Fighter System

Fighter System
Ch. 28 : Menuju Padepokan dan Bertemu dengan Abah Raya


__ADS_3


...\=\=\=\=\=...


Sore harinya, mereka berdua melangkah di jalanan bersamaan. Budi berjalan beriringan dengan langkah kaki gadis di depannya, sembari sesekali celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, laki-laki itu tampak memegangi rambutnya demi mengecek segalanya akan baik-baik saja. Terlebih lagi, karena Raya sendiri selalu meminta Budi untuk bersikap lebih gagah berulang kali.


Tak lama kemudian, sampailah mereka di tempat yang dikehendaki. Yap, kediaman Raya.


Atau bisa disebut, padepokan?


'Padepokan Pencak Silat Nusa Hati', nama tempat tersebut.


"Kita udah sampai," ucap Raya sembari menghentikan langkah tepat di depan gerbang besar dengan tulisan raksasa itu.


Budi pun lantas mengikuti langkah Raya yang terhenti. Ia mendongak dan menatap ke arah tulisan yang ditempa dari seng karatan itu. "Padepokan? Oh? Jadi, ayahmu itu punya padepokan pencak silat, ya?"


"Hem. Sesuai yang kau lihat," tuturnya dengan suara rendah, "pokoknya, waktu udah sampai dalam, ikuti aja perintahku. Karena abah–ehm, maksudku ayahku itu sedikit sensitif dengan orang baru."


Meski sedikit merasa keheranan dengan Raya, Budi tetap memilih untuk mengikuti alur saja. Dia mengangguk, seraya memberi pengakuan. "Oke."


"Ya udah, ayo masuk. Ingat! Harus–patuhi–apapun–yang–aku–perintahkan!"


Budi tersenyum canggung sebagai reaksi awal. Namun, kembali lagi, tak ada hal yang bisa ia lakukan. Dia pun menuruti permintaan Raya yang memang terdengar aneh bagi siapapun yang mendengarnya.


Raya masuk ke dalam gerbang yang separuh terbuka itu dan berjalan lebih dulu. Sedangkan Budi mengikutinya di belakang.


Tapi, tak lama kemudian, Raya lagi-lagi berhenti.


"Kau tunggu dulu di sini sebentar, aku mau nyari kunci buat masuk tempat latihan." Raya memperingatkan Budi dengan separuh wajah yang ditutupi oleh rambut. Terlihat, masih ada rasa malu-malu yang tersisa sebab efek dari jaket hitam yang dikenakan oleh Budi. "Jangan kemana-mana!"


"Si-siap!"


Raya kemudian bergegas menjauh dari tempat awalnya berpijak, meninggalkan Budi sendirian dengan keheningan senja.


Ditinggal sendiri gini, rasanya jadi serem deh?


Dirinya mulai merasa kurang nyaman.


Hingga tiba saat di mana bagian terseram muncul. "Hei." Seseorang memanggilnya dari arah dekat.


Deg!


Suara serak pria tua yang berada dalam jarak kurang dari satu meter itu sukses menembus sukma dan menarik rasa kejut Budi. "Aaaaaa! Hantu!" Ia sontak terkejut dan nyaris mengeluarkan beberapa kalimat mutiara yang mungkin akan menjelma menjadi sumpah serapah pada saat bersamaan.

__ADS_1


"Pala kau hantu! Hei, Anak Muda, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau lagi mengemis makanan atau semacamnya?" Namun, ekspetasi yang dibayangkan tak seburuk kenyataannya.


Kabar baik, objek yang berada di belakang Budi adalah seorang manusia, lebih tepatnya pria tua.


Kabar buruk, pria itu menatap Budi dengan pandangan yang mengerikan sembari menjatuhkan beberapa tuduhan pada Budi.


Kadung terkejut, mulut Budi membeku. Ia tidak tahu ingin menjawab apa, tiba-tiba pikirannya kosong. "Ah, anu ... Pak ...."


Beruntung, saat itu juga, Raya datang dan menengahi kecanggungan. "Abah, Raya cari kemana-mana ternyata di sini." Dia mendekat ke arah Budi dan sang pria tua. "Ah, kalian udah saling ketemu, ya ...."


"Hum ...." Pria yang diketahui ternyata adalah ayah dari Raya ini memegangi dagunya. Ia memaku pandangan pada Budi dengan sorot mata tajam dan mata yang mengernyit, bagai seorang bos yang sedang mengulik-ulik kesalahan dari karyawan baru.


Budi cuma tersenyum lebar. Dia tidak tahu bagaimana cara agar pria tua itu dapat mengalihkan pandangan darinya.


"Siapa anak gembel ini?" tanya pria dengan keriput yang menjadi seni di setiap sudut wajahnya.


A-Anak gembel?


Budi disebut anak gembel!


"Ah, anu ... dia ini namanya Budi. Dan ... dia ini pacarku." Raya mengucap pelan dengan wajah memerah kebul.


Budi senang karena ia tak perlu menjawab lebih banyak. "Ahaha iya, pacar ...."


Tu-Tunggu dulu!


"Pa-Pacar?!" Budi membuka mulutnya, hendak melakukan penolakan.


Akan tetapi, Raya sudah lebih dulu menginjak kakinya sambil menunjukkan senyuman mengerikan. "Iya kan, Sayang?"


A-Apaaaaaaa?!


"Raya, kamu serius? Anak kurus krempeng ini pacarmu?" Si abah masih belum menyerah untuk membuat Budi semakin terkena mental. "Di mana-mana, cowok itu harus ngelindungin cewek. Lah, kalian malah kebalik, haduh ... anak muda jaman sekarang!"


Raya menggelengkan kepala dan memekik. "Tapi, Budi ini jago bertarung, Bah! Dia bisa tinju dan taekwondo!"


"Cih, masa bodoh dengan tinju dan apalah itu! Kalau abah gerak sedikit, auto ncep! Keok nih batang lidi!"


Se-serem pisan!


"Ya udahlah, terserah kalian. Tapi, kenapa kalian malah ke sini? Kenapa nggak pergi shoper atau jalan-jalan ngupi gitu?!"


"A-Ah, itu ... karen Budi mau belajar silat!"

__ADS_1


Ekspresi abah yang tadinya mulai mengendor sekarang kembali kaku setelah mendengar perkataan Raya barusan. "Belajar silat?" Ia lalu menggelengkan kepala sebagai bentuk kekecewaan. "Hadeh, Anak Muda. Gimana bisa lestari budaya ini kalau anak muda kayak kalian aja nggak mau bahkan nggak tau."


"Silat itu teknik bertarung asli kita, punya kita dan budaya kita. Kenapa malah pake beladiri luar negeri? Haduh ... tau gitu, mending Abah jodohin kamu sama anaknya Pak Handoko dari dulu, Ray."


"Jangan ngungkit tentang Pak Handoko lagi, Pak!" Raya mencengkram tangan.


"Iya dah iya. Ya udah sana, kalian berdua latihan sendiri!" Ayah Raya merogoh saku kanan celana silatnya dan memberikan sebuah kunci perak. "Nih, tapi inget waktu, ye! Pokoknya, sebelum maghrib musti udah selesai!"


Mimik sumringah muncul di wajah Raya. "Siap, Bah!"


Si abah beralih menatap laki-laki yang daritadi hanya terdiam karena mentalnya semakin menciut. "Dan buat kamu, Tong! Awas aja kalo kamu ngapa-ngapain putriku!"


"I-Iya, Bah–eh maksudnya Engkong–eh Pak."


Pria tua itu berjalan masuk lebih dulu ke dalam rumah. Menyisakan keheningan di antara Budi dan Raya.


"Bapakmu serem banget, Ray." Setelah melewati masa-masa mengerikan, akhirnya Budi mendapat cukup waktu untuk mengutarakan seluruh rasa takutnya. Tentu, masih dengan badan yang gemetar ketakutan.


Namun, Budi salah sangka. Ia mengira bahwa Raya ada di pihaknya setelah mendengar reaksi gadis itu saat membantunya untuk keluar dari situasi canggung tadi. Tapi, justru kebalikannya!


"Ngomong apa tadi?" Ia menginjak kaki Budi sekali lagi.


"Eh! Ngg ... nggak! Maaf, maaf!"


"Hadeh. Daripada nunggu di sini lama-lama, mending cepat masuk ke ruang latihan. Lagian ini juga udah mau jam empat."


Budi melirik jam pada ponselnya. "Oh? Iya juga."


"Ya udah, kamu mau belajar silat, kan? Di dalam sana ada banyak peralatan buat latihan martial arts, terutama silat. Jadi, mulai hari ini, kamu bisa latihan sepuasnya."


"Hah? Serius?"


"Iya." Dia berbalik badan. "Abah-ku itu emang pemarah, apalagi sama orang baru. Tapi, dia nggak bakal berani marahin orang-orang terdekatnya. Dalam kata lain, kalo kamu punya kaitan kuat sama aku, kamu nggak bakal kena marah."


"Ohh ... gitu ya, pantesan kamu ngomong kalo aku ini pacarmu. Eh, jadi kamu nyuruh aku buat dandan kayak gini cuma buat hal beginian?!"


"Lah? Ngarep lebih kamu? Yeee ... kau pikir ini sepele? Kau jadi bisa latihan di sini selamanya gara-gara itu, tau!"


"Tapi, kan–"


"Ngomong sekali lagi, pala mu ku headshot!"


"Anj*r!"

__ADS_1


Mereka berdebat sembari tetap berjalan bersamaan. Menuju ke tempat latihan yang berada cukup dekat dari rumah Abah dan Raya.


~Bersambung~


__ADS_2