
...****...
Budi meraih tangan Raya dan berdiri secara perlahan. Rasa nyeri di bahunya masih membekas kuat dan membuatnya hilang akal sejenak. "Hah ... hah ...." Ia mengatur deru napasnya yang perlahan mulai terlarut dalam tempo kelelahan.
"Cara melawan taekwondo sebenarnya gampang aja. Syaratnya, kamu harus bisa nguasai salah satu teknik grappling jiu-jitsu. Contohnya, Gi-choke!" Raya memberi tahu berbagai ilmu baru mengenai teknik mematikan yang dibicarakan.
"Gi-choke ini emang cocok banget buat mengakhiri taekwondo dalam pertarungan. Seperti yang kubilang, hakikatnya ini sebagai 'Finishing' dalam pertarungan. Jadi, tentu saja kau harus berhasil dalam satu kali percobaan," sambungnya melengkapi penjelasan sebelumnya. "Kesimpulannya, kalau gagal dalam sekali percobaan, kau kalah."
Budi mengangkat alisnya pada saat itu juga, dirinya terkejut bukan kepalang. "Kalah? Hanya karena itu?" Ia menanyakan apa yang mengganjal di hatinya saat ini. "Seriusan, Ray?"
Raya mengangguk. "Memang seburuk itu. Karena jika kau gagal melakukan grappling di akhir, maka otomatis lawan akan segera keluar dari tekanan dan berbalas menyerang."
"Tapi, kita tinggal ulangi lagi step itu dan grappling lagi, kan?"
Tatkala mendengar hal itu, Raya menghela napas. Gadis tersebut tampak mulai lelah menjelaskan teknik kepada anak ini.
"Ya mana bisa, Bodoh! Coba kau pikir, kalau kau gagal pakai Gi-choke di percobaan awal, maka lawan dengan sendirinya akan tahu bahwa kau bergerak karena ingin mengakhirinya dengan teknik grappling. Dia akan mengantisipasinya kemudian, membuatmu nggak bisa lagi mengulangi cara yang sama."
"Hum ... bener juga, sih." Budi berpikir sesaat. "Lalu, itu artinya, aku harus berhasil melakukan grappling, ya?" lanjutnya.
Raya menganggukkan kepala dua kali. "Tapi, ingat! Grappling cuma bisa dilakukan sebagai pengakhir dan bukannya step awal." Raya menambahkan, "Inilah bagian yang sulit, karena jika lawan taekwondo-mu lebih kuat, maka akan sangat sulit untuk menjatuhkan badannya. Jangankan menjatuhkan badan, bahkan mendekat pun kecil kemungkinannya."
"Terus, gimana dong?"
Raya menyeringai lebar seraya mengangkat satu tangan di depan dada. "Tackle!"
"Heh?"
"Tackle! Bukannya kau dulu pernah mengalahkan Reza pakai tackle?" Raya berbalik tanya.
"Eh? Kau tahu itu?"
Raya memutar bola matanya sekali lagi. "Ya, waktu itu cuma kebetulan lewat sih. Aku kira kau waktu itu cuma gelut main-main. Soalnya, ngeliat badanmu sama kemampuannya Reza, jauh banget nggak sih? Kayak langit dan bumi," tuturnya, "aku kira kau bakal kalah waktu itu. Tapi, kau berhasil ternyata."
Budi menyipitkan mata dan menunjukkan ekspresi wajah malas. "Lalu, kenapa kau nggak menolong waktu itu? Dasar teman laknat!"
"Eh? Sejak kapan kita temenan?" Raya tersenyum jahil. "Hahaha! Balik lagi ke topik sesungguhnya, aku nggak tau caramu waktu itu. Tapi, jujur aja, tackle-mu keren. Kau berhasil ngejatuhin Reza, itu artinya kau juga udah tau cara melakukan tackle yang bener, kan?"
"Ah ...."
Aku cuma nurut sistem doang, loh!
Budi menjawab, "Ah, tau kok! Tackle itu menangkap betis lawan, kan?"
Saat itu, mimik wajah Raya berubah 180 derajat. "Serius? Kau cuma tahu itu doang?"
"Y-Ya! Tackle itu kena betis ... eh? Atau paha, ya?" Ia menjawab sekali lagi, tapi dengan perasaan ragu yang memenuhi hatinya.
Raya semakin memicingkan mata saat mendengar jawaban itu. Budi yang ditatap pun merasa bahwa dirinya telah melakukan kesalahan.
Saat itu, ia melakukan tackle secara spontan karena dia dibekali kemampuan tackle oleh sistem.
Sistem, bantu aku!
Ding!
__ADS_1
[Host perlu membayar 50 poin sistem untuk setiap tips, apa Host yakin?]
[Ya/Tidak]
Emangnya fitur tips bisa bantu? Masa bodoh, deh.
"Y-Ya!"
[Tips dibuka! Memindai jawaban dari pertanyaan]
[Tackle!
Teknik yang digunakan oleh para petarung untuk menumbangkan tubuh lawan!
Perkenaannya adalah Hamstring di belakang lutut lawan. Jika sukses mengenai bagian itu, siapapun pasti akan ambruk!]
"Hamstring!" Budi memekik keras ketika berhasil mengetahui jawaban dari pertanyaannya. "Kunci untuk membuat lawan jatuh adalah mengenai bagian hamstring di belakang lutut lawan. Jika sukses mengenai bagian itu, siapapun pasti akan ambruk! Haha!"
"Aneh, tiba-tiba bisa jawab. Tadi keliatan bingung, tuh?" Raya masih memertahankan ekspresi interogasinya.
"Aku cuma pura-pura tadi."
Gadis itu menatap Budi dengan sorot mata keheranan. "Ya, bodo amat ah! Balik ke permasalahan." Dia segera mengganti topik pembicaraan pada saat itu juga. "Kau udah tau cara ngelakuin tackle, jadi ayo kita mulai ke bagian praktek." Raya bersiap dengan ancang-ancang aneh.
Posisi kaki yang lebar, tangan di depan dada serta wajah ganasnya membuat Budi seketika bergidik ngeri. Raya sangat mirip dengan seekor harimau buas!
"He-Hei, kau mau apa?" Budi sedikit mundur beberapa langkah ke belakang. Ia menelan ludah sembari bersiap untuk menghindar secepat mungkin.
"Kombinasi untuk meredam taekwondo, halaman satu ...." Raya melangkah secepat kilat ke depan. Gadis itu lalu menerjang tubuh lidi Budi yang belum menyiapkan pertahanan apapun. "... double leg tackle!"
Bruk!
"Double leg tackle, tackle yang mengangkat kedua kaki lawan dan menjatuhkannya. Cara ini berguna banget buat pemula, karena nggak peduli meski musuhmu atlet sekalipun, dia pasti akan jatuh." Raya melanjutkan, "Ada dua kemungkinan agar step tackle ini berhasil. Yang pertama, mau nggak mau kau harus ngotot buat ngeluarin tackle. Apapun caranya, nggak peduli meski kau diserang hingga babak belur, kau harus bisa mengeluarkan tackle."
"Lalu, kemungkinan kedua, simple aja. Ini tergantung pemilihan tempat."
Budi dengan tubuh yang masih diselimuti rasa sakit masih larat untuk membuka mulut. "Pemilihan tempat?" Ia bertanya.
"Yah, kau tahu kan taekwondo itu martial arts yang mengandalkan kaki?"
Budi memegang dagu. "Iya ... terus?"
"Mereka menggunakan kaki sebagai penyerang dan penopang berat badan pada saat bersamaan. Tapi, ironisnya, taekwondo itu lemah jika diadu di atas air." Gadis itu masih terus berbicara, "Jika kau mengajak mereka bertarung di tengah-tengah derasnya hujan, taekwondo tidak bisa apa-apa."
"Eh? Iyakah?"
Tunggu dulu ...
Ia kembali teringat kepada point penting yang nyaris dia lupakan.
Tapi, apa Anda pernah dengar ini? Taekwondo memang beladiri yang masyhur karena seni indah kaki.
Namun, sayangnya, taekwondo lemah dalam keseimbangan. Jadi, pastikan untuk mengajak lawan untuk bertarung di tempat yang basah dan licin!
Budi memukul telapak tangannya dan berteriak pelan karena telah mengingat hal tersebut. "Ah! Benar! Jadi, segampang itu, ya?" Ia beralih menatap Raya. "Kalau kayak gitu mah, nggak usah repot-repot latihan begini. Tinggal ajak dia di tempat licin, tackle dan akhiri dengan ... apa tadi? Choke!"
"Hahaha! Optimis menang, fix menang!"
__ADS_1
Raya ternganga semakin keheranan. Mulutnya terbuka lebar, bahkan sampai membuat rahang bagian bawahnya menurun dan nyaris lepas. Ia tak bisa mengatasi lagi sifat aneh manusia berjakun ini. Rasa geram pun mulai muncul.
"Hadeh! Bener-bener! Tau gitu, aku nggak usah ngomongin tips itu." Raya menggelengkan kepala. "Bud, percaya deh. Kalo kamu nggak latihan mulai dari sekarang, kamu bakal kalah."
"Apaan? Mau nakut-nakutin lagi, hah? Udah deh, Raya ... kalau bisa mudah kenapa harus susah?"
"Nggak waras! Ya terserah kamu aja lah, tapi untuk sekarang, kau harus nurut!" Raya kemudian mencengkram kerah kaos putih yang dikenakan Budi, dengan posisi lengan menyilang. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah cowok itu. "Pokoknya perhatikan saja!"
Dalam posisi ini, laki-laki akan menjadi seorang laki-laki!
Pipi Budi memerah padam dan mulai salah tingkah. "He-Hei, Raya! Kau mau ngapain?!" Ia menatap manik mata gadis di depannya.
"Kombinasi untuk meredam taekwondo, halaman dua ...." Dia semakin memperkuat posisi, menempelkan tubuhnya pada dada Budi dan seolah sedang melakukan sesuatu di bawah sana.
Budi merasakan ada yang aneh di sini. Kelak, ia baru menyadari bahwa ternyata sedaritadi Raya tengah sibuk mengunci kakinya.
Ini?!
"... Gi-choke."
Raya menguatkan cengkraman jari-jemari tangannya dan mulai mempersempit ruang gerak leher Budi. Ia semakin menekan bagian tengkuk hingga membuat orang kurus itu nyaris tak berdaya. "Kheh! Aaarghhh!"
Budi merasakan rasa sesak yang amat sangat menyiksa. Ia kesulitan berbicara, tidak! Bahkan berteriak pun susah!
Napasnya tersenggal. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan. Budi hanya bisa terbawa arus, membiarkan tubuhnya dicengkram kuat oleh Raya dan membuatnya lemas tak berdaya.
Tak lama kemudian, Raya pun melepaskan cengkramannya dan membiarkan Budi membuka kembali akses masuk oksigen melalui tenggorokannya. Gadis itu berdiri di depan Budi yang masih tergeletak.
"Terserah kau mau menggunakan cara ini atau tidak, tapi percaya, nggak ada cara lain buat ngalahin taekwondo selain ini," ucapnya, "yah, meski kau mau ngajak dia ke tempat licin, tapi siapa tau kan, kau itu lemot, lemah, dan tulalit. Jadi, jangan kaget kalau kamu tepar nanti." Ia memandangi Budi.
Namun, pria muda dengan kesialannya itu tampak tidak menjawab. Mulutnya masih belum sanggup untuk terbuka. Matanya menatap kosong lantai tempat ini dengan pandangan sedikit kabur.
"Hah ... hahh ...." Hanya suara helaan napas yang terdengar memantul dari lantai.
Raya berjongkok setengah meter dari tempat Budi tergeletak. "Ku rasa, latihan hari ini udah cukup sampai sini aja. Maaf, aku berlebihan," ucapnya lalu membantu rekannya itu untuk berdiri.
"Tapi, bagaimana dengan latihan silatnya?"
"Udah ah! Jangan ngayal lagi! Cukup ikuti apa yang aku ajarin tadi, percaya deh. Kau bakal menang kalau berhasil," ungkap Raya menjamin.
"Ngg ... ya udah, deh." Meski masih merasa ragu, tapi untuk saat ini ia lebih memilih untuk menurut.
Ding!
[Misi selesai!]
[Hadiah : 2 kartu emas]
Buka kartu.
Ding!
[Kartu dibuka!]
[Selamat! Host mendapatkan teknik bertarung silat ]
[Selamat! Host mendapatkan teknik bertarung jiu-jitsu ]
__ADS_1
Eh?
~Bersambung~