
...*****...
"Ba-bagaimana ini?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Ia menatap kosong para manusia beringas yang berlomba-lomba untuk mengabisinya.
Ia ingin kabur, ingin berlari sekarang. Namun, tubuhnya seolah terikat oleh rantai besi yang menahannya di satu tempat. Tidak ada yang bisa ia lakukan.
Namun, di saat ia telah merasa bahwa dirinya akan tamat. Seseorang tak diduga datang kepadanya. Seorang gadis aneh dengan hoodie berwarna merah kontras abu-abu, berdiri tepat di depan Budi dengan tangan kanan yang menyerong ke bawah. Seolah memberi kode bahwa ia sedang melindungi laki-laki di belakangnya.
"Kerja bagus," tuturnya lirih kemudian. Budi terkejut seketika, dia sedikit melirik ke depan agar dapat melihat langsung wajah di balik jaket hitam tersebut. Tetapi, dia tidak bisa.
Siapa dia? pikirnya.
"Si-siapa kamu?!" tanya Budi.
Tidak ada respons.
Arin? Bukan!
Para berandal yang tadi berlari bersamaan, perlahan menghentikan langkahnya. Mereka kompak bertanya-tanya.
Siapakah gadis misterius ini?
"Hei! Minggir sana, Cewek Aneh!" pekik seseorang dari mereka.
Tanpa disangka, ternyata kalimat yang terucap itu berhasil memancingnya untuk berbicara sekali lagi. "Cewek aneh ...?" Ia mengulangi perkataannya dengan suara berat.
Syuttt!
Gadis itu melesat menyerang orang yang berbicara dengan sebuah tendangan melayang. Hanya perlu satu kali serangan, musuh berhasil ditumbangkan. "Bajing*n tengik! Seenaknya aja mengganti nama panggilan orang lain." Ia lalu menurunkan kudung hitamnya, menunjukkan rambut pendek yang tergerai halus.
"H-Hah?!" Semua orang yang menyaksikannya pun langsung terkejut.
Gerakan menyerangnya begitu cepat. Bahkan lebih cepat dari kedipan mata seseorang. Tidak ada yang mengetahui siapa dia, sampai ia sedikit berbalik.
__ADS_1
"Lemah," ejeknya merendahkan.
Raya Deviana namanya. Gadis mungil yang selalu hidup menyendiri setiap saat. Tak peduli di sekolah atau di rumah. Dia tidak pernah mau bergaul dengan siapapun. Membuatnya menjadi sesosok gadis yang dipandang anti-sosial dan kadang menerima perlakuan buruk dari teman-teman sekelasnya.
Hingga kini, ia menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Semua mata memekak tatkala menyaksikan ia yang mampu melakukan tendangan depan Balchagi dengan sempurna. Termasuk Budi sendiri.
"Sialan! Siapa lagi cewek ini?!" Semua lamunan langsung buyar dan berubah menjadi sebuah perintah kebencian.
Mereka mengalihkan sasaran yang akan dikeroyok. Yang awalnya Budi, beralih menjadi Raya. Karena mereka semua menyadari, gadis ini lebih berbahaya dari orang yang baru menghajar ketua mereka tersebut.
Diam. Meski tahu bahwa dirinya sedang diincar, Raya tampak tidak panik sedikitpun. Ia hanya menyeringai lebar dan kemudian maju pada saat bersamaan.
Satu, dua, tidak, semuanya! Mereka yang baru menyentuh tangan Raya sedikit, langsung tepar tak berdaya di tanah. Gerakan yang sangat cepat membuat netra gagal menangkap objek tersebut.
Pukulan dan tendangan yang bervariasi menjadi tontonan mereka saat ini. Budi tak dapat melihat semua teknik yang digunakan, tapi ia yakin, Raya menggunakan tendangan low kick dan pukulan straight berkali-kali.
Hanya dalam waktu singkat, seluruh lawan langsung tumbang. Raya menginjak kepala salah satu dari mereka sembari melipat tangan di depan dada.
Ding!
[Selamat! Host mendapat kartu emas!]
[Selamat! Host mendapat 2 kartu perak!]
Semua lantas bersorak-sorai. Mereka sangat senang karena SMA Taran Barat berhasil ditumbangkan secara tidak hormat. Budi dan Raya berkontribusi besar dalam misi penyelamatan sekolah.
Tapi, simpati publik jelas lebih condong kepada Raya. Karena ia adalah sosok yang tidak disangka-sangka.
Selepas pertarungan melelahkan itu berakhir, Raya berjalan menghampiri Budi. "Hei, kau baik-baik saja?" tanyanya mengecek keadaan laki-laki di depannya.
Budi sempat terdiam karena masih terjebak dalam lamunan, akan tetapi seketika ia langsung sadar. "A-Ah, aku baik-baik!" ucapnya separuh berteriak.
"Baguslah." Setelah mendengar jawaban atas pertanyaanya, Raya lantas kembali memakai tudungnya dan berjalan melewati Budi.
Tanpa mengatakan lebih banyak kata lagi, gadis dingin itu hendak kembali ke kelasnya. Namun, sebelum itu, Budi berteriak menghentikannya, "Tunggu dulu!"
__ADS_1
Raya berhenti melangkah dan berbalik menatap orang yang baru saja memanggilnya. "Apa?"
Budi mendadak lupa saat menatap kedua mata Raya yang tampak begitu dingin. "Terima kasih," ucapnya.
Raya mengalihkan tatapannya saat mendengar ucapan itu. Ia hanya berbalik untuk berjalan kembali, tetapi dengan tangan kanan yang melambai di udara.
Budi tahu, itu adalah kode bahwa ia menerima permintaan terima kasihnya.
Memulai penerawangan.
Ding!
[Raya]
Kekuatan : ???
Ketahanan : ???
Kecerdasan : ???
Kecepatan : ???
Naluri Bertarung : ???
"Oh, jadi namanya Raya," gumam Budi lalu mengerang geram, "tapi, kenapa aku nggak bisa melihat statusnya?"
"Hei, Sistem!"
[Status seseorang yang tak dapat terbaca adalah karena faktor skill penerawangan masih lemah. Host dapat meningkatkan skill penerawangan agar dapat melihat status semua orang]
"Ah, begitu." Budi berdehem kemudian, "Hum, apapun itu, yang penting pertarungan melelahkan ini telah berakhir. Syukurlah."
~Bersambung~
Jangan lupa like dan komen!
__ADS_1