
...****...
Seorang laki-laki dengan tubuh sedikit gemuk mendekat ke arah Budi. Tampang sendu tersirat samar dari wajahnya. Di atas kantung seragam, tertulis sebuah nama 'Bagus'. Budi sempat mengernyit heran, sebab ia merasa belum pernah bertemu dengan anak itu.
Tidak, sampai Arin menjelaskan semuanya. "Bud, dia ini Bagus. Aku juga nggak begitu kenal sama dia, tapi dia orang pertama kali yang ngejelasin semuanya ke aku. Masalah kamu sama SMA Taran Barat."
"Apa sih, Rin? Tunggu sebentar, kenapa kamu keliatan marah begitu? Jelasin yang bener dong! Biar aku tau kesalahanku apa."
Arin menatap kedua mata kakaknya dengan tatapan penuh rasa kesal. Ia lalu membuang napas berat. "Hahh ...." Ia kemudian beralih melirik Bagus dan kawan-kawan sembari mengucap, "biar mereka yang menjelaskan."
Bagus mengerti akan kode yang diberikan. Ia mulai menjelaskan, "Kami semua dihajar oleh Gerry. Mereka bilang, mereka lagi nyari seseorang dari SMA ini. Cowok culun dan jago bertarung."
"Awalnya, kami nggak mau menunjukmu. Tapi, nggak ada pilihan lain. Karena cuma kamu yang sesuai sama ciri-ciri orang yang dicari mereka," jelas Bagus.
Budi mengernyit. "Tapi, belum tentu aku yang ngelawan, kan? Kenapa kalian malah ngasih tau namaku?!" Ia membantah geram.
"Makanya aku tanya kamu tadi, dan kamu jawab kalo kamu emang ngelawan mereka. Bud, aku nggak tau kamu ini lagi mikir apa sebenernya," sahut Arin dari samping.
"Tapi, walau gitu juga, mereka nggak boleh ngasih nama orang sembarangan!"
Arin memangkas, "Ya udah, terus sekarang gimana? Nggak ada waktu lagi." Gadis itu tidak bisa memendam rasa takutnya.
Di sinilah Budi semakin dibuat bingung. Kalimat yang terucap dari mulut Arin seolah mengatakan bahwa akhir akan datang kepadanya sebentar lagi. "Hah?" Hanya reaksi itu yang dapat diutarakan oleh Budi karena saking bingungnya
"Pukul tujuh, jam pelajaran pertama." Bagas menengahi pembicaraan mereka.
Budi memberikan reaksi yang sama.
"Pukul tujuh pagi, anak-anak SMA Taran Barat akan datang ke sini dengan geng tawurannya. Kemungkinan besar, Gerry yang bakal memimpin mereka," jelas Bagus kemudian.
Budi melirik jam tangan analognya yang sekarang telah menunjukkan waktu mengerikan. Pukul tujuh, lewat tiga menit.
"Tujuh? Se-Serius? Jadi, mereka bakal datang ke sini sekarang?!" Budi memekik kaget.
Pada saat bersamaan, terdengar suara keras seseorang dari arah luar. Suara yang terdengar keras karena bantuan alat pengeras suara. Seketika, semua murid di sekolah berhenti bergerak dan melirik keadaan luar.
Tampak, segerombol manusia berjakun datang dengan membawa persenjataan khas anak SMA. Terkesan sederhana, namun mengerikan. Ya, mereka semua membawa tongkat kayu.
Termasuk seorang laki-laki gendut yang memimpin penyerangan tiba-tiba ini. Gerry.
__ADS_1
"Budi! Aku nggak tau siapa kamu, tapi kalau kamu dengar peringatan ini, cepatlah turun dan temui kami!" peringat Gerry melalui alat pengeras suara. "Dalam waktu lima menit, kalo kamu nggak turun, kita terpaksa pake cara kekerasan!" lanjutnya.
Budi, Arin, dan Bagus serta anggota Geng Tarantim lainnya tampak kebingungan. Mereka melirik sekilas pemandangan mengerikan itu dari balik gorden merah.
"Tuh, kan! Mereka beneran dateng ke sini!" Arin menjerit takut, "terus gimana dong?!"
Bagas memberi saran, "Udah kaya gini, sebaiknya kita serahin aja ke guru dan jangan keluar. Karena, mereka udah bawa pasukan sangar begitu. Percuma, kita pasti bakal babak belur."
"Andai Reza masih di sini. Dia mungkin bakal ngebantuin kita buat ngelawan anak Taran Barat," lanjutnya.
Arin mengerang. "Jangan ungkit tentang sampah itu!"
"Ma-Maaf ...."
Sedangkan Budi, ia masih terlarut dalam lamunannya. Ia menatap beberapa guru sekolah yang masih berusaha membubarkan amukan para berandal itu.
Sebuah rasa bersalah muncul dalam benaknya. Dia tak tahu, hanya karena perbuatan baik yang ingin dia lakukan saat itu, mendadak semua menjadi rumit.
"Budi! Kami nggak takut sama guru sekolah ini! Pokoknya, dalam dua puluh detik kamu belum keluar ... maka, sekolah ini akan tamat!" tegas Gerry sekali lagi.
Kalimat nyaring itu berhasil menyadarkan Budi. "Teman-teman, maafkan aku. Aku nggak bermaksud buat ngelakuin sampe kaya gini. Tapi, aku bakal tanggung jawab."
"Hei, apa maksudmu, Bud? Jangan bilang kamu mau ngelawan mereka sendirian?!" Arin mendekati Budi dengan wajah yang seolah berharap bahwa Budi akan menjawab tidak atas pertanyaannya.
"Bud! Hei! Dengerin dulu! Kita bisa selesaiin masalah ini baik-baik sama mereka." Arin kembali berteriak, "BUD!"
Namun, Budi telah membulatkan tekad. Ia tak mau lagi menengok ke belakang. "Aku akan terus maju. Itu keputusanku, Rin." Ia melirik sedikit dan lalu bergegas keluar menghadapi amukan manusia yang telah menantinya.
"Hei! Kalian ini, anak-anak muda tapi kelakuannya nggak sopan! Ini lagi mau masuk jam pelajaran! Kenapa kalian malah gerombol dateng bareng-bareng ke sini?!" cerocos seorang guru wanita memperingatkan para anak SMA Taran dengan beraninya. Ia berteriak dengan suara lantang, membuat Gerry merasa sedikit terganggu.
"Aduh, Bu. Emang masih jaman, ya, belajar itu? Sekolah itu tempatnya tidur sama nyari nilai. Jadi, nggak usah ngehalangin kami. Lagian, kami juga nggak ada masalah sama Ibu, kok," ucap Gerry berupaya meruntuhkan mental wanita paruh baya yang berani menentang itu.
Namun, nyatanya guru yang kerap disapa Bu Darsih itu tampak tidak gentar sedikitpun. Ia masih memicingkan mata ke arah anak gendut bertatto tersebut. "Apa? Kamu mau ngelawan saya? Ayo, pukul sini! Dasar anak berandal nggak tau malu!"
Kalimat itu jelas memantik emosi Gerry. "Kalimat ibu udah keterlaluan. Ya, kalo emang mau dipukul, mau gimana lagi?" Gerry menarik tangannya agak sedikit ke belakang, memasang ancang-ancang memukul.
Bu Darsih masih tetap berdiri tegak, meski tau mungkin nyawanya terancam. Sampai pada saat, di mana Gerry benar-benar melepaskan pukulan lurus.
Dwichagi.
"Uoghhh!" Seseorang menyeringai kesakitan.
__ADS_1
Tetapi, orang itu bukan Bu Darsih, melainkan Gerry sendiri. Budi datang secara tiba-tiba dan melepaskan dwichagi lurus dari samping guru wanita itu.
Jejak kaki sepatu menempel di atas wajah Gerry, menimbulkan sedikit rasa kepuasan bagi kubu SMA Taran Timur.
Namun, apa memang pertarungan ini hanya akan berakhir di sini?
"Hei, kalo ada masalah sama seseorang, selesaiin sama orang itu aja. Kenapa harus bawa-bawa sekolah segala?" Budi mengedarkan sorot mata tajam ke arah Gerry. Ia beralih menatap wanita di sampingnya. "Bu, saya minta tolong untuk semua guru dan murid agar dievakuasi secepatnya. Karena mungkin, pertarungan itu akan menimbulkan korban jiwa."
"Ta-Tapi, Nak. Kamu–"
Budi tersenyum. "Jangan khawatirkan saya, Bu. Saya udah terbiasa dipukul kok hehe!
"Y-ya udah kalo gitu." Bu Darsih lantas mengerjakan apa yang diperintah oleh Budi.
Laki-laki itu kembali menatap lawan besar yang akan menjadi rival pertarungannya saat ini.
"Cih, Sialan! Siapa kamu?!" gertak Gerry, "beraninya ngotorin muka orang sembarangan!" Ia masih terus ngedumel.
Tidak, hingga ia menyadari akan suatu hal. "Tunggu, jangan-jangan kamu ...."
"Ya, aku orang yang kau cari. Berhenti mengganggu kehidupan orang lain, Bangs*t!" Budi menetapkan kuda-kuda siap bertarung. "Mari kita akhiri ini cepat! Aku nggak mau jadi orang bodoh selamanya, kau tahu?"
Ding!
[Misi telah dipicu!]
[Misi utama : Menyelamatkan SMA Taran Timur]
[Hadiah : 1 kartu emas + 2 kartu perak]
[Waktu : -]
[Hukuman : Sekolah akan dibumihanguskan]
[Apa Host mau menerima misi ini?]
[Ya/Tidak]
Ya.
[Misi dimulai!]
__ADS_1
~Bersambung~