
...*****...
"Jadi seru nih haha! Ayo maju sini! Aku mau liat, kemampuan bertarungmu sehebat apa!" Gerry menyeringai sangar memancing Budi agar segera menyerang.
Tak mau menunggu lama, Budi pun segera menyanggupi tantangan itu. Sebuah pukulan jab lurus menghujam keras perut lawan. Pukulan tadi mendarat mulus tanpa terkena tepisan sedikitpun. Membuat Budi merasa sangat puas dengannya.
Namun, rasa puas itu langsung lenyap saat ia mendapati bahwa pukulannya hanya menyentuh permukaan perut besar tersebut. Gerry terlihat tidak merasakan sakit sama sekali.
Bagaimana bisa? Budi membatin keheranan.
Tak mau berhenti sampai di sana, laki-laki itu kembali menghujam bagian perut Gerry dengan pukulan straight. Ia lalu menyertakannya dengan calf kick di akhir. Pola serangan yang sama dikeluarkan oleh Budi. Dia mengerahkan seluruh kemampuannya.
Jab, straight, calf, bahkan dwichagi dikeluarkan olehnya. Ia tidak peduli akan tempo serangan atau apapun. Budi hanya ingin melumpuhkan dulu musuh berbadan raksasa ini.
Akan tetapi, tampaknya semua tak sesederhana yang ia pikirkan. Meskipun anak itu berhasil mendaratkan serangan telak, Gerry tetap tidak bergeming sedikitpun. Ia masih tetap berdiri kokoh bak tembok besar.
Sembari menebar tatapan keji, laki-laki yang kerap disanjung dengan gelar 'Monster' itu mengulurkan tangan. Ia menarik kerah baju Budi secara tiba-tiba, mengakibatkan lawannya tak sempat mengelak. "Apa nih, ternyata kemampuanmu cuma segini, huh, Bu. Di?" Gerry lalu membanting tubuh Budi sekuat tenaga.
Bruk!
"A-Arghhh!"
Suara benturan antara tulang dan aspal mendominasi pendengaran. Arin yang menyaksikannya dari balik jendela pun langsung bergidik ngeri. Ia tak tahan lagi, gadis itu segera berlari keluar dari dalam ruangan sempit itu. Diikuti oleh Bagus dan kawan-kawannya.
Kembali lagi ke pada Budi. Bantingan itu memberikan efek yang jelas terasa baginya. Tiba-tiba, ia merasa bahwa tubuhnya telah remuk. Luka lecet pun mulai muncul pada bagian tubuhnya.
"Cih, ternyata cuma segini kemampuanmu? Yah, sia-sia deh aku jauh-jauh ke sini. Cuma satu serangan aja udah KO hahahaha!" Merasa telah unggul, Gerry lantas bersikap angkuh. Ia berjongkok untuk menyelaraskan tinggi badannya dengan orang yang tengah babak belur itu. "Hei, Bud! Dengerin ucapanku! Jangan pernah ngusik anak SMA Taran Barat, karena kami ini hewan buas," bisik Gerry.
"Murid-murid culun sepertimu itu, jangan sok-sokan jadi pahlawan. Atau kau, bakal mampus kaya sekarang ...," imbuhnya juga menyelipkan beberapa kalimat ancaman.
"Kheh ... haha ...." Di luar dugaan, Budi justru tertawa dalam keadaan gentingnya. Ia menunjukkan gigi putih yang sekarang telah berlumuran darah. "Hei, udahan yuk omong kosongnya," ujarnya sembari tersenyum aneh.
"Hah?!" Gerry yang menatapnya pun tak dapat berkata-kata.
"Kau pikir, aku udah kalah cuma gara-gara berdarah gini? Hahaha! Aku tadi cuma main-main biar pertarungan ini jadi lama," lirihnya, "tapi, kayanya aku harus mulai pertarungan yang sebenarnya sekarang."
"Apa sih? Ngomong nggak jel–Uoghhh!"
Tanpa mengucap kalimat apapun lagi, Budi langsung memotong perkataan Gerry dengan sebuah tandukan kepala. Memanfaatkan kelengahan Gerry, Budi gencar melakukan serangan.
Kembang taekwondo!
Dwichagi!
Tendangan belakang taekwondo menyusul di belakang. Meski tendangan itu terbilang tidak bertenaga, tapi, Budi berhasil membuat Gerry sedikit roboh.
Di sanalah, pertarungan dimulai.
Gunakan kacang pemulihan.
[Kacang pemulihan digunakan!]
[Stamina Host kembali pulih!]
"Buka kartu."
Ding!
__ADS_1
[Selamat! Host mendapatkan skill bertarung Taekwondo !]
[Selamat! Host mendapatkan pasif skill !]
"Balchagi, ya ... aku pernah dengar teknik itu. Keren," ucapnya sembari menyeringai.
Gunakan tips.
[Host perlu membayar 50 poin sistem untuk membuka tips]
[Apa Host yakin ingin tetap melanjutkan?]
[Ya/Tidak]
Ya.
[Tips dibuka!]
[Mengumpulkan data lawan]
[Gerry]
Kekuatan : 15/500 (D-)
Ketahanan : 7/500 (D+)
Kecerdasan : 16/50 (F-)
Kecepatan : 7/50 (F)
Naluri Bertarung : 28/50 (F)
Jab-Straight-Jab-Dwichagi-Balchagi]
Sesaat setelah menerima tips, Budi langsung bergerak maju. Ia mengumpulkan tenaganya pada satu momentum dan segera memukuli orang di depannya dengan kombinasi jab dan straight.
Gerry yang menolak terdesak pun lantas melakukan tindakan. Ia bergerak dengan tangan kanannya, berniat menangkap tubuh lawannya sekali lagi. Namun, Budi kali ini berhasil membacanya.
Ia mengelak sesaat sebelum tangan raksasa itu menangkap tubuhnya lagi.
Gunakan kapasitas maksimal.
[Kapasitas maksimal digunakan!]
[Seluruh kemampuan menyentuh tingkat C!]
Straight!
Budi melepaskan pukulan straight. Berbeda dengan sebelumnya, pukulannya kali ini telah dijalari oleh kekuatan dahsyat. Pukulan menyamping itu tepat mengenai sasaran. Membuat Gerry seketika terhenti.
Anak ini, bagaimana bisa pukulannya menjadi sekuat ini?!
Ia memegangi pipinya seraya meringis kesakitan. "Sialan!" pekiknya kepada laki-laki yang saat ini sedang berdiri dengan sorot mata tajam itu.
Di sisi lain, Arin dan anggota geng Tarantim tiba di lokasi pertarungan. Arin hendak melerai pertarungan, tapi ia langsung mengurungkan niatnya saat menyaksikan situasi saat ini.
Budi mencondongkan badan depan. "Hei, punya sapu tangan nggak?" Ia menebar senyum menyebalkan.
Gerry tak tahan lagi. Ia segera bangkit dan mulai menyerang.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi, Budi berhasil mengelak. "Jab!" Ia melepaskan jab lurus.
Lagi-lagi, Gerry terhenti. Namun, Budi masih terus maju menekan. "Dwichagi!" Ia menusuk dada lawan dengan tendangan dwichagi tersebut.
Pola serangan yang sama ditunjukkan oleh Budi. Setelah beberapa saat, tiba saat di mana Gerry akhirnya tak lagi larat menerima seluruh serangan Budi.
Ia tertunduk lesu di depan Budi. "Cukup, cukup, aku minta maaf!" Ia akhirnya mengakui kekalahannya.
Tetapi, apa Budi akan mengakhiri pertarungan hanya sampai di sini?
Tidak!
Ia masih belum mempertanggung jawabkan kesalahannya!
"Maaf? Nggak ada maaf buat orang bangs*t kaya kamu!" Budi memukul kepala Gerry sekali lagi. Lagi, lagi, lagi, dan lagi.
Gerry ingin melawan, dia ingin membalaskan rasa sakitnya. Namun, tubuhnya tidak bisa menuruti keinginannya. Ia hanya bisa pasrah. Menerima pukulan dan tendangan berulang kali dari orang yang ia rendahkan tadi.
"Pukulan tadi untuk membalas anggota geng Tarantim yang kau hajar." Budi melepaskan dwichagi hingga membuat jarak jauh di antara mereka.
Budi lalu bersiap dengan ancang-ancang. "Dan ... yang satu ini, untuk membalas ketidak sopananmu, Kepar*t!" Ia melompat sejajar dengan kepala lawan.
Gerakan itu diakhiri oleh tendangan depan yang tepat mengenai kepala Gerry.
Balchagi!
Budi memposisikan balchagi sebagai senjata pamungkasnya. Serangan itu benar-benar sukses menumbangkan Gerry secara kejam. Laki-laki gendut itu terkapar tak berdaya di atas aspal.
Sunyi, tidak ada respons apapun dari orang-orang di sekitarnya. Hanya suara dengusan napas kelelahan dari Budi.
"Ber-ha-sil!" Ia lalu bergumam gembira sebab merasa bahwa dirinya telah berhasil menyelamatkan SMA Taran Timur tersebut.
Namun, anehnya, tidak terdengar suara sistem yang mengatakan bahwa misi telah selesai. Budi terpaku sejenak. Ia berpikir mungkin sistem sedang rusak atau apa.
"Hei! Dia telah mengalahkan Ketua Gerry!" teriak salah satu murid anggota SMA Taran Barat.
"Sialan! Ternyata dia memang kuat!"
"Ayo bunuh dia!"
Teriakan yang menyerukan kebencian kepada Budi berentetan terdengar. Anak-anak berandal di bawah kepemimpinan Gerry itupun langsung berlari bersamaan. Seraya mengangkat tongkat kayu di tangan, mereka terus berteriak keras.
Budi yang saat itu masih dalam posisi memulihkan stamina pun kebingungan. Ia pasti akan mati, begitulah pikirnya. Ia tak larat bergerak lagi, bahkan berdiri pun susah.
Melawan orang sebanyak itu, tentu tidak akan mudah meski dia adalah seorang atlet sekalipun.
"Ba-bagaimana ini?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Ia menatap kosong para manusia beringas yang berlomba-lomba untuk mengabisinya.
~Bersambung~
Mikupedia sesi 1 : Apa itu Balchagi?
Tendangan balchagi adalah serangan fisik menggunakan kaki, serempak biasanya dengan area lutut atau lebih rendah menggunakan kaki, tumit, tibia, bola kaki, bilah kaki, jari kaki atau lutut. Jenis serangan ini sering digunakan oleh hewan yang dikeroyok serta manusia dalam konteks pertarungan stand-up.
Dapat dievolusikan menjadi sebuah tendangan berputar di udara. Biasanya, sering digunakan oleh para petarung yang memiliki kemampuan berputar. Contohnya antara lain ; Balchagi 360 derajat, Balchagi 720 derajat, Balchagi 1080 derajat, Balchagi 1440 derajat, dan lainnya.
__ADS_1