Fighter System

Fighter System
Ch. 16 : Pulang Terlambat


__ADS_3


...****...


Selepas mengobrol bersama dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Budi memutuskan untuk pulang.


"Makasih buat semuanya, Ran!" teriak Budi sembari melambai-lambaikan tangan di udara. Menghiasi wajah dengan senyuman manis hingga membuat gadis yang menatapnya tersipu malu. "Titip salam buat Riyan sama ayah ibumu, ya!"


Ran membalas lambaian tangan tersebut. "Iya!"


Sore itu, di kala matahari mulai membenamkan diri dari hamparan langit, Budi berjalan lunglai. Ia melirik 4 digit angka di jam analognya. Susunan angka yang sangat tidak diharapkan muncul di sana.


"Udah sore banget, aissh ... pasti Arin marah nanti!" Budi segera melajukan larinya. Ia panik bukan kepalang, membayangkan ekspresi adiknya saat ini. Namun, perasannya langsung berubah saat mengingat bahwa saat ini ia telah memiliki nomor ponsel dari cewek yang sangat ia sukai. "Tapi nggak papa sih. Beruntung banget bisa chat-an sama Kirana, fufufufu ...."


"Nanti tanyain dia udah makan belum, aaahh~!" Ia semakin bersorak girang dalam perjalanan pulang.


Beberapa menit kemudian, langit semakin menggelap. Untungnya, Budi berhasil tiba di rumah sebelum bulan muncul. Dia lantas bergegas membuka sepatunya dan berniat mencari Arin. Saking terburu-burunya, laki-laki itu sampai tidak memedulikan fakta bahwa ia nyaris terjatuh saat ini.

__ADS_1


Pada saat bersamaan, seorang gadis mengejutkan pandangannya. Sepasang paha mulus nan elok menutupi kapasitas pandang kedua mata Budi. "Eh?" Merasa (kurang) nyaman, laki-laki itupun mendongak demi memastikan siapakah gerangan yang berada di depannya saat ini.


Deg!


Yah, Arin dengan senyuman mengerikannya adalah hal yang pertama kali menyambut Budi. Gadis itu merunduk–menatap tajam Budi sembari memposisikan kedua tangan berada di depan dada. "Kamu kemana aja, kok lama banget ...?" tanya Arin dengan suara lirih.


Atmosfer aneh seketika muncul. Entah mengapa, Budi merasakan aura-aura mengerikan dari sisi adik perempuannya tersebut. Menyadari dirinya sedang dalam keadaan bahaya, Budi spontan mengalihkan fokus matanya ke arah lain.


"A-Anu, aku tadi kan udah bilang, aku mau kerja kelompok bareng temen ...," jawabnya gugup, "... dan kita selesainya lama. Jadi, ya gitu ...."


Tidak terdengar respons apapun. Hanya helaan napas kekesalan yang mendominasi pendengaran. "Hahh ...." Arin membuang napas berat. "Ya walau begitupun, seenggaknya tetep ngabarin aku dong. Biar aku juga nggak khawatir. Lha kamu, enggak! Ditelepon berkali-kali nggak diangkat, dasar!"


"Iya, Dasar! Coba cek hp-mu! Aku udah telepon berkali-kali."


Mendengar ucapan Arin, Budi pun segera mengeluarkan ponsel hitamnya yang sedari tadi ia benamkan di dalam tas. Layar ponsel dinyalakan, beberapa notifikasi dari aplikasi bawaan bergambar telepon tampak memenuhi bar karakter.


15 panggilan tak terjawab.

__ADS_1


Glek.


"Ehh ... iya loh! Hahaha! Nada deringnya ku nonaktifkan sih. Jadi nggak kedengeran deh," dalihnya sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepala.


Mampus aku ...


"Bodo amat ah! Aku udah buat makan malam, ayo cepat makan sebelum jadi dingin!" ajak Arin lalu berjalan mendahului Budi.


"Hehe ... oke deh," tanggapnya kemudian berjalan mengikuti Arin menuju meja makan.


Kakak beradik ini mengakhiri hari yang melelahkan dengan makanan yang tersaji di atas meja makan. Semangkuk mie instan kuah menjadi hidangan utama yang menjadi andalan Arin.


Namun, meski begitu, Budi sama sekali tidak mempermasalahkan masalah ini. Karena ia pikir, apapun yang dibuat oleh Arin–adikya pasti akan enak.


Di sisi lain, terdengar suara ponsel berdering.


Nama 'Kirana' dengan emoji hati yang berada pada akhir nama, mengirimkan sebuah pesan.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2