakku? " Karin meminta solusi pada Tristan, Ya selama ini Karin menceritakan tentang kehidupan nya, bagaimana awal hidup nya yang di hancurkan keluarga dan memilih pergi jauh-jauh sehingga sekarang memiliki anak yang cantik serta usaha baju yang di rintis nya.


" Apa kamu sebegitu takutnya kehilangan putri mu? Tristan ingin tau alasan Karin menyembunyikan putrinya selama ini, bahkan identitas nya pun di sembunyikan.


" Jelas_ " Karin terdiam sejenak. " Karena dari sejak dalam kandungan anakku tidak di inginkan oleh ibu dan ayah nya, dulu aku sempat mencari Aditya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan nya, tapi dia pergi dan hilang bak di telan bumi." Karin mengingat masa dulu nya, masa di mana dia sudah seperti suami Pricilla yang memenuhi kebutuhan nya serta gizi bayi yang ada di dalam kandungan, mengontrol kerumah sakit, padahal Karin sendiri sedang sakit mengidap penyakit Autoimun yang sampai sekarang belum ada obat nya.


" Aku paham, jika aku di posisi mu mungkin aku akan melakukan hal yang sama, jalani saja lihat nanti nya, lakukan apa yang menurut mu baik " Ucap Tristan sambil menghela napas.


Semenjak Bertemu kembali dengan Aditya Karin melarang putrinya untuk di bawa pergi-pergi, karena takut bertemu kembali dengan aditya.


Hari ini Karin pergi kerumah Anita ingin mengajak anak nya belajar dan di sana sudah di sambut oleh Hans yang sedang duduk di kursi depan rumah.


" Kar tumben pagi-pagi sudah ke sini? apakah tidak bekerja? Tanya Hans dengan kening berkerut.


" Iya sengaja ke sini pagi-pagi biar bisa bermain lama dengan Karen, karena hari ini aku tida ke toko."


" Oh Karen di dalam tuh dia lagi main sendiri depan tv." Ucap Hans kembali.


Di lihat nya putrinya itu sedang mengacak-acak mainan dan Anita sedang mandi.


" Halo anak mama, lagi apa? woahhh Uda wangi ya." Karin mengelus lembut rambut putrinya.

__ADS_1


" Mama mama." Celoteh Karen.


Kini mereka bermain-main dan Karin seperti biasa akan mengajari putrinya dalam segala hal yang baik untuk nya.


" Eh ada Karin, Tante kira siapa ada suara lain di dalam."


" Iya tadi aku datang ketika Tante sedang mandi."


" Ya sudah Tante mau bikin sarapan dulu." Anita berlalu pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan 4 orang, karena Karin ada di sini.


Dari luar Hans berjalan ke dalam lalu duduk di sofa. " Bagaimana usaha mu Kar, sekarang tidak terlalu sibuk ya karena ada dua karyawan yang bisa membantu." Seloroh Hans sambil meminum teh.


" Biasa aja Uncle, walaupun ada yang bantuin tetap saja aku harus turun tangan mengingat ini usaha baru di rintis."


" Ya setidaknya tidak banyak bergadang seperti sebelumnya karena di handle berdua."


" Euhh_" Karin menggaruk Kepalanya yang tidak gatal, karena bingung mau menjawab apa. " Bukan begitu Tante aku rasa lebih baik di kost an." Hanya kata itu yang Karin lontarkan, walaupun Karin memiliki alasan sendiri.


" Kenapa? kan setidak nya kamu bisa dekat dengan anak kamu." Timpal Anita lagi.


" Ya nanti ku pikirkan lagi ya Tan." Karin mengakhiri pembicaraan nya karena ada telfon dari customer.


*


*


*

__ADS_1


Hari ini Karin Tristan serta kedua karyawan nya full dengan orderan yang mencapai seribu barang yang harus di packaging, dengan pendapatan nya yang semakin tinggi Karin pun tak lupa memberikan bonus kepada karyawan nya Karena rasa berterimakasih sudah bersedia membantu nya, Karin pun tidak lupa selalu mengirimkan makanan serta kebutuhan lainnya untuk anak-anak di panti.


" Gila hari ini kita akan lembur karena banyak sekali yang membeli penjualan kita." Ucap Tristan.


" Gak apa-apa yang penting bonus selalu cair." Timpal Kenzi salah satu karyawan di situ.


" Ah dasar kau itu bonus terus di isi kepala mu." Tristan mencandai Kenzi dengan perkataan nya.


" Sudah-sudah fokus kerja jangan banyak bercanda. " Oliv menyahut dengan tatapan tajam, karena kesal dari pagi Tristan dan Kenzi terus adu mulut dengan candaan gak jelas.


" Oliv lebih baik kamu diam." Serentak Tristan dan Kenzi secara bersamaan.


Karin baru sampai toko karena tadi pagi dia ada urusan dulu. " Siang semua." seperti biasa Karin akan menyapa semua yang kerja padanya dan akan bersikap lembut kepada orang yang dekat dengan nya.


" Wah ibu bos kita datang." Ledek Tristan dengan kedipan mata.


" Kondisikan matamu Tris." Ledek Kenzi.


" Stop_ bagaimana hari ini apakah banyak barang yang harus di serahkan ke expedisi? "


Tristan dan Kenzi saling lempar mata. " Banyak saking banyak nya kita harus membungkus seribu barang."


" What Really? " Karin melebarkan bibir nya yang terbuka membulat karena kaget. " Benarkah Oliv? " Karin lebih baik menanyakan kepada Oliv karena terkadang dua pria itu suka becanda.


" Iya seperti biasa kita akan lembur kak."


" Ok kalo gitu, semampu kita saja. " Karin tidak mungkin memaksa kan sesuatu hal, dari pada karyawan nya cape lebih baik di tunda separo.

__ADS_1


__ADS_2