Fighter System

Fighter System
Ch. 7 : Bertarung Melawan Reza (Part 1)


__ADS_3


...*****...


Apa yang kalian pikirkan pertama kali saat mendengar istilah 'Tinju'?


Salah satu martial arts yang paling gampang dikuasai? Hanya mengandalkan pukulan acak?


Salah!


Tinju merupakan martial art yang memiliki banyak gaya dan teknik. Meski kombinasi serangan dasar dalam tinju memang mudah untuk dikuasai, tetapi dalam kenyataannya, semua itu tidak akan berpengaruh jika seseorang beradu dalam ring.


Seorang presenter pernah bertanya kepada beberapa atlet tinju pro mengenai masalah ini, dan mereka semua kompak menjawab, "Lie!"


Dalam kenyataannya, tinju bukan hanya tentang menyerang lawan dengan kombinasi dasar. Tentu, karena cara ini hanyalah cara seorang pemula dalam tinju. Agar dapat memenangkan pertarungan, para boxer dituntut untuk menguasai beberapa teknik tersembunyi.


...***...


Pagi itu, Budi dan Reza berdiri dengan posisi saling berhadapan pada bagian belakang kelas. Keduanya saling bertukar tatapan tajam. Tidak ada suara yang terdengar di kelas ini. Sunyi, senyap, tak ada satupun dari mereka yang berani melerai. Hanya tatapan keheranan yang tertuju kepada mereka berdua.


"Hei-hei, ada yang berantem di kelas sebelah!" teriak seorang laki-laki dari kelas sebelah, memberi tahu kepada teman-temannya mengenai hal yang dia lihat.


Dalam waktu singkat, kabar itu menyebar cepat. Hampir seluruh siswa di sekolah ini bergerak bersamaan menuju kelas tempat Budi berpijak. Tak peduli, meski mereka kelas 3 atau 1 sekalipun. Kabar kurang mengenakkan inipun akhirnya sampai ke telinga Arin.


Ia terkejut saat mendengar bahwa Budi dan Reza akan bertarung sekarang.


Ini di luar dugaannya!


Dengan langkah terburu-buru, gadis itu berlari melewati kerumunan orang-orang yang penasaran. Ia bahkan meninggalkan teman-temannya di kelas.


Kenapa harus sekarang? batin Arin sambil mengepalkan tangan.


Sementara itu, pertarungan dimulai. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Reza langsung melesat maju ke arah Budi. Ia melakukan beberapa step dan menempatkan tubuhnya dalam posisi yang cukup dekat dengan Budi.


"Hah?


Woossh!


Sebuah pukulan tiba-tiba berhasil melesat sempurna. Namun, beruntungnya, Budi sukses menahan pukulan tersebut. Dengan dua tangan yang menyilang di depan dada, anak itu dapat menghalangi akses masuk pukulan mengerikan Reza.


"Hei, ternyata kau udah bersiap, ya? Hebat juga," bisik Reza di sela-sela pertarungan, "tapi ... sayang, hari ini aku yang bakal menang."


Mendapati bahwa kedua tangan Budi masih dalam posisi melindungi dada, Reza pun tak ingin menyia-nyiakannya. Wajah tanpa penghalang yang sudah ada di depan mata, sasaran empuk bagi siapapun yang mengenal tinju.


Reza melepaskan pukulan straight ke arah wajah Budi. Namun, tanpa diduga, Budi justru tersenyum miring.


"Oh, ternyata kau ini Infighter, ya?" lirih Budi.


"Hah?!"


"Dwi chagi!" Budi melepaskan sebuah tendangan lurus ke belakang. Tendangan tadi membuat Reza terpukul mundur untuk sesaat.


"Tempramen yang tinggi, serangan yang agresif. Guruku bilang, itu ciri-ciri infighter. Jadi, kau ini infighter, benar?"


Reza terpaku sejenak. "Hei? Sejak kapan kau tahu tentang infighter segala, hah?!" sinisnya. "Lagian, emang kenapa kalau aku infighter? Apa kamu takut sama tipe kaya gini? Pftt ...."

__ADS_1


Budi menghela napas. Anak itu memasang kuda-kuda tinju yang siap bertarung. "Kenapa ...? Kenapa dari sekian banyak gaya, kamu harus milih infighter?" tanyanya, lalu melanjutkan, "... kan jadi gampang."


Langkah awal untuk memenangkan pertarungan melawan petinju adalah menentukan gaya lawan!


Ada banyak gaya dalam tinju. Contohnya, out-boxer, swarmer, infighter, dan lainnya. Setiap gaya memiliki ciri khas tersendiri serta cara menyerang yang berbeda-beda pula, tapi, biasanya, para petarung jalanan akan memilih style infighter atau slugger dan lalu mengkombinasikannya dengan teknik bertarung lain.


Dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan cara memancing emosi lawan. Buat lawan emosi dan lihat reaksinya. Jika dia menyerang setelahnya, maka kemungkinan besar orang itu menggunakan gaya infighter.


Lalu, setelah mengetahui gaya lawan, mari lanjut ke langkah kedua. Cara menumbangkan seorang petinju!


Gunakan teknik kombinasi dasar!


Kembali lagi kepada Budi. Berbeda dengan tadi, kali ini dia tampak sangat siap. Mata kecilnya menatap tajam Reza yang saat ini sedang terdiam.


"Cih. Hahaha .... Hei, apa yang terjadi padamu selama dua hari ini? Apa rasa takut menggerogoti akal sehatmu? Hahaha! Dasar, kalo ngomong itu dipikir-pikir dulu, Sialan! Aku ini juara turnamen tinju!"


Budi melakukan step yang membuat posisinya menempel Reza. "Calf kick!" Sebuah tendangan calf diluncurkan cepat.


Namun, serangan awal tidak berkesan.


"Calf kick? Hei, kayanya kamu emang udah siap-siap banyak selama dua hari ini."


"Pukulan jab!" Budi lalu melepaskan jab lurus.


Reza sudah menduga hal itu. Ia telah bersiap dengan pertahanannya, satu detik sebelum pukulan jab dilayangkan.


Meskipun dirinya telah mengetahui bahwa serangannya telah dibaca lawan, tetapi Budi enggan mengendurkan tempo serangannya. Ia terus melancarkan pukulan dan tendangan yang sama hingga membuat Reza terpojok.


"Heh, liat! Budi bisa ngebuat Reza keteteran! Wah kalo gini sih, jadi seru!"


Karena merasa sangat kesal, dia pun mulai keluar dari posisi bertahan. Anak berandal itu melepaskan tendangan menyamping dan tepat mengenai pinggang samping lawan.


Serangan Budi pun terhenti seketika. Ia terdiam seraya memegangi bagian yang terkena tendangan.


Infighter!


Gaya tinju yang gigih dan agresif. Akan bergerak menyerang secepat kilat. Tak peduli siapapun lawannya.


Para petarung bergaya infighter memang sangat berbahaya.


Pada saat seperti ini, Reza tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan. Dia melepaskan jab dan lalu diikuti pukulan straight. Serangan-serangan yang dilepaskan tepat mengenai wajah Budi.


Jangan biarkan mereka terlarut dalam tempo menyerang yang nyaman!


Orang-orang yang menyaksikan seketika bergidik ngeri. Pukulan Reza yang dijalari oleh tenaga dan amarah mendarat tepat pada tempat yang dikehendaki.


Alhasil, inilah yang terjadi.


Atau kau akan mati!


Budi berhenti bergerak. Tetesan cairan merah keluar dari hidungnya. Warna ungu bekas lebam menghiasi mata dan bagian ujung bibirnya.


Hanya dengan beberapa serangan, Budi langsung mengerti mengapa Reza sangat disegani oleh semua orang. Ia mengatur napas, pandangannya sedikit kabur.


Seluruh rasa aneh berkecambuk di dalam tubuhnya.

__ADS_1


Namun, Reza tampak tak peduli. Ia bergerak maju dan melakukan beberapa step yang diikuti oleh ancang-ancang pukulan.


Pukulan straight? Ah, ternyata benar.


Budi terdiam sembari menatap pukulan Reza yang telah berada tepat di wajahnya.


Braaak!


Seiringan dengan tenaga yang mengenai wajah, tubuh Budi terpelanting jauh dan akhirnya terkapar di lantai putih. Dengan darah yang masih terus mengucur di hidungnya.


"BUDI!" Arin sontak berteriak keras. Ia bergegas menghampiri Budi yang telah tumbang itu.


Ia membantah kalimatnya sendiri. Arin tak peduli meski semua orang memicingkan mata kepadanya. Dia tak menghiraukan apa yang mereka semua pikirkan.


"Bud, udah! Aku udah bilang, kan? Nggak usah dilanjutin lagi!" Arin berteriak histeris. Menggambarkan betapa khawatirnya dia saat ini.


"Hei, kenapa kamu ngelindungin Budi terus sih, Rin? Emang dia siapamu?" tanya Reza.


Arin mengepalkan tangan. Ia memandangi orang di dekatnya dengan sorot mata tajam. "Aku adiknya! Emang kenapa?!" pekik Arin membuat semua orang terkejut, "cukup ... cukup, Za! Kenapa kamu jahat banget sih sama Budi? Emang dia salah apa sama kamu, hah?!"


"Hei ...."


"Bodo amat! Pokoknya, aku minta, jangan ganggu Budi lagi mulai dari sekarang! Atau aku bakal–"


"Atau apa? Kau mau babak belur kaya kakakmu, huh?" pangkas Reza.


Deg!


Mulut Arin mendadak kehilangan kata-kata.


"Dasar cewek rendahan! Kemarin dia udah nerima perjanjian, jadi siapapun yang kalah, harus nerima konsekuensinya."


Kalimat itu membuat Arin benar-benar tersudut. Ia tidak bisa melawan lagi.


"Apa? Kok diem aja? Tadi nyolot kaya Bu Sun ...."


Cih, sialan! batin Arin sembari merunduk karena malu.


Namun, tiba-tiba sebuah tangan memegang bahunya. Disertai oleh suara kecil yang mengalun. "Rin, udah ... kamu jangan ngelawan Reza lagi ...," ucap Budi lirih.


"Hah?!"


Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan dan mulai bangkit perlahan. "Lagian, aku juga masih belum kalah ...."


"Bud, jangan–"


"Hei, Bangs*t! Kau pikir aku udah kalah cuma gara-gara jatuh?" Budi memasang kuda-kuda siap bertarung. "Tadi itu kamu cuma beruntung aja! Ayo mulai pertarungan yang sebenarnya sekarang!"


Petarung infighter memang berbahaya, tapi bukan berarti tidak ada cara untuk mengalahkannya.


Di saat lawan telah terperdaya. Di situlah jalan kemenangan terbuka untukmu!


Cara menumbangkan petinju bergaya infighter yang sebenarnya adalah ....


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2