
Semilir angin yang berasa dingin setiap detiknya, seolah memaksa Budi untuk kembali mengenakan jaket hitamnya. Ia bangun terlambat pagi ini, hingga membuat Arin kesal dan meninggalkannya sendiri di rumah. Alasan jelas yang membuat Budi sampai bangun kesiangan adalah karena Ran.
Selepas makan malam kemarin, Budi tidak langsung tidur. Deretan pesan sopan dari Ran sukses membuatnya mengesampingkan rasa kantuk yang sebenarnya telah menjalari tubuhnya.
Satu menit? 30 menit? 1 jam? Tidak! Ia berbalas pesan bersama Ran selama 2 jam lebih!
Arin juga terheran-heran ketika menatap tingkah laku kakaknya yang tiba-tiba menjadi aneh. Tertawa sendiri dari balik tembok kamar, bak manusia normal yang kehilangan kewarasannya.
"Uhh ... masih belum terlambat. Aku harus cepat!" Budi melirik jam analognya. Ia lalu mempercepat langkah kakinya berirama dengan deru napas yang semakin cepat.
Sesampainya di sekolah, ia mulai menormalisasikan segalanya. Budi mengatur napas kembali pada tempo biasanya.
Namun, sepertinya ada yang aneh hari ini. Budi berpikir demikian saat melihat para murid yang saat itu masih berkerumun di depan kelas, mendadak memicingkan mata kepadanya. Ia seketika menjadi pusat perhatian.
"Serem ...," gumamnya pelan. Dia lalu berjalan melalui lorong dengan langkah penuh keraguan.
Belum sampai di kelas, Budi sudah lebih dulu merasakan keanehan. Semua siswa menatap ke arahnya tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Yah, sampai gadis itu tiba.
"Bud! Bud! Apa maksudnya itu?" Arin berteriak dari kejauhan. "Hahh ... hahh ... kamu ... hahh ... kamu berantem sama anak SMA Taran Barat?" Masih dengan napas tersenggal, gadis itu bertanya.
Budi masih belum bisa mencerna situasi ini sepenuhnya. "Tenang dulu, Rin! Hei ... coba jelasin satu-satu ...!" pinta laki-laki itu sembari memegang kedua bahu Arin.
Namun, reaksi yang ditunjukkan sangat jauh berbeda dari pikirannya. "Nggak bisa! Nggak bisa tenang! Anak SMA Taran Barat udah marah sama kita. Mereka bahkan mukulin senior kita! Dan ... mereka juga bakal ngincer kamu! Sebenernya–aarghhhh ... kamu itu ngapain sih, Bud? Kenapa sampe berantem sama mereka?!"
"SMA Taran Barat? Kamu ngomong ap–" Budi terhenti seketika. "Tunggu, SMA Taran Barat ...."
"Aku emang ngelawan mereka kemarin. Kenapa emangnya?" Ia bertanya polos. Seolah tidak ada yang akan terjadi di masa depan.
Membangkitkan emosi bergejolak dari sisi Arin. "Kenapa? Kamu tanya kenapa? Hei, Bud! Kamu tau ngg–" Arin hendak memarahi kakaknya itu sekarang, akan tetapi, ia teringat bahwa dirinya sedang berada di tengah keramaian.
Atensi orang-orang tertarik kepada mereka berdua.
"Grhggh! Bud, ayo ikut aku!" Arin menarik tangan Budi secara paksa, membawanya menjauh dari kerumunan manusia.
__ADS_1
Budi tidak bisa melakukan apapun selain hanya mengikuti kemana Arin akan membawanya pergi.
Di luar dugaan, gadis itu justru membawa Budi ke sebuah ruangan yang terletak di bagian paling ujung sekolah. Sekilas, sepasang mata Budi menangkap tulisan "Geng Tarantim" terpampang di atas pintu ruangan tersebut.
Pintu dibuka, pemandangan beberapa laki-laki berperawakan berandal pun mendominasi pandangan. Kedatangan Arin memancing atensi mereka.
Arin menghentikan langkahnya, gadis itu lalu melepas genggaman tangannya yang sedari tadi mencengkram pergelangan Budi.
"Geng Tarantim?!" Budi terkejut. Ia lantas berbisik di telinga Arin, "Hei ... kenapa kau malah membawaku kemari?"
"Diam! Ini semua terjadi gara-gara ulahmu." Arin mengernyitkan kening dan menatap sinis kakak lakinya tersebut.
Budi mengangkat alisnya, ia sangat terkejut. Laki-laki itu masih belum mengerti alasan kenapa mereka sangat marah saat mengetahui kebenaran bahwa dirinya memang melawan SMA Taran Barat.
~Bersambung~
Adegan gelud akan hadir sebentar lagi, stay tune okie~
__ADS_1