Fighter System

Fighter System
Ch. 14 : Ran, Teman Masa Kecil (Part 3)


__ADS_3


...****...


"Oh iya Bud. Gimana kabar keluargamu?" tanya Ran seketika menukar topik. "Terakhir kali, aku ketemu Bu Sri sama Arin waktu kita kerja kelompok pas SD. Aku jadi kangen sama mereka~!" lanjutnya.


Ia menatap kosong wajah Budi dan berharap agar segera mendapat jawaban. Namun, respons Budi di luar dugaan Ran. Bukannya menjawab antusias, laki-laki itu malah melamun dengan sorot mata sendu. "Arin baik-baik aja. Sekarang dia udah masuk SMA," terangnya, "tapi, kalo ibu ... dia masih dirawat di rumah sakit."


Ran menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kedua netra cantiknya membola sempurna. Ia jelas terkejut tatkala mendengar hal itu. "Ah, maaf Bud. Aku nggak bermaksud buat–"


"Nggak papa kok," pangkas Budi. Dia mengubah ekspresinya dengan garis lengkung pada bibir. "Lagian, ibu juga udah mendingan. Cuma perlu beberapa perawatan khusus aja."


Ran merasa bersalah. Gadis itu merasa bahwa dia tak seharusnya mengungkit tentang hal itu. Dia ingin setidaknya memperbaiki suasana. "Ah, aku baru tau ... maaf banget, Bud." Kirana kembali meminta maaf. "Tapi, perawatan khususnya harus bayar?"

__ADS_1


"Iya," jawab Budi singkat. "Makanya, aku juga lagi bingung mau kerja di mana. Lagian, kayanya nggak ada orang yang mau nerima orang kaya aku ini."


Perasaan bersalah semakin mencuat ketika Budi mengutarakan pernyataan tersebut. Ran lantas mengucap, "Jangan begitu, Bud. Kamu nggak boleh rendah diri." Ia menambahkan, "Berapa biayanya? Biar nanti aku ambilkan tabungan bulananku dulu."


"Ehh ngg-nggak usah, Ran! Aku nggak mau ngerepotin kamu lagi!" tolak Budi kekeuh. "Aku udah disuguhin minum aja udah makasih banget."


"Tapi, Bud. Aku mau bantu kamu ...."


Budi memerhatikan orang yang berbicara di depannya. Tampak tersirat dari sorot matanya, gadis itu terdengar serius dengan ucapannya. Membuat Budi sampai tidak tega untuk menolak tegas.


Ran terdiam. Budi semakin bingung. Namun, tak lama kemudian, mulut Kirana terbuka dan melontarkan satu pertanyaan lain. "Kamu udah dapet kerjaan?"


Budi kembali murung seketika. "Belum."

__ADS_1


"Kalo gitu, mau kerja bareng aku? Kebetulan, di tempat kerjaku juga lagi buka lowongan," tawar Ran yang masih belum menyerah membantu Budi. Mengetahui bahwa Budi pasti akan menolak segala bantuan langsung yang diberikan olehnya, Kirana pun mencari solusi lain. Ia menawarkan pekerjaan kepada teman masa kecilnya itu.


"Eh? Kamu kerja?"


Ran tersenyum sambil mengangguk. "Iya, haha! Aku kerja paruh waktu di restoran cepat saji yang ada di Jalan Mawar."


"Kenapa kamu kerja? Bukannya, orang tuamu itu juga punya usaha sukses, ya?" Budi kembali melontarkan pertanyaan.


Ran pun menjawab pertanyaannya satu per satu dengan sabar. Ia menggelengkan kepala. "Kerja itu bukan cuma dilakuin waktu kamu lagi butuh uang, kan? Yah, sebenarnya nggak ada alasan lain sih. Aku cuma nggak betah tiduran di rumah aja," ujarnya, "lagi pula, aku jadi punya cukup uang buat beli baju. Jadi, nggak usah minta ke ortu deh!"


Budi menatap gadis itu dengan tatapan penuh rasa kagum. "Kamu hebat, Ran. Pantas aja kamu jadi kebanggaan waktu SD, ehm nggak, kamu jadi kebanggaan semua orang buat sepanjang masa. The greatest of all time!"


"Apa sih~ Haha!" Ran menyambung, "sebentar, aku kasih nomor WU-ku. Nanti ku kirim syarat-syarat buat bisa masuk kerja di restoran itu."

__ADS_1


"Oke!"


~Bersambung~


__ADS_2