Fighter System

Fighter System
Ch. 9 : Menjenguk Ibu


__ADS_3


...*****...


Setelah pertarungan itu berakhir, Reza tak lagi tampak batang hidungnya. Rumor yang beredar mengatakan bahwa Reza pindah sekolah ke luar kota karena merasa malu. Ia bahkan menyisakan bangku kosong di kelas tanpa memberi kabar apapun.


Dan orang yang menyebabkan semua ini terjadi, tidak lain adalah Budi. Berbanding terbalik dengan Reza, justru setelah berhasil memenangkan pertarungan itu, kehidupan di sekolahnya sedikit berubah secara perlahan-lahan.


Teman-teman di kelasnya mulai mengajaknya bersosialisasi. Mereka juga tak lelah mengucap terima kasih kepadanya, sebab karena Budi lah, hidup di sekolah ini menjadi lebih tentram.


Tidak ada lagi berandalan berkedok atlet yang mengganggu.


Akhirnya, kehidupan sekolah yang normal untuk Budi.


Mungkin?


Siang itu, saat jam istirahat. Budi tengah meng-scroll layar ponselnya untuk melihat-lihat apakah ada pesan yang masuk dalam aplikasi WA-nya.


Tidak ada yang istimewa seperti biasanya. Hanya ada riwayat chat terakhir bersama Arin beberapa jam lalu.


"Uhh ... bosen banget. Pengen makan!" ungkapnya mengeluh sembari menaruh kepalanya di meja.


Namun, tiba-tiba meja Budi sedikit bergetar. Hal itu berhasil menarik atensinya. Budi kembali ke posisi semula dan memperhatikan sumber suara yang membangunkannya ini.


"Huh?" Ia mendapati bahwa suara itu berasal dari aplikasi berbalas pesan. "Siapa yang ngechat?"


Eh?


Ia langsung mengubah posisi tubuhnya saat mengetahui siapa subjek yang mengirimkan pesan.


Linda, perawat dari rumah sakit tempat ibu Budi dirawat. Wanita yang sering membantu Budi dan Arin untuk mengurus ibu mereka.



Selepas membaca tuntas penjelasan dari Linda, mendadak sebuah garis lengkung terukir pada bibirnya. Hatinya merasa sangat bahagia.


Akhirnya, setelah tiga tahun lamanya!


Singkat cerita, saat pulang sekolah. Budi bergegas memasukkan semua peralatan sekolahnya dan berniat untuk segera pergi ke rumah sakit.


Akan tetapi, saat dia hendak beranjak dari kursi, seseorang datang kepadanya. Seorang gadis cantik dengan senyuman berserinya. Arin.


Sejak Budi memenangkan pertarungan, Arin pun mulai menerima Budi secara perlahan. Hubungan yang telah lama merenggang, kini kembali erat.


"Kamu udah dapet chat dari Kak Linda, Bud?" tanya Arin sembari menatap kakaknya tersebut.


Yah, meski dia sudah mulai menerima Budi. Namun nyatanya, dia masih malu untuk memanggil Budi dengan sebutan kakak. Belum terbiasa adalah alasannya.


Budi mendongak. Ia tersenyum sambil mengangguk. "Udah. Tadi waktu jam istirahat," ucapnya, "tunggu sebentar, kamu juga dikasih tau sama Kak Linda?"


Arin menaruh tangan di dagunya. "Iya. Hummm ... kalo gitu, mau berangkat bareng?" tawarnya.


Dengan senang hati, Budi mengangukkan kepala sekali lagi.

__ADS_1


Mereka berdua berjalan menuju rumah sakit yang berada cukup jauh dari pusat kota. Dengan menggunakan angkot, dalam waktu sekitar lima belas menit, mereka akhirnya tiba di bangunan putih.


Arin dan Budi berjalan bersama. Kakak beradik ini masuk ke dalam rumah sakit dan mulai melakukan beberapa tindakan seperti yang diintruksikan oleh Linda.


Setelah berjalan melalui beberapa anak tangga, akhirnya Budi dan Arin sampai di kamar tempat ibu mereka dirawat.


Krieet ...


Pintu kamar dibuka secara perlahan, menyisakan pemandangan seorang wanita keriput yang sedang terbaring lesu di atas ranjang. Arin segera berlari dan memeluk wanita itu.


"Akhirnya ibu bangun ... Arin kangen sama ibu, hiks ...." Ia tak lagi dapat menahan tangis. Dengan wajah yang tertutup rambut itu, Arin menumpahkan seluruh air mata yang telah ditahan selama ini. Gadis itu mengeratkan pelukannya terhadap wanita yang terlihat tinggal tulang tersebut.


Sementara, Budi hanya mengalihkan pandangan ke arah berlawanan. Bibirnya bergetar, tanpa sadar, bulir-bulir air mata mulai mengalir begitu saja.


Orang yang dirangkul membalas pelukan anaknya sembari tersenyum. "Maaf, ya, Rin. Ibu nggak bisa jaga kamu selama ini."


Ia mendorong pelan anaknya. Wanita berusia kepala 4 itu membelai pelan pipi Arin seraya menghapus air matanya pula. "Aduh aduh ... anak gadisku ini makin cantik aja, ya sepertinya."


"Hiks ...." Arin masih terjebak dalam isak tangis.


Sang ibu mengalihkan tatapannya kepada anak laki-laki yang sedang memunggunginya itu. Ia tersenyum, sambil berkata, "Budi, kamu nggak kangen sama ibu?"


Deg!


Budi tersentak. Ia langsung menghapus seluruh air matanya dan berbalik menatap sang mama dengan senyuman terang. "Aku kangen banget sama Ibu! Akhirnya, ibu bangun juga, hihi ...."


Senyuman tadi seketika berubah menjadi masam saat menatap wajah Budi. "Eh? Kenapa muka kamu banyak luka begitu? Kamu abis dipukuli, ya?" tanya ibunya dengan mimik wajah penuh kegelisahan.


"Ah, nggak kok, Bu. Mana ada orang yang mau mukul orang kaya aku ini," ucap Budi sambil tersenyum lebar.


Aku nggak mau ngebuat Ibu sakit lagi.


Jawaban yang diharapkan oleh Arin, tapi tidak jika dilihat dari sudut pandang Budi.


"Aahh, terus kok lebam gitu kenapa?"


Budi tertawa canggung. "Nyungsep di got, Bu hehehe ...."


"Pftt ...." Arin menahan tawa.


"Oalah hahaha! Kok bisa nyungsep di got itu gimana, sih? Hahaha!"


"Ya begitu hehe." Budi melanjutkan, "Oh ya, Bu. Ibu udah makan belum?"


Ibu Budi merespons, "Ah, belum. Tapi nggak papa kok, sebentar lagi perawat pasti datang ke sini buat nganterin makanan." Ia menambahkan, "Ada perawat wanita yang baik banget sama ibu. Sejak ibu sadar, dia orang yang selalu ngebantuin ibu."


"Eh?"


"Ah, dia juga tahu nama kalian."


"Linda!" Arin, Budi, dan ibu mereka menjawab secara bersamaan.


"Eh? Kalian kenal?"

__ADS_1


Arin menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya. "Hehe iya, Bu ... Kak Linda itu orang yang ngerawat ibu selama masa koma ini. Dia juga yang ngebantuin kita buat ngurus segala tentang rumah sakit yang kita nggak tahu."


"Oh, jadi dia baik banget, ya?" Wanita itu tersenyum. "Apapun itu, yang penting kalian baik-baik aja. Kata Linda, ibu bisa sembuh secara bertahap."


"Katanya, ada semacam pengobatan khusus begitu."


Eh?


Tok! Tok!


"Permisi ...." Dari arah dekat, suara seorang wanita terdengar mengalun di udara. Budi dan kedua perempuan itu pun menoleh ke arah suara.


Seorang wanita yang tidak asing lagi di mata mereka saat ini tengah berdiri di depan pintu dengan tangan mendorong sebuah benda berjalan berisikan makanan. Yah, dia Linda.


"Oh! Budi, kamu udah sampai?" Ia tersenyum seraya beralih menatap Arin. "Arin juga."


"Hehe ... iya, Kak." Mereka menjawab kompak.


Linda tak membuang waktu, dia segera berjongkok dan mencari-cari makanan yang dibuat oleh rumah sakit khusus untuk Ibu Budi.


Tubuh gemulai yang tampak makin elok jika dipandang dari belakang, membuat iman Budi sedikit goyah. Namun, tepukan keras Arin berhasil menyadarkannya.


"Oh, iya. Ini makan malam untuk Bu Sri. Mau saya suapi atau–"


"Biar saya saja, Kak!" Budi menyela.


"Aku aja!" Arin tidak mau kalah.


Alhasil, mereka berdua pun berdebat hanya untuk menentukan siapa yang menyuapi ibu mereka.


Akan tetapi, pada akhirnya, Budi mengalah. Ia membiarkan Arin menyuapi ibunya sambil tertawa.


Sedangkan dirinya, berdiam dengan rasa gusar dalam hati.


"Haha! Hubungan kalian sepertinya sudah membaik, ya?" ujar Linda disertai tawa kecil.


"Eh? Ah."


Linda menatap manik mata Budi. "Yah, terakhir kali kalian ke sini, Arin bersikap sangat dingin dan minim bicara. Ia bahkan bertindak seolah kau tidak ada." Dia membuat garis lengkung. "Syukurlah, akhirnya keluarga kalian kembali lagi ...."


Budi menarik seluruh kata-katanya yang sedang memangkal di mulut. Ia tersenyum seiringan dengan Linda.


"Oh iya, Bud. Sebenarnya, tujuanku datang ke sini tu buat nyampain sesuatu," jelas wanita perawat itu, "ada pemberitahuan penting dari rumah sakit."


"Oh? Apa itu, Kak?"


Linda terdiam sejenak. "Bicaranya di luar aja, yuk! Biar sekalian nyari angin segar."


Budi terpaku terheran-heran. Walau sempat kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh Linda, tapi pada akhirnya, Budi menyanggupi ajakan tersebut.


"Oke."


~Bersambung~.

__ADS_1


__ADS_2