Fighter System

Fighter System
Ch. 25 : Pertemuan Antar Pemimpin SMA Taran (Part 3)


__ADS_3


...*****...


"Oh, jadi ini yang namanya Budi? Keliatan kurus banget, tuh," sindir Theo dengan senyuman seringai yang menyiratkan ejekan menyebalkan. "Aku denger-denger, kamu ngebuat Reza babak belur, ya? Uhh ... rasanya kayak nggak mungkin deh." Ia semakin menyudutkan posisi laki-laki itu, berniat untuk menyulut emosinya.


Enggan terlibat cek-cok lebih lama, Budi pun hanya terdiam. Ia tidak melawan sama sekali, sebab dirinya tau. Mungkin hidupnya akan berakhir jika ia membuka mulut. Bagus dan kawan-kawan juga sepemikiran dengannya.


Alvaro melirik sedikit dari arah belakang. Ia lantas tersenyum miring. "Oi, kita mulai aja rapatnya! Toh, si pelaku sudah datang," ucap berandal itu kemudian.


Abian selaku pemimpin rapat pun mengangguk. "Baiklah, mari kita mulai rapat Pemimpin SMA Taran pagi ini," tutur pria berkacamata tersebut.


Budi mengernyitkan kening. Ia mendengar sepintas sebuah kata ambigu yang disematkan oleh Alvaro. Kata 'pelaku' yang diucapkan oleh orang yang tengah merokok itu sangat mengganggunya. Meski, Alvaro tidak menyebut subjek siapa yang dimaksud, tapi entah kenapa Budi merasa bahwa dialah yang ditunjuk oleh kalimat itu.


"Bud, ayo!" Bagas berbisik di dekat telinga ketuanya.


Lamunan Budi pun membuyar. Ia sadar dan segera merespons. "Ba-Baik." Dia berjalan mendekat ke mereka.


Awalnya suasana sepi nan canggung tercipta di sana. Tidak, sampai Abian membuka pembicaraan ini. "Baiklah, singkat saja. Alasan kita mengadakan pertemuan ini sekali lagi adalah karena permintaan Alvaro. Dia mengatakan bahwa ada sedikit masalah antara SMA Taran Timur dan SMA Taran Barat yang harus diselesaikan secepat mungkin."


"Dipersilakan, Alvaro untuk menjelaskan."


Alvaro membuang puntung rokoknya, hendak angkat bicara. Namun, Theo menyela, "Ck! Padahal yang punya masalah mereka! Kenapa aku juga harus diundang, hah?!"

__ADS_1


"Seperti kesepakatan, Theo." Abian menjawab.


Alvaro menyahut, "Tenanglah, Bajing*n. Alasanku memanggil kalian ke sini hanya untuk mengumpulkan saksi."


"Saksi?" Budi bertanya-tanya.


"Jangan. Jangan lagi ...." Namun, di sisi lain, para anggota Geng Tarantim justru gemetar ketakutan.


Budi semakin bingunh saat menatap rekan-rekannya itu.


Apa yang dimaksud dengan saksi?


"Oh, kau ingin mencoba hal itu lagi, hah?" Theo menunjukkan ekspresi mengerikan. "Cih, Dasar Kepar*t!"


Berbanding terbalik, Abian justru menunjukkan ekspresi gelisah. "Apa kau yakin? Jika hal itu terjadi lagi, maka mungkin saja kita semua tidak akan bisa bertemu seperti ini."


"Dasar Sialan!" Theo melepaskan tendangan ke arah Alvaro.


Namun, sebelum tendangan itu benar-benar mengenainya, Alvaro berhasil menangkisnga. "Hei, hanya karena begitu saja kau sudah terpancing? Dasar pemarah!"


"Grhhhh!"


Pertikaian besar nyaris terjadi. Abian dengan sekuat tenaga berusaha melerai mereka berdua. Dan, dalam keriuhan yang terjadi, Budi dengan polosnya justru mengangkat tangan. "Permisi, apa yang kalian maksud dengan 'Saksi'?" tanya laki-laki itu.

__ADS_1


Alvaro, Abian, dan Theo terhenti seketika. Mereka kompak menatap orang yang melontarkan pertanyaan.


"Ah, itu. Alvaro dari SMA Taran Barat mengajukan penyelesaian masalah dengan cara tawuran." Abian juga menambahkan, "Dengan kata lain, Budi, selaku pemimpin SMA Taran Timur harus menerima tantangannya untuk bertarung bersama demi memperebutkan batas wilayah."


Selepas mendengar pernyataan Abian, Alvaro berjalan mendekati Budi. "Hei, Cecung*k! Ayo kita bertarung sekarang! Yang mati duluan harus menyerahkan wilayahnya. Jadi, ku peringatkan, lebih baik kau tunduk saja kepadaku sekarang dan aku akan membunuhmu cepat, hahaha!"


"Tentukan saja."


"Hah?!"


Budi memicingkan mata kepada Alvaro. "Tentukan kapan dan di mana, kita akan bertarung. Dan saat itu juga, aku akan membunuhmu."


"Sialan, anak ini!" Alvaro meremas rambutnya. "Baiklah."


"Terserah kau mau bertarung kapan dan di mana. Pada saat itu, kita akan bertarung. Bersiaplah!"


"Kalau begitu satu bulan." Budi meminta, "Satu bulan dari sekarang. Aku akan menemuimu."


"Cih!" Meski kesal karena waktu yang ditentukan sangat lama, tapi pada akhirnya Alvaro tak lagi bisa untuk menolak. "Terserah!"


Budi pun sedikit merasa lega. Sebab, dirinya masih memiliki waktu untuk bisa berani berhadapan dengannya.


Namun, apakah hidupnya akan setenang itu? Satu bulan.

__ADS_1


Satu bulan, apakah itu cukup untuk membuat Alvaro bertekuk lutut?


~Bersambung~


__ADS_2