
...\=\=\=...
Sore harinya di rumah Budi.
Budi telah bersiap dengan pakaian olahraganya. Selepas meminta izin kepada Bos dan Kirana, ia lantas segera melakukan kegiatan kedua yang telah direncanakan. Di halaman belakang sekolah, pukul tiga sore, dirinya akan menemui gadis beringas yang kemarin dimintai tolong.
Sembari berkaca di cermin, laki-laki itu tersenyum seketika. "Aku keren banget, gile!" Dia melakukan beberapa pose layaknya model yang tengah dipotret.
"Oh ya, kalau mau jalan sama cewek harus pake baju bagus ini mah. Hum ...." Budi menghentikan ekspresi anehnya terlebih dulu dan memerhatikan kaos yang dipakainya. "Kalo kaos kayak gini ... pasti nggak bisa."
Ding!
[Host! Anda bisa menggunakan item untuk membantu!]
"Item? Jaket hitam?"
[Host dapat mengecek kegunannya dalam penyimpanan]
"Oh! Aku baru ingat item itu!" Budi terpaku sejenak lalu mulai tersenyum. "Baiklah! Mari liat dulu ...." Ia menekan tombol (i) untuk mengetahui lebih lanjut mengenai item tersebut.
Ding!
[Jaket Hitam]
[Item equipment yang dapat digunakan untuk meningkatkan kekuatan dan daya tarik. Skill bertarung naik hingga 40% dan para gadis akan langsung menyukai Anda dalam pandangan pertama.
Tidak ada batas waktu dalam penggunaan. Bisa ditingkatkan menjadi item yang lebih tinggi]
"Widih, parah-parah! Kalo tau begini, kenapa aku nggak pakai waktu ngelawan Reza? Dasar sistem!" Budi merajuk, "tapi makasih deh, dengan ini, aku pasti bisa diizinin buat ikut latihan juga. Mana keren pula jaketnya."
Tok! Tok!
Pada saat bersamaan, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. "Oi, Bud! Sabunku kok habis sih? Kamu abisin, hah?!" Arin terdengar berteriak dari luar dengan suara melengking.
Oh, tentu!
Ia baru mengingat kesalahan terbesarnya itu.
"Aku pake sedikit doang tadi!" Ia membalas berteriak.
Arin yang mendengar pengakuan itu pun langsung tersulut emosi. "Heh! Gimana sih, aku mau pake tau! Sebentar lagi temen-temenku datang ke sini soalnya!" Ia menggedor-gedor pintu kayu Budi. "Lagian ini tuh sabun cewek, Bego! Keluar nggak?!"
Bukannya merasa bersalah, Budi yang sedang dalam kondisi on fire justru mengubah amarah Arin itu menjadi candaan. "Sabunmu wangi banget sih! Hihi ...."
"Bud, keluar cepet! Kau mau ke mana sih? Tumben banget mandi jam segini?!"
Ceklek.
__ADS_1
Budi membuka pintu kamarnya sesaat setelah mendengar pertanyaan itu. Kepala dengan rambut yang mengkilap karena pomade itu menampakkan diri dari balik pintu. Laki-laki itu tersenyum sebagai jawaban tanpa kata-katanya. Ia lalu menambahkan, "Aku mau belajar silat!"
"Hah?!" Arin terkaget-kaget bukan kepalang.
Budi, belajar silat? Mana mungkin!
"Kau? Belajar silat? Pftt ... bwahaha!" Arin tertawa terpingkal-pingkal, menyisakan ekspresi keheranan di wajah Budi. "Hei, aneh banget. Sejak kapan kau jadi rajin begini? Dan juga ... kalo mau latihan silat, kenapa malah dandan kayak gitu?!"
"Uh ... itu, ada deh. Aku nggak bisa ngejelasin ke kamu, tapi intinya aku butuh dandan buat hari ini. Gimana? Aku ganteng banget, kan?" Budi dengan PD-nya membanggakan diri.
"Uh ... mau muntah!"
"Dih. Jahat, nggak tau ah. Aku lagi buru-buru nih, musti berangkat sekarang juga. Takut dimarahin soalnya," ucap Budi seraya melirik jam tangan hitamnya. "Kalo temen kamu ke sini, sediain cemilan juga. Aku udah siapin di laci kemaren."
"Nggak usah diajarin juga aku udah tau," tutur Arin, "wait ... kamu kok tau kalo aku punya cemilan di rak? Itu kan punyaku!"
"Aku makan kemarin, hehe ...."
"Budiiiii!"
...\=\=\=\=...
Budi menyegerakan langkah menuju sekolah, sebab jam saat ini telah menunjuk pukul 3 lebih. Meski dirinya memang sering terlambat, tapi baginya, yang kali ini berbeda. Ia tidak mau menerima pukulan keras lagi karena kecerobohannya.
Dia benar-benar takut pada Raya!
"Sial, semoga Raya nggak marah. Kalo dipukul lagi gimana weh? Aku belum siap!" Mulut Budi komat-kamit selama perjalanan. Berbagai ungkapan rasa takut menjadi musik yang mendampingi telinganya saar ini. "Aku harus cepat!"
Budi menghampirinya dengan napas tersenggal. "Hahh ... hahh ... maaf, aku telat, Ray."
Tidak terdengar jawaban dari Raya. Hanya pemandangan seorang gadis SMA dengan lolipop yang mendominasi batas mata Budi. "Raya?" Ia memberanikan diri untuk menegur meski jauh dalam dirinya, ia sangat takut.
Raya berdiri, masih dengan mulut yang tetap membisu. Ia menatap Budi dengan sorot netra tajam. Membuat manusia berjakun itu terpaksa meneguk ludah. Budi bergidik ngeri.
Jika ditanya siapa yang lebih menyeramkan antara hantu dan Raya, maka Budi pasti dengan cepat dan yakin akan memilih opsi kedua!
"Lima belas menit. Kamu, telat lima belas menit." Raya menarik lolipop kepapa merahnya dan mulai berbicara. "Huh ... mau marah, tapi penampilanmu bikin ngaka–Ah!"
"Raya?"
Ding!
[Efek pertama dari jaket diaktifkan! Membangkitkan hasrat suka dari gadis di dekat Host! Daya tarik meningkat tinggi!]
Apa–apa ini?!
"Eh? Ke-kenapa ...." Raya memandangi mata Budi dengan wajah yang memerah padam. Tiba-tiba saja, dalam pandangan matanya, muncul gambaran Budi yang berubah menjadi sangat tampan. Hatinya seolah tergerak untuk segera memeluk laki-laki di depannya. "A-Apa-apaan ini?!"
Tak mau semakin terjebak dalam perasaan aneh ini, Raya segera membuang wajah dari hadapan Budi. "U-udah sana! Ayo cepet ke padepokan! Takut kesorean."
__ADS_1
"A-Ah, oke!"
Benar, alasan kenapa Budi sampai rela dimarahi karena menggunakan sabun wangi Arin dan menata rambut dengan pomade adalah karena ini. Sebenarnya, setelah Budi menyetujui kesepakatan timbal-balik kemarin, Raya masih belum menyelesaikan seluruh kata-katanya.
Kemarin, di sekolah. Setelah mendengar pengakuan persetujuan dari Budi, Raya mulai menjelaskan segalanya.
"Bud, bayarannya kapan?" tanya Raya dengan ekspresi penuh kepuasan. Gadis itu menunggu jawaban dari Budi yang jelas akan kelabakan.
"Besok deh, aku nggak punya kalo sekarang. Berapa emangnya?"
Raya diam sejenak. "Hum ... aku nggak ngomong kalau kamu harus bayar uang lho, ya." Gadis itu tersenyum jahil.
"Lah? Terus apa?"
"Kamu harus bayar dengan tubuhmu."
Hah?!
Semua yang mendengarnya pun terkejut, terutama Budi yang mendengarnya dari distansi dekat. "Tu-tubuh? Maksudmu? Kayak nganu?"
Raya menebar pandangan jijik. "Eyhh ... dasar mesum sialan! Hadeh, jangan mengartikan kata dari perspektif satu sudut pandang aja ...." Raya semakin mendekat ke arah Budi.
A-Apa, sih?!
"... Bud, besok kita bakal latihan di padepokan milik ayahku. Jadi, aku minta kamu buat dandan dan lakukan apapun itu biar terlihat sedikit tampan, kurasa ...." Perempuan yang saat ini menjadi ikon sekolah SMA Taran Timur itu berbisik di telinga Budi.
"A-Apa?!"
Ia meminta Budi untuk berdandan! Dan ... alasan mengapa Raya meminta hal itu, tentu di luar keterkaitan dengan masalah Budi yang ingin belajar silat.
Ini, tentang dua orang yang akan saling membantu sama lain!
Raya membantu mengajari Budi, dan Budi sendiri akan dituntut untuk membantu Raya.
Membantu, dalam masalah yang sangat di luar dugaan.
...~Bersambung~...
...\=\=\=...
Preview eps selanjutnya :
"Dia ini pacarku, Yah."
"A-Apa?!"
"Kunci untuk melawan taekwondo adalah jiu-jitsu, kenapa kau malah belajar silat? Bukannya kau udah tau itu, ya?"
"Aku nggak bilang cuma pake silat tuh. Alasanku belajar teknik itu, tentu karena aku punya cara sendiri."
__ADS_1
"Kau ini tinju apa taekwondo?"
"Aku? Nggak, aku bisa menguasai semuanya!"