
...\=•\=•\=...
Jam istirahat, di saat murid-murid lain tengah sibuk menyantap makanan di kantin, para anggota geng Tarantim justru berbondong-bondong keluar dari sekolah ini. Tentu saja, mereka tak mungkin langsung keluar begitu saja, keterampilan memanjat dinding yang telah dilatih selama ini pun mereka gunakan agar bisa melarikan diri tanpa perlu berhadapan langsung dengan sang satpam.
Para laki-laki dengan tatto dan tindik itu berjalan kompak bersamaan menuju tempat yang telah dikehendaki oleh para pemimpin SMA Taran lainnya. Dipimpin oleh Bagus, para anggota Geng Tarantim telah bersiap untuk menerima kemungkinan buruk yang mungkin akan terjadi nantinya.
"Gus, kita nggak bareng sama Reza sekarang. Jadi, apa kita tetep berani buat ketemu sama mereka?" tanya salah satu rekan Bagus dengan wajah penuh kekhawatiran.
Bagus menggelengkan kepala. Reaksinya tampak sangat berlawanan dengan manusia yang barusan melontarkan pertanyaan. "Harus. Kita harus berani!" ucapnya lirih masih dengan pandangan yang lurus ke depan, "walau tanpa Reza sekalipun, kita harus tetep mempertahankan SMA Taran Timur. Karena kita Geng Tarantim!"
Kalimat semangat yang diucapkan seketika memancing kobaran semangat dari para anggota geng lainnya. Rasa takut yang tumbuh karena membayangkan para musuh pun langsung lenyap. Mereka berjalan mengikuti Bagus dengan senyuman lebar yang menghiasi bibir. "Semangat!" teriak para berandal baik itu sambil mengangkat tangan di udara.
Selang beberapa menit melakukan perjalanan, akhirnya tibalah mereka di sebuah tempat yang memberikan kesan aneh bagi siapapun yang menatapnya. Di depan sebuah bangunan yang tampak belum sepenuhnya jadi, Bagus dan kawan-kawan berdiri. Mereka menatap kosong gedung itu.
Glek.
Keberanian yang telah didirikan susah payah, tiba-tiba kembali lenyap. Bagus kembali gemetar ketakutan saat mengingat kejadian dirinya yang ke sini terakhir kali.
__ADS_1
Saat di mana Reza nyaris dipermalukan oleh salah satu dari Pemimpin SMA Taran.
"Ck, kenapa mereka menggelar pertemuan saat jam istirahat seperti ini?" Seorang laki-laki bertubuh atletis terdengar sedang mengutarakan kekesalannya.
"Saya dengar, Alvaro yang memintanya, Bos."
Ia mengernyitkan kening. "Si sialan itu!"
Bagus berhenti sejenak. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa tidak berani untuk melangkah lagi.
"Uh ...."
"Hei, jadi pertemuannya di mana?" tanya laki-laki itu.
Bagus dan kawan-kawan pun seketika tersenyum lebar.
Sementara itu, di dalam tempat pertemuan. Terlihat beberapa orang sedang berkumpul bersamaan di sebuah tempat yang sama sembari menunggu kedatangan anggota lainnya.
"Hei, Taran Timur kapan datangnya?" tanya laki-laki yang juga sempat mengeluh di awal.
__ADS_1
Dialah, sang pemimpin SMA Taran Utara. Theo!
Sembari menghisap asap rokok, Alvaro menatap ke arah luar. Dia tampak tidak bersuara sejak awal ia menginjakkan kaki di tempat ini. "Entahlah," jawabnya.
"Apapun itu, lebih baik kita tunggu. Karena mereka mungkin memiliki masalah sendiri, ya kan?" Seorang laki-laki berkacamata menyahut.
Dia sang pemimpin SMA Taran Selatan, Abian.
"Menunggu apa, hah? Aku melawatkan jam istirahat hanya untuk menunggu pecundang seperti ini? Mulai saja sekarang!"
Tap.
Pada saat bersamaan, seorang laki-laki datang bersama beberapa rombongan berandal lainnya. "Kami bukan pecundang," tuturnya.
Yap, Budi bersama para anggota geng tarantim tampak menemui mereka dengan ekspresi wajah serius.
"Maaf, membuat kalian menunggu."
Mau tidak mau!
__ADS_1
~Bersambung~