
...****...
"Ini masalah tentang biaya pengobatan berkala ibumu, Bud," ucap Linda dengan suara penuh rasa berat hati. "Dokter di rumah sakit kami telah berhasil menemukan cara untuk mengobati penyakit langka yang diderita ibumu. Tapi ... biaya yang ditaruh memang cukup mahal."
"Ah? Memang berapa biayanya, Kak?"
Linda mengerutkan kening. Ia memupuskan senyum dan mengucapkan, "Lima juta. Lima juta untuk setiap pengobatan."
Deg!
Budi pun terkejut bukan kepalang. "Li-Lima juta?" ia bertanya, "tapi, sampai berapa kali pengobatan berkala ini, Kak?"
"Nggak pasti. Ibumu bakal tetap dirawat di sini sampai dia bener-bener sembuh," ucap Linda lirih, "maaf, Bud. Aku nggak bisa bantu kamu kali ini. Padahal–"
"Ah! Nggak kok." Budi menyela pembicaraan.
"Eh?"
Manusia berjakun itu tersenyum lebar. Ia menjawab, "Kakak kan udah bantu aku sama Arin selama ini. Jadi, buat apa kakak minta maaf?" Dia juga menambahkan, "kali ini, aku yang akan nanggung biaya rumah sakit ibu. Kakak cuma perlu ngerjain pekerjaan kakak aja."
Mata Linda berbinar. Hatinya tergugah oleh senyuman dan bait aksara yang keluar dari mulut anak SMA di depannya. Ia menciptakan garis lengkung dan mengelus pelan rambut Budi. "Kamu emang anak baik, Bud."
Wajah Budi memerah padam. Dengan jarak sedekat ini, laki-laki mana yang tak merasa gugup. Terlebih lagi, Linda tampak begitu cantik dengan gaya rambut barunya.
Begitulah, akhirnya Budi kembali ke kamar ibunya dan menemui Arin. Ia sempat dilempari beberapa pertanyaan mengenai apa yang terjadi oleh adik perempuannya, akan tetapi, Budi lebih memilih untuk tidak mengatakannya kepada siapapun.
Dia tidak mau membebani keluarganya lebih berat lagi.
Sudah cukup, aku yang akan mengakhiri penderitaan keluarga ini, batinnya sembari menatap Arin yang sedang menyuapi ibunya sambil tertawa.
Tak terasa sore hari telah tiba, Budi dan Arin sedang dalam perjalanan pulang saat ini. Sebenarnya, mereka berdua kekeh ingin tetap tinggal demi menunggu ibu mereka. Namun, Linda justru meminta Arin dan Budi untuk pulang saja.
Permintaan itu pun akhirnya terlaksana sebab dukungan sang ibu yang juga meminta mereka pulang lebih dulu.
Sesampainya di rumah, Arin yang masih merasa kesal berjalan menghentak-hentak dan masuk ke kamar. Bibir mungilnya komat-kamit mengucap beberapa kalimat gerutu. Ia membanting pintu kamar dengan perasaan kesal.
Budi yang melihatnya pun tertawa geli. Baru kali ini ia dapat melihat sisi imut adik perempuannya jika sedang kesal. Namun, tiba-tiba otaknya kembali menyematkan ingatan mengenai perkataan Linda beberapa waktu lalu. Anak itu pun mendadak terdiam membisu.
Seraya menuang air ke dalam gelas transparan, ia berpikir keras.
Kerja? Apa aku kerja jadi pengantar koran kaya Rio dulu?
Budi meneguk habis air putih yang mengisi setengah gelas itu. Ia lalu menaruh kembali gelas di atas meja makan.
Nggak. Kalau kerja kaya begitu, aku nggak mungkin bisa dapet lima juta dalam sebulan.
__ADS_1
"Ahh ... siaaal!" Budi mengacak-acak rambut hitam pendeknya. Dia kemudian menatap kosong objek di depannya, sembari bergumam, "Andai aku dapet sistem kekayaan, bukan malah sistem gelud kaya gini."
"Bodo ah! Mending turu." Budi lalu berjalan masuk ke kamarnya. Dia ingin segera melepas penat atas kejadian yang dia alami hari ini.
***
Keesokan harinya, saat siang hari sepulang sekolah. Semua murid SMA Taran berjalan keluar dari kelasnya masing-masing. Arin menghampiri Budi yang masih menjalankan piket di kelasnya.
"Bud, lagi piket?"
Budi menghentikan aktivitas menganyunkan gagang sapunya itu. Ia menatap Arin, sembari menjawab, "Ah, iya. Kamu pulang aja dulu gih!"
Arin mengernyitkan kening tatkala mendengar tanggapan sang kakak atas ajakannya. "Ih, aku diusir nih?"
Bukannya merasa kesal, orang yang ditanyai justru tertawa lepas. "Nggak kok haha! Cuma, hari ini aku mau kerja kelompok bareng temen. Ya nggak papa juga sih kalo kamu mau ikut."
"Oh," singkat Arin, "ogah ah. Ya udah, aku pulang duluan. Nanti kalo ada apa-apa telepon aku, ya?"
Budi mengangguk sambil menunjukkan jari jempol. "Sip, tenang aja."
"Daaahh~" Arin berbalik badan dan mulai berjalan menjauh dari kelas.
Sepeninggal Arin, Budi pun langsung melanjutkan piket kelasnya. Ia bergegas menyingkirkan kotoran yang menggumpal di seluruh sudut kelas dan kemudian duduk sejenak di salah kursi untuk beristirahat.
"Aaissh, capek banget," keluh anak laki-laki itu seraya mendinginkan diri dengan cara mengibas-ibaskan tangan. Budi berhenti bergerak sesaat setelah dia mengingat sesuatu. "Oh, iya, kalau nggak salah inget, aku punya kartu berlian, kan? Wihhh ... pasti keren nih reward-nya!"
Ding!
[Kartu berlian dibuka!]
[Selamat! Host telah mendapatkan elite skill !]
"Hah?" Budi melongo bingung ketika membaca tulisan tersebut. "Elite skill? Penerawangan? Ah, jadi maksudnya aku bisa nerawang orang gitu?"
[Benar, Host]
"Menerawang ...." Seketika, otak Budi memberikan sejumlah gambaran aneh mengenai kata menerawang. "Khehehehhe ... sampai rumah aku bakal langsung ke Arin."
Nama skill yang membuatnya merasa ambigu dan sempat berharap tinggi. Tidak, sampai sistem menjelaskan segalanya.
[Penerawangan
Skill pasif yang memungkinkan host untuk melihat kemampuan orang lain. Mulai dari kekuatan, daya tahan, kecerdasan, potensi, dan lainnya.
Dapat ditingkatkan seperti skill lainnya]
"Eh?" Budi berfokus seketika. "Ja-Jadi bukan menerawang kaya gitu? A-Akhh–" Ekspresi kecewa terpancar jelas di wajahnya.
__ADS_1
"Ah, tapi cuma itu aja? Aku kira, skill bertarung kaya pukulan uppercut gitu contohnya?"
[Reward tergantung tingkatan kartu hadiah, Host]
"Ya ... yaa ... aku tahu." Budi bersikap acuh. Ia lalu melirik jam dinding di kelasnya yang saat ini telah menunjuk angka 2. Ia lantas beranjak dari kursinya.
"Ternyata udah jam dua, aku musti cepet-cepet pulang ni." Anak itu mengembalikan seluruh peralatan bersih-bersih ke habitatnya masing-masing.
Budi menutup pintu kelas dan melangkah normal ke arah gerbang depan.
Di atas trotoar aspal, kakinya silih berganti menapak. Sesekali Budi mengangkat tangannya ke atas demi menghalangi akses sinar matahari yang menerpa tajam. "Sial, hari ini panas banget!"
"Mana belum dapet kerjaan lagi. Nasib nasib ...." Ia mengeluh lagi untuk yang kesekian kalinya.
Budi berjalan lunglai dengan langkah berat karena kelelahan. Namun, semua rasa lelahnya langsung lenyap tatkala dia melihat sepintas beberapa anak SMA sedang bergerombol di sekitar seorang anak berkacamata. Di sebuah gang sempit, para anak berandal itu tampak sedang melakukan sebuah hal mengerikan terhadap anak berkacamata tersebut.
Budi yang menyaksikan secara langsung pun tak mau tinggal diam. Dia mendekat dan berteriak spontan, "Hei! Lepaskan anak itu!"
Suara nyaring yang mengalun berhasil menarik perhatian seluruh orang yang mendengarnya. Mereka sempat terdiam dan saling bertatapan satu sama lain, lalu pada akhirnya mereka semua tertawa terbahak-bahak. "Heei! Liat tuh! Anak itu temenmu, ya? Bwahaha!"
"Hei, anak culun jaman sekarang udah terkontaminasi anjime wahahaha!"
"Kebanyakan nonton Tokyo Repenjer wahaha!"
"Bruh! Kau mau ngapain, Dek? Mau dibuat babak belur kaya anak ini?" sela salah satu dari mereka sambil menunjuk orang yang sedang tersudut.
Budi terdiam. "Dek ...?" Ia lalu melepaskan sebuah pukulan straight ke arah wajah cowok berpenampilan acak-acakan itu. "Maaf, kamu tadi ngomong apa, Cil?"
[Misi sampingan : Mengalahkan 7 anak berandal]
[Hadiah : 1 kartu perak]
[Waktu : -]
[Hukuman : -]
[Catatan : *Ada kemungkinan tersembunyi]
[Apa Host mau menerima misi ini?]
[Ya/Tidak]
"Ya."
Ding!
[Misi dimulai!]
__ADS_1
~Bersambung~