Fighter System

Fighter System
Ch. 37 : Rencana Theo dan Kawan-kawan


__ADS_3


...\=\=\=\=...


"Hei, jadi yang kau maksud sibuk itu karena ini, ya? Kau kerja di sini?" Raya bertanya sembari menatap laki-laki yang juga sedang berjalan di sebelahnya. "Emang gajinya besar kah?"


Budi mengangguk. Ia lalu menghela napas setelahnya. "Yah, nggak banyak juga sih. Cuma paruh waktu soalnya."


"Ah, kayaknya hidupmu berat banget." Sebuah kalimat yang tak terduga keluar dari mulut gadis itu. Raya, dengan segala sifat tomboy-nya, sedang berbelas kasihan?


Ini aneh!


Budi memicingkan mata kepada rekan perempuannya itu. "Kau sedang menertawaiku?"


Raya seketika mengubah raut wajahnya. "Fitnah!" Menyadari bahwa rasa simpatinya tidak diterima dan justru malah sebaliknya, Raya pun membantah.


Akhirnya, perdebatan mereka kedua pun kembali terjadi. Berbagai seluk-beluk dunia mulai dibahas oleh mereka sekarang ini.


"Oh ya, kau keliatan capek banget. Habis gelut, ya?" Raya dengan cepat mengganti topik. "Dasar, udah tau badan kurus gitu mau sok sokan berantem."


Budi memasang wajah malas. "Ya, aku juga nggak mau bertarung, kali." Ia lalu menyambung kalimatnya, "Aku abis berantem sama Alvaro."


Deg!


Seketika alis mata Raya tetangkat. "Oh? Hari ini?" Dia lanjut bertanya, "Kau menang?"


"Ya, begitulah."


"Kalah?" Raya kembali bertanya.


Budi mengernyitkan kening. "Iya, dia yang kalah."


Ketika mendengar hal itu, tiba-tiba saja hati Raya merasa geli. Ia menggelembungkan pipi sebagai wadah untuk menampung tawa yang mungkin akan meledak dalam waktu dekat. "Pffttt ...."


Budi menengok gadis di sebelahnya dengan tatapan mata yang masih sama. "Aku udah tau kau bakal memberi reaksi begitu. Terserah deh mau percaya apa nggak."


"Hahaha! Maaf, maaf, habisnya kau ini berlagak kayak orang hebat sih." Ia mengusap air mata dengan jari telunjuk. "Tapi, hebat juga kau bisa ngalahin si Aldebaran. Nggak sia-sia aku ngajarin kamu, Muridku."


"Apaan?!" Ia mengubah ekspresi wajahnya 180 derajat. "Tapi, aku nggak begitu senang juga."


"Hah? Kenapa emangnya?" Raya bertanya keheranan.

__ADS_1


"Yah, aku mutusin buat berhenti bertarung."


Ekspresi keheranan Raya semakin menyerbak kuat. "Lah? Aneh banget. Alvaro nggak maksa atau ngancam kamu gitu, kan?"


"Nggak. Nggak, ini bukan tentang dia."


"Lah, terus?"


"Gimana, ya ... aku sendiri bingung. Apa gunanya bertarung? Sana sini cuma pukul, tendang, dan ngebuat lawan menderita. Menurutku, berantem itu cuma buang-buang waktu."


Raya menatap kedua netra teman laki-lakinya ini sembari mendengarkan setiap kata yang diungkapkan. Keluh kesah Budi dapat dimengerti. "Aku tahu itu."


"Eh?"


"Ya, dulu aku juga sepimikiran sama kamu. Aku ngerasa kalo berantem itu sama sekali nggak ada faedahnya." Ia menurunkan garis bibirnya ke arah bawah. "Tapi, kadang bertarung itu juga diperlukan buat melindungi diri. Dalam artian, melindungi harga dirimu juga."


"Apalagi, kalo ilmu bertarungmu bisa berguna buat ngebantu orang lain."


Budi terdiam sejenak. Perkataan Raya itu kembali menerjang tekadnya yang ingin berhenti bertarung. Ia merasa bingung untuk beberapa saat.


Tidak, hingga Raya memecahkan keheningan itu. "Oh ya, kau ngerasa kehilangan sesuatu nggak sih?"


"Hah?"


Budi kembali teringat kepada item keren yang ia dapat dulu. "Eh? Jaket itu ada di kamu?!" Budi mendekat. "Kenapa nggak bilang dari dulu coba? Jaket itu udah kucari-cari selama ini, tau!"


"Oh ya? Haha? Emang sepenting itu, ya?"


"Iyalah! Trus, di mana jaket itu?" Budi bertanya.


Namun, Raya justru menebar senyuman miring yang akan membuat siapapun merasa aneh. Gadis itu menatap mata Budi seraya berbicara, "Udah kubuang."


"... heh?"


Pernyataan itu pun sukses memancing amarah Budi. Ia segera mengulurkan tangan, berniat untuk menarik kerah baju Raya.


Namun, sebelum ia berhasil melakukan itu, Raya lebih dulu melancarkan sebuah serangan kaki. Gadis itu terkejut dengan reaksi Budi dan reflek berbalik menyerang.


Sebuah tendangan keras menghujam tepat ke burung Budi. Laki-laki itupun membeku sejenak, seraya memegangi 'barang berharga'-nya itu. "Uh ... masa depanku ...."


"Uhh ... sakit banget, ya?" Raya tersenyum jahil. "Maaf, aku nggak sengaja loh."

__ADS_1


"Zaman Geryeo, wiski, penjajahan... Hahahaha!" Budi mulai kehilangan kesadaran. Anak ini tanpa sadar mulai mengucap beberapa kata yang tidak jelas maksudnya.


"Hei, Bud!"


Sementara itu, dari kejauhan, Ran yang baru saja kembali dari restoran tampak tak sengaja melihat Raya dan Budi. Perempuan itupun mengernyitkan kening dan mulai berpikir bahwa ada sesuatu di antara hubungan mereka berdua.


"Aku ngerasa kehilangan masa depan." Budi mengucap asal.


"Sunat aja," balas Raya.


\=\=\=


Sementara itu, di tempat lain. Markas SMA Taran Utara. Theo dan para pentolan lainnya terlihat sedang mengobrol bersama seraya menghisap rokok yang dipegang oleh mereka. Sambil sesekali bersenda gurau, para berandal itu juga terdengar sedang membahas berbagai masalah yang terjadi pada kehidupan sekolah mereka.


Hanya hari normal di SMA Taran Utara. Tidak, hingga salah seorang anggota mereka berlarian kalang kabut bagai orang yang tengah dikejar hantu.


"Bos! Bos! Ada kabar penting!" Ia berteriak keras berulang kali dari arah luar. Sesampainya di dalam, anak dengan tatto itu mengatur napas sejenak dan mulai berbicara. "Hah ... hah ... Bos! Aku punya kabar penting!"


Theo menatap mata laki-laki itu yang terlihat sangat serius. "Hoi? Kenapa kau buru-buru gitu? Ada informasi apa untuk hari ini?"


"Ini tentang Alvaro, Bos! Alvaro baru saja dikalahkan oleh pemimpin SMA Taran Timur. Kalau nggak salah, namanya Budi!" ungkapnya mulai menjlentrehkan informasi yang ia dengar dari temannya.


Theo dan seluruh manusia yang mendengar kabar itupun sontak terkejut. Mata para berandal itu membola sempurna dan menganga karena saking kagetnya.


"Varo? Maksudmu Varo si bajing*n Taran Barat itu?" Ia bertanya sekali lagi demi memastikan segalanya.


Anak buah yang memberi informasi tadi mengangguk. "Betul, Bos!" Mulutnya pun memberi jawaban yang sama yang dapat menjelaskan semuanya saat ini.


"Seriusan? Dasar, Si Kepar*t itu, sejak kapan dia jadi lemah?" Ia membuang puntung rokok yang telah terkikis pendek itu dan menginjaknya dengan alas kaki agar apinya padam. "Dan juga ... Budi? Aku nggak yakin dengan anak itu. Masa Alvaro ngalah?"


Salah satu dari mereka menyahut, "Tapi, bukannya itu hal baik bagi kita, Bos? Kita hanya perlu merebut wilayah mereka dari Taran Timur."


"Kau benar. Kita harus cepat bergerak sebelum si Sialan Abian itu bertindak lagi." Theo beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri anggota geng pemberi informasinya itu. "Hei, kau cari informasi tentang Budi. Apapun itu, jangan sampai terlewat sedikitpun. Kalau perlu, mata-matai saja dia."


"Siap, Bos!"


"Suruh Doni pergi ke Selatan. Jangan melawan, cukup intai aja. Sisanya, bentuk tim dan berpencar untuk mengawasi wilayah yang berada di bawah pengawasan Abian!" Ia memerintah seluruh anggotanya dan mulai membagi tugas.


Laki-laki dengan tubuh kekar itu terlihat sangat serius sekarang. "Ini adalah kesempatan kita buat menguasai Taran. Pokoknya, jangan sampai gagal sedikitpun!"


"Ya!"

__ADS_1


Theo dan para geng lainnya pun mulai bergerak menuju tugasnya masing-masing. Memang sepenting itu, perebutan wilayah SMA Taran.


...~Bersambung~...


__ADS_2