Father For My Son

Father For My Son
BAB 7


__ADS_3

" Sini sayang_" Karen langsung menghampiri Karin.


" Karen sekarang tampak nya lebih bawel, karena dia selalu menyebut nama mama." ucap Hans sambil memakan bakwan goreng.


" Benarkah? Wahhh anak mama pinter ya nak." Setelah itu Karin membawa putrinya ke dalam kamar, Karin selalu menunjukan huruf-huruf abjad serta angka agar anak nya memahami.


1 jam bermain dengan anaknya Karin pamit untuk kembali ke tempat kerja agar bisa menyelesaikan pekerjaan nya secepat mungkin.


" Tante aku pamit lagi ya masih ada kerjaan di toko yang harus di selesaikan." Karin menghampiri Anita yang sedang di dapur.


" Kamu tidak makan dulu? " Tanya nya sambil menaruh sayur di meja makan.


" Lain kali saja Tan, ku rasa waktu istirahat ku telah habis aku buru-buru pergi."


" Hmmm baiklah hati-hati di jalan." Anita menghela napas melihat Karin yang sudah pergi.


Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya Karin sampai dan langsung mendapatkan pertanyaan dari teman nya." Dari mana Rin? ko tumben telat kembali? "


" Habis nengok anak dan ngajak main." jawab nya dengan singkat.


" Wihhh ibu muda kita rajin sekali teman-teman." Ledek salah satu teman nya, sambil mendapatkan ledekan dari teman lainnya.


Tak terasa waktu sudah sore satu persatu karyawan toko mulai pamit pulang dan hanya tersisa Karin saja. sudah biasa Karin pulang lebih terlambat karena sambil mengerjakan usaha yang sedang di bangun nya.


" Halo bagaimana Tris penjualan hari ini? " Tanya Karin pada partner kerja nya.


" Lumayan, aku rasa hari ini kita dapat uang lebih." Ucap Tris yang masih di gudang menyortir kerjaan dia.


bulan lalu Karin menyewa kios untuk tempat penjualan nya agar nanti jika penjualan makin laris, Karin berniat untuk ikut membantu mengurus usaha yang di rintis nya.


Karena sudah mendapat kabar jika penjualan nya laris, Karin langsung berangkat ke tempat kios yang di sewa nya untuk mengecek barang yang akan di jual.


" Eh Karin? kaget sejak kapan ada di sini? "


" Baru saja sampai! apakah ada yg bisa aku bantu? " Karin menawarkan diri untuk memberi bantuan.

__ADS_1


" Tidak tidak biar aku saja, bos cukup duduk aja " ucap Tristan dengan senyum-senyum.


" Pala kau bos, jangan b gitu kita sama sama bekerja."


Dan di balas senyuman oleh Tristan. kedua nya bekerja hingga larut malam sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, akhirnya kedua nya memilih untuk pulang! Tristan mengantar karin ke kost an nya.


*


*


Tak terasa usaha yang di rintis Karin kini jalan ke 4 bulan dan berkembang pesat dalam dunia penjualan nya karena banyak model yang bagus dan keluaran terbaru yang di jual oleh Karin. Karin dan Tristan tak menyangka kini perjuangan mereka tidak mengkhianati hasil.


" Berapa bulan ini uang yang kita dapatkan Tris? "


" Bulan ini kita mendapatkan untung 100 jt."


" Wahhh aku tidak menyangka hasil nya banyak sekali." lalu Karin merenung mengingat dia belajar usaha dari tempat kerja nya dulu, sampai dia bisa memiliki usaha sekarang namun dia sedih sekarang dia harus mengurus bisnis nya dan tepat 1 bulan lalu meninggalkan pekerjaan nya.


" Iya kita bisa menabung, aku ingat sekali dulu kita susah pembeli tapi Alhamdulillah Tuhan kirimkan orang-orang baik untuk kita."


" Ok aku setuju, besok kita ke panti asuhan kasih bunda pasti mereka menunggu kedatangan kita di sana." Ucap Tristan lalu pergi untuk melihat stok barang.


" Besok kita belanja lalu datang ke sana, oh ya aku mau sekalian ajak Karen juga agar dia bisa beradaptasi dengan anak-anak di panti "


" Baiklah, sekarang lebih baik kita istirahat! apakah kamu gak mau menjenguk Karen? ku rasa 1 bulan ini kamu belum menjenguk nya? "


" Iya juga, aku sampai lupa tidak memiliki waktu untuk dia karena terlalu sibuk."


Dan setelah itu kedua nya pergi untuk kerumah Anita. Menempuh perjalanan 30 menit akhirnya kedua nya sampai.


" Ucel....." Teriak Karen dengan suara belepotan nya dan seraya memeluk Tristan. Ya sejak Karin mengenalkan Tristan Karen jadi sangat dekat sekali di karena kan Tristan yang begitu perhatian pada putrinya membuat Karin senang.


" Sayang biarkan Uncle Tris nya duduk dulu." Ucap Karin dengan lembut.


Lalu Karen mensejajarkan duduk nya di sebelah Tristan, kedua nya itu sudah seperti ayah dan anak mereka selalu kompak jika bertemu.

__ADS_1


" Kar gimana usaha mu yang sedang di rintis, Tante lihat begitu cepat perkembangan?" Tanya Anita dengan senyuman manis nya.


" Alhamdulillah Tante aku rasa sangat lebih dari cukup pendapatan bulan ini, aku ada rencana ingin membeli sebuah toko kecil untuk menyimpan stok barang kami karena kios lama sudah full."


" Wah kamu hebat sekali Tante ikut senang, kemarin Uncle mu begitu riang mendengar usaha mu yang kini kian mengembang." puji Anita Sambil menaruh sebuah kue buatan nya.


" Tris gimana apakah kamu senang menjadi partner Karin? jika ada keluhan terus terang saja." Anita sengaja meledek Tristan.


" Hahaha lebih dari senang Tante, karena saya jadi lebih banyak tau tentang dunia penjualan dari sosok wanita hebat yang ada di sebelah saya."


" Bagus lah kami ikut bahagia dengan kerja keras kalian. "


" Oh ya Uncle Hans kemana Tan? dari tadi aku tidak melihat nya? " Karin melirik ke kanan kiri namun tak nampak Hans di sana.


" Uncle ada kerjaan jadi dari lagi dia belum pulang." Seloroh Anita sambil menggendong Karin.


" Maaf satu bulan ini aku baru bisa menengok karena terlalu sibuk sehingga melalaikan kewajiban ku pada Karen." Karin merasa tidak enak karena tidak ikut menjaga.


" Tidak apa-apa Kami paham, kamu fokus saja dengan usaha mu."


Dan kini mereka makan malam bersama Karena jika menunggu Hans akan terlalu larut malam. dan setelah selesai semua Karin pamit untuk pulang ke kost an nya.


*


*


Ke esokan harinya


Karin dan Tristan pergi ke panti asuhan kasih bunda dengan, di sana mereka di sambut hangat oleh pemilik panti dan pengurus serta anak-anak di sana, Karin membawa satu mobil sembako kebutuhan pokok di panti serta membawa nasi kotak agar bisa makan bersama di sana, melihat kebahagiaan di sana membuat hati Karin senang akhirnya anak-anak di sana bisa merasakan hasil jerih payah nya.


Karin melihat ada beberapa bayi yang sepertinya baru lahir karena masih sangat merah sekali. " Oh ya ini dari kapan di sini kak? apakah orangtua nya membuang nya? atau menitipkan? " Tanya Karin dengan lebar.


" Kemarin ada wanita yang menitipkan dia bilang suatu nanti akan di jemput lagi, karena dia ingin bekerja jadi TKW tapi tidak ada yang bisa merawat bayi nya. "


Setelah mendengar penjelasan dari pengurus panti membuat hati karin sakit sekali, mengingat pada putrinya jika dulu bukan dia yang merawat mungkin nasib putrinya akan sama seperti bayi ini.

__ADS_1


__ADS_2