
...*****...
1 bulan kemudian.
"Nggak kerasa udah sebulan ya, Bud. Untung Om Surya mau ngebayarin rumah sakit ibu kemarin, kalau nggak sih, bakal susah." Arin meregangkan ototnya sembari menyambut pagi hari dengan senyuman. Ia mengutarakan seluruh rasa leganya sekarang.
Akan tetapi, ada yang janggal di sini. Gadis itu menyadari bahwa sedari tadi laki-laki yang berada di sebelahnya tidak terdengar menanggapi satupun perkataannya. Merasa keheranan, Arin pun bertanya, "Kau kenapa sih, Bud? Daritadi diem mulu? Apa ada yang salah, ya?"
"...." Budi tidak menjawab teguran gadis itu.
"Bud!" Tidak, sampai Arin mengulanginya lagi.
"A-Ah? Iya, apa? Aku nggak papa, kok! Haha! Aku berani, nggak takut!" Budi berteriak spontan.
Tingkah laku kakak laki-lakinya itu membuat kedua alis Arin mengernyit. Dia semakin merasa bahwa Budi aneh akhir-akhir ini. Yah, sejak beberapa hari lalu, kakak dari gadis paling populer di angkatannya ini bersikap tidak seperti biasanya.
Makan sedikit, selalu mengurung diri di kamar, kerja pun kurang fokus. Memang, beberapa hari ini, pikiran buruk membebani kapasitas otaknya. Bayang-bayang akan sebuah kejadian mengerikan selalu menghantuinya setiap saat, tak peduli meski Budi telah berupaya sekuat tenaga untuk meyakinkan diri.
Terlebih lagi, hari ini adalah waktunya. Hari di mana dirinya menyetujui sebuah perjanjian gila yang mungkin akan mempertaruhkan nyawanya.
Benar, tepat hari ini, Budi akan menantang sang Raja Taekwondo wilayah Taran–Alvaro.
"Kau aneh banget. Mukamu kayak ketakutan gitu? Ceritain lah!" Arin dengan kepolosannya meminta Budi untuk bercerita.
"Yah, cuma rahasia cowok. Kau tahu ... aku nggak papa, kok. Serius!" Ia menjawab. "Ah ya? Tadi kau ngomong apa?" Pada saat bersamaan, laki-laki itu segera menukar topik pembicaraan dan mengarahkannya ke permasalahan awal.
Tapi, tampaknya Arin enggan melanjutkannya lagi. "... lupain aja."
Itu adalah pembicaraan terakhir mereka, kesunyian kembali mendominasi. Hingga tiba-tiba seorang laki-laki gembul datang menemui Budi. Benar, dia si orang nomor dua dalam geng Tarantim–Bagus.
"Bud, hari ini jadi, kan? Kata anak SMA Taran Barat nanti sepulang sekolah–hupp–" Belum selesai orang bertindik itu berbicara, Budi telah lebih dulu menutup mulutnya dengan tangan.
Tapi, sedikit terlambat. Bagus sudah terlanjur mengatakan kata yang membuat rasa penasaran Arin bangkit kembali. "SMA Taran Barat?" Gadis itu memiringkan kepala sembari memastikan kebenaran dengan melontarkan pertanyaan.
Mati aku ....
"Bukannya urusan tawuran itu udah selesai, ya? Kata Bagus, kau udah berunding sama seluruh ketua SMA Taran kemarin dan udah disetujui juga, kan?" lanjutnya melengkapi pertanyaan sebelumnya.
Pada saat seperti ini, kemampuan berbohong akan benar-benar diperlukan!
__ADS_1
Budi menatap Arin yang berada di sampingnya seraya tertawa. "Hahaha! Iya, udah beres kok. Bagus tadi cuma mau ngomong kalo ada anak yang mau ketemu aku dan namanya Barat! Haha!" Budi menanggapi dengan jawaban yang terlintas di pikirannya saat itu.
"Iya, kan, Gus?" Dia juga menarik orang di sebelahnya untuk ikut memperkuat kebohongan yang dibangun olehnya. Laki-laki itu memberi kode, berharap agar Bagus meng-iya-kannya saja.
Bagus mengerti apa maksud kedipan mata tersebut. Ia menatap Arin sambil menganggukkan kepala berulang kali. "Haha! Iya, Arin! Adik kelas yang namanya Barat mau ketemu di depan nanti."
Masalah semakin rumit, ekspresi wajah Arin terlihat tidak mendukung jawaban ini. "Hum?" Ia terdiam, membuat suasana semakin menegang setiap detiknya.
Budi meneguk ludah.
"... yah, apa-apa ajalah. Pokoknya, kau nggak usah ikut campur lagi masalah tawuran ini, Bud! Pokoknya waktu itu yang terakhir!" peringat Arin bersungguh-sungguh.
Sebagai kakak yang baik, Budi lantas menanggapi hal itu dengan jawaban yang melegakan. Ia mengangguk sambil tersenyum seolah semua akan baik-baik saja. "Siap, Bos!" ucapnya penuh keyakinan.
"Apa sih? Haha! Ya udah, kalo gitu ayo masuk–"
"Loh, ternyata beneran Arin? Heee~ daritadi kupanggil nggak nyahut." Seorang gadis dengan rambut pendek berhiaskan jepit kelinci datang menengahi kerumunan mereka.
"Eh? Winda?" Yap, sesi para gadis telah dimulai. Arin sediki terkejut saat mendapati bahwa gadis di sebelahnya itu adalah Winda–teman sekelasnya. "Maaf, maaf, aku nggak denger tadi hehe~"
"Dasar! Oh ya ...." Perhatian gadis itu terhenti sejenak. Atensinya beralih ke arah kanan, yang mana adalah tempat Budi berdiri. Ia memandangi laki-laki itu dengan pipi tersipu malu. Winda mendekatkan bibir di telinga Arin dan mulai berbisik, "Ah ... dia ini Budi–kakakmu, ya?"
Winda menggelengkan kepala. "Enggak, nggak papa kok." Dia menarik tubuhnya menjauh. "Ayo masuk ke kelas, Rin! Kayaknya, ini udah terlambat banget," ajak gadis itu kemudian, sembari mengenggam pergelangan tangan Arin kuat-kuat.
"Eh? I-Iya!" Arin hendak berlari mengikutinya, akan tetapi, ia ingat bahwa masih ada manusia berjakun di dekatnya. Ia pun menghentikan langkahnya. "Sebentar, anu ... Bud, aku masuk ke kelas bareng Winda, ya? Kamu ... nggak papa, kan?"
Alis Budi terangkat. "Ah, nggak papa kok. Lagian, aku mau bareng Bagus juga."
"Oke! Daah~" Arin melambaikan tangannya, kemudian menatap Winda. "Ayo, Win!"
"Dahh~" Budi melambaikan tangan di depan udara dengan senyuman terukir di bibir. Senyuman, yang perlahan mulai meredup.
"Aku bakal ngajak Alvaro buat berantem di gang deket Jalan Melati. Kau bisa ngasih tau itu ke mereka, kan?" ungkap Budi dengan suara lirih dan pandangan yang tetap melurus.
Bagus mengangguk. "Bisa," jawabnya, tapi, apa kau yakin, Bud? Alvaro itu ... kuat banget. Bahkan, Reza aja dulu pernah dipermaluin sama dia."
"Kheh." Di luar dugaan, Budi justru tersenyum miring. "Hei, kau meremehkanku, ya, Gus?"
"Eh? Bu-bukan gitu!"
"Hahaha! Tenang aja, Gus. Aku bisa ngalahin Reza, lantas kenapa Alvaro nggak?" Dia mendongak dan menatap langit biru yang bersinar cerah hari ini. "Karena sepertinya, Tuhan sedang memihakku hari ini."
__ADS_1
Yap, sebenarnya sebelum berangkat ke sekolah, Budi menyempatkan diri untuk membuka dulu televisi dan melihat ramalan cuaca hari ini. Dan beruntungnya, wilayah Taran akan diguyur hujan deras.
Sesuai dengan apa yang diperlukan untuk melawan taekwondo. Memerlukan tempat licin dan basah!
"Semoga awan menyertaiku!" Ia berteriak kepada langit.
Bagus sama sekali tidak mengerti apa yang rekan laki-lakinya itu bicarakan. Tapi, ia berpikir tentang kemungkinan satu hal. "Oh? Kau minta buat hari ini cerah, ya?" Ia bertanya, "do'a mu bakal dikabulin, Bud, haha! Soalnya, hari ini yang keguyur hujan cuma sebagian wilayah Taran. Sini nggak kena."
"Oh? Nggak kena, ya? Haha, syukurlah." Ia tersenyum. Hingga ia menyadari sesuatu.
Tunggu, nggak ada hujan?!
"Eh? Kau serius, Gus? Bukannya seluruh Taran kena hujan, ya?" Budi yang masih belum percaya 100 persen, kembali bertanya.
"Beneran, tadi aku liat di HP. Cuma bagian Utara yang kena. Kau nggak liat, ya?" jawabnya.
"Be-beneran?"
"Iya."
Tak peduli berapa kalipun Budi mengulangi pertanyaan itu, Bagus akan menjawab dengan kalimat yang sama.
Iya, iya, dan iya.
Saat itulah, Budi merasa hampa. Ia duduk bersimpuh di atas aspal sembari menatap kosong pemandangan jalanan di depannya. Bibirnya bergetar tangannya terangkat ke atas.
Ia menarik napas dan mulai berteriak sekencang-kencangnya, "Aaaaaaaarghhhhhhhh!"
Teriakan itu berkumandang memenuhi indra pendengaran. Membuat Budi seketika menjadi pusat perhatian di sana.
Mau bagaimana lagi?
Rasa berani dan keren yang telah dia bangun susah payah pun runtuh pada saat itu juga. Ia kembali kehilangan semangat bertarung, hanya karena masalah hujan ini.
Alam seperti enggan untuk berpihak kepadanya, meski sekalipun.
Aku...
Aku nggak mau bertarung!
~Bersambung~
__ADS_1