
...*****...
Selepas pertarungan sengit kemarin berakhir, reputasi Budi di sekolah semakin meningkat. Ia pun perlahan menjadi seorang pribadi yang supel. Disertai dengan Raya yang juga menerima perubahan hidup.
Teman-temannya tak lagi berani mengucap kasar kepadanya lagi. Membuat senyuman tipis kembali terukir di atas bibirnya.
Sementara itu, di depan restoran di jalan mawar. Budi berdiri sembari menatap bangunan dengan gaya dominan tempo dulu itu dengan tatapan kosong. Sebab, hari ini adalah hari di mana Ran akan memperkenalkannya kepada Sang Boss.
Ia gugup, sangat gugup. Karena sebelumnya, Budi tidak pernah bekerja satu kali pun. Mengakibatkan rasa khawatir yang cukup mengganggu.
"Oh, kau udah datang, Bud?" Kirana dengan seragam restorannya datang menghampiri Budi. Gadis itu mendekat kepada teman masa kecilnya seraya menarik pergelangan tangannya. "Ayo!" ajaknya sembari menarik tubuh anak laki-laki itu.
Ran membawa Budi menuju sang boss yang akan menentukan pegawai baru ini diterima atau tidak.
Di depan meja besar, Ran dan Budi berdiri bersebelahan. Saat ini, mereka berdua tengah berhadapan langsung dengan seorang pria yang sedang terduduk di kursinya.
"Oh, jadi ini karwayan baru yang kau bicarakan, Ran?" tanya si boss seraya menggoyang-goyangkan batang rokok yang tersemat pada sela jarinya.
Ran mengangguk spontan sambil tersenyum. "Iya, Bos. Namanya Budi, dia ini orangnya cekatan. Jadi, dia bisa bekerja lebih cepat dari yang lainnya!" teriak gadis itu melebih-lebihkan supaya atasannya mau menerima orang yang dia rekomendasikan.
Sedangkan Budi, terdiam dengan senyuman tertekan.
__ADS_1
Cekatan apanya?
Setelah mendengar penjelasan Ran, si bos kemudian menutup mulut sejenak. Ia mengangkat batang rokoknya sembari menghisapnya perlahan. Asap-asap putih yang mengebul seketika menutupi wajah brewoknya.
"Haishh ...." Ia menyingkirkan abu rokok di atas asbak. "Bukannya aku nggak percaya sama orangmu, Ran. Cuma ... lihat anak ini!" Dia menatap Budi.
Pandangan Ran pun langsung tertarik padanya juga.
"Apa yang bisa diharapkan dari anak krempeng kaya dia? Udah kurus, nggak cakep-cakep amat pula. Dia pasti bakal kesusahan kalo kerja di dapur. Dan yah, dia jelas nggak bisa jadi orang yang jaga kasir." Pria itu kembali melanjutkan, "maaf, tapi kayanya nggak ada tempat buat anak muda ini."
Ran yang merasa kesal dengan ucapan bos-nya, spontan mengepalkan tangan. "Bos! Jangan hanya melihat dia dari penampilan luar saja! Budi ini memiliki banyak kemampuan, kau tahu?" Perempuan cantik ini membantah keraguan atasannya.
Tak ingin lagi mendengar ocehan cempreng dari cewek di depannya, sanh bos pun akhirnya memilih pasrah. "Ya udah, ya udah. Bocah ini–"
"Oh, ya maaf. Maksudnya, Bu-di, boleh kerja di sini mulai besok. Untuk tugas, kau bisa menjadi pelayan, oke?" tuturnya. "Karena karyawan lama kami memutuskan untuk mengundurkan diri untuk alasan yang kurang jelas. Kau mau, kan?"
Ketika mendengar itu, Budi dan Ran langsung tersenyum bahagia. Terutama laki-laki yang sedaritadi terdiam. "Woaaah ... be-beneran, Pak?!" Ia tersenyum senang.
"Iya," jawabnya.
"Be-beneran?"
"Iya."
__ADS_1
"Be-beneran, kan, Pak?"
"Bud, kamu mau saya pecat?"
Budi langsung terdiam. Ia menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya seraya tertawa kecil. "Hehehe ... maaf, Pak!" Ia lalu menatap Kirana yang juga sedang tersenyum di sampingnya.
"Ya udah, Bud. Kamu bisa mulai kerja di restoran ini! Besok, aku bakal ngajarin kamu cara jadi pelayan yang benar," ucap Ran penuh antusias.
"I-Iya!" Budi pun membalasnya dengan teriakan penuh antusias pula.
Hari itu, Budi berhasil mencapai tujuan hidupnya yang kedua.
Namun, apakah hidupnya akan baik-baik saja?
Tidak!
Karena, jalan terjal yang telah diciptakan olehnya baru saja akan dimulai.
Dari kejauhan, seorang laki-laki mengenakan jaket hitam tampak sedang bersandar di salah satu pilar bangunan. Sejak beberapa menit lalu, ia sudah tampak berdiri seorang diri di sana. Sembari menghisap asap rokok, ia tersenyum menyeringai.
"Ketemu," ucapnya lirih.
~Bersambung~
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya guys ya!